Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Harus Dewasa Sebelum Waktunya


__ADS_3

Setelah istirahat yang cukup, dan makan bubur serta minum obat, demam Luna pun berangsur-angsur turun. Namun Luna terus saja menangis, ia masih belum bisa percaya jika sang ayah sudah berpulang ke haribaan Ilahi. Rasanya sangat sakit sekali, bahkan Luna masih berharap jika ini masih mimpi buruk dan ia ingin setelah ia bangun nantinya, semuanya masih tetap sama seperti dlu, di mana sang Ayah masih ada.


"Sudahlah, ikhlaskan Ayah. Walaupun berat, tapi kita harus bisa menerima semua yang sudah Allah takdirkan. Umur manusia emang tidak ada yang tau. Untuk itu, jangan pernah menyia-nyiakan waktu untuk membahagiakan orang yang kita cintai. Karena setelah mereka tiada, maka penyesalan yang akan kita rasakan." tutur Lintang yang kini tengah menemani Luna. Sedangkan sang Bunda, setelah memastikan putrinya baik-baik aja, ia kembali ke kamar dan menatap foto dirinya dan sang suami. Bukannya tidak ikhlas dengan kepergian sang suami, tapi ia hanya rindu, karena biasnya jam jam segini, ia akan sibuk membantu suaminya untuk menyiapkan peralatan sebelum berangkat ke sawah mereka. Sawah yang dulu di beli oleh mantan menantunya, Ariel.


Luna hanya diam mendengarkan, ia masih terlalu lelah untuk membuka suara.

__ADS_1


"Sebentar lagi, Kak Dion akan datang. Aku harap, Mbak Luna tidak menyia-nyiakan Kak Dion lagi. Jangan sampai di usia Mbak yang sekarang, Mbak harus jadi janda untuk yang kedua kalinya, selain malu sama keluarga dan tetangga, aku juga kasihan jika Mbak harus terus menerus mengulang kisah dengan orang baru. Dan belum tentu, nanti orang yang Mbak temui, akan sebaik Kak Dion dan Mas Ariel. Belajarlah untuk jadi orang dewasa, belajarlah dari pengalaman dan jangan lagi meremehkan nasihat orang lain. Jangan selalu mengedepankan ego dan mengesampingkan akal pikiran. Karena itu tidak baik, sekarang Mbak harus istirahat, biar aku yang bersih-bersih rumah. Bunda juga sepertinya kurang sehat, Bunda juga pasti masih sok dengan kepergian Ayah. Bagaimanapun, Bundalah yang paling terpukul atas kepergian Ayah," ujarnya dan setelah itu, Lintang pun meninggalkan Luna sendiri, selain agar Luna merenungnkan kata-katanya, ia juga harus bersih-bersih karena bentar lagi, kakak iparnya akan datang. Ia tak mungkin membiarkan kakak iparnya melihat rumahnya yang bak kapal pecah, semuanya pada berantakan. Keluarga yang tadinya menginap, juga sudah pulang ke rumahnya masih-masing, begitupun para tetangga, mereka juga mulai sibuk dengan aktivitas mereka masing masing.


Setelah hampir empat jam Lintang bersih-bersih akhirnya beres juga. Ia istirahat sejenak, melepas rasa lelah. Setelah keringatnya kering, barulah dirinya mandi dan menyiapkan nasi buat ibu dan saudaraya. Ia membawa nampang masing masing ke kamar sang Bunda dan juga ke kamar Luna. Lintang menyuapi sang Bunda dengan telaten, awalnya sang Bunda tak mau makan, tapi karena Lintang memaksa dan menyuapinya, akhirnya sang Bunda pun membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan yang Lintang berikan.


Setelah sang Bunda selesai makan, barulah Lintang mengurus saudaranya itu. Ah, sekarang dirinya harus bener-bener dewasa karena kini hanya dirinyalah yang harus di andalkan, menggantikan posisi Ayahnya menjadi kepala keluarga.

__ADS_1


"Jangan gitu, Mbak harus sembuh untuk bisa menebus kesalahan Mbak Luna. Kalau Mbak Luna sakit, terus siapa yang merawatnya, sedangkan Kak Dion bentar lagi datang. Kemungkinan besar, Mbak Luna pasti akan di suruh balik ke rumahnya, bagaimanapun Mbak itu seorang istri, dan sudah seharusnya ikut suami kemanapun suami pergi. Dan jujur aja, aku gak ingin Mbak merepotkan Kak Dion. Mbak aja belum pernah merawat suami, masak sekarang, Mbak malah menjadi beban buat Kak Dion. Jangan bikin aku tambah malu, Mbak. Sekarang aku adalah pengganti Ayah, jadi aku harus tegas sama Mbak Luna. Walaupun aku seorang adik, tapi jika Mbak Luna kenapa-napa, maka aku dan Bundaa juga akan ikut kena getahnya. Jadi, mulai sekarang dan ke depannya, Mbak akan selalu aku pantau, bahkan jika Mbak tinggal di Bandung sekalipun. Aku gak mau gegabah, yang membuat semuanya makin rumit. Dan aku harap, Mbak pun juga jangan melakukan hal yang seenaknya. Tolong hargai Kak Dion sebagai suami dan jangan pernah melakukan apapun tanpa izin darinya. Sekarang ayo makan, aku gak bisa mengurus Mbak Luna terus, pekerjaan aku juga masih banyak," ujarnya tegas membuat Luna takut. Karena ini pertama kalinya, ia melihat adiknya setegas ini. Mungkin keadaan membuatnya harus bisa dewasa sebelum waktunya.


Luna pun akhirnya menurut dan mulai makan makanan yang di suapi oleh Lintang.


Setelah Luna selesai makan, Lintang kembali ke dapur dan menaruh piring kotor di wastafel. Lalu ia mengambil piring bersih dan mengambil nasi serta lauk pauk untuk dirinya sendiri, karena perutnya juga sudah perih.

__ADS_1


Lintang makan dengan cepat, ia seperti tidak menikmati makanannya, setelah selesai barulah ia segera mencuci semua piring yang numpuk di wastafel.


Selesai kora-kora ia pergi ke sawah dan melihat pagi yang sudah kuning, mungkin dua atau tiga hariĀ  lagi sudah harus panen, atau kalau di biarkan bisa bisa di makan burung dan malah dapat dikit.


__ADS_2