Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kandungan Luna


__ADS_3

Sebulan sudah Luna merawat Ariel yang tengah terbaring di rumah sakit, dan selama sebulan itu, belum ada perubahan sama sekali. Luna juga belum pernah pulang ke rumah dan menetap di rumah sakit untuk menememani dan merawat suaminya.


Noah sendiri sudah tak lagi menginap di rumah sakit, karena ia tak mungkin menginap satu ruangan dengan istri dari sepupunya sendiri. Jadi Noah memilih pulang dan ia akan datang pagi harinya, itupun hanya buat mengantarkan makanan untuk Luna.


Luna dan Noah kini sudah mulai akrab. Karena Luna sering memanfaatkan Noah untuk membeli apa yang ia mau. Dan Noah pun tidak keberatan, ia malah senang bisa membantu saudaranya untuk bisa memenuhi keinginan Luna dan bayinya. Bahkan Noah rela keliling ke sana kemari hanya untuk mencari makanan yang Luna mau.


Noah juga senang jika Ariel bisa dirawat langsung oleh sang istri, untuk itu ia tidak merasa lelah harus bolak balik rumah sakit-rumah setiap hari. Noah juga senang berada di luar saat Luna menyuruhnya untuk membeli ini da itu, bahkan Noah sengaja berlama-lama di luar sana agar waktu Luna bersama Ariel, semakin lama.


Noah cuma berharap Luna mau berubah fikiran dan merubah keputusannya untuk tidak menggugat cerai Ariel lagi. Yah, pada akhirnya Noah tau, jika saat ini proses perceraian itu tetap berjalan. Dan jika di hitung-hitung waktu Luna untuk bersama Ariel sisa dua bulan lagi.


Dan itu artinya, surat cerai keluar saat Luna melahirkan. Entah apa yang akan terjadi, jika Ariel tau, saat ia bangun, Luna bukan lagi istrinya. Melainkan sudah jadi mantan, mengingat hal itu, Noah tidak bisa membayangkan perasaan Ariel, ia pasti akan semakin terluka. Belum lagi jika Ariel ingat, bahwa Mamanya juga sudah tak ada lagi di dunia ini dan Papanya juga sekarang menjadi pendiam dan tak lagi peduli padanya. Bahkan keluarga besarnya pun juga seakan melupakannya.


Walaupun mereka tau, Ariel di rawat di rumah sakit, namun tak ada satu pun dari mereka yang mengunjunginya.


Sesekali Noah menangis, memikirkan nasib Ariel. Berbulan-bulan ia menderita karena ulahnya sendiri. Tapi mau sampai kapan Tuhan akan terus menghukumnya. Sedangkan Noah sendiri yang menjadi saksi, bahwa Ariel sudah sangat menyesali semua yang terjadi. Tidak adakah ampunan bari seorang hamba yang sudah menyadari kesalahannya.


Luna sendiri, ia semakin hari semakin kasihan melihat Ariel dengan keadaan seperti ini. Wajah Ariel semakin tirus. Tubuh yang hanya tinggal tulang dan kulit. Bahkan saat Luna membalikkan tubuh Ariel untuk ia seka pun, sangat enteng sekali.


Tak ada lagi tubuh kekar, tak ada lagi perut sixpack yang dulu sangat ia sukai. Semuanya hanya tinggal tulang dan kulit saja.


Kedua orang tua Luna juga sudah tau apa yang terjadi kepada menantu dan besannya itu. Hanya saja Luna melarang datang karena keadaan yang masih belum membaik. Awalnya orang tua Luna mau pergi menemui besan laki-lakinya, namun Luna melarang karena saat ini kondisi papa mertuanya lagi tidak baik-baik saja, dan tidak bisa menerima tamu siapapun. Jadi dari pada nanti orang tua Luna di abaikan begitu saja, Luna meminta agar mereka cukup mendoakan Ariel dan Papa mertuanya aja agar mereka bisa diberi ketabahan untuk melalui semua ini, terutama Ariel. Semoga Tuhan segera menyembuhkannya dan memberikan Ariel kesempatan untuk hidup dan memperbaiki semua kesalannya.


Hubungan Luna dan Dion pun juga tetap membaik, namun Luna mengurangi interaksi dirinya dan Dion. Baik itu chatan ataupun telfonan. Rasanya gak etis aja, mengangkat telfon di samping suaminya yang belum sadarkan diri. Dion yang mengerti keadaan Luna pun tak memaksanya, Dion hanya menelfon seminggu sekali, itupun cuma sebentar, gak sampai lima menit. Dan Dion juga cuma chat sehari sekali. Dion berusaha memahami keadaan Luna yang tidak mudah. Dion tidak akan bersikap egois, yang membuat Luna tertekan.


Luna menatap wajah Ariel, lalu ia memegang tangan Ariel dan menaruhnya di perutnya.


"Kamu bisa merasakan gerakan anak kita, kan?" tanyanya. Luna sengaja menaruh tangan Ariel agar Ariel bisa meraskan gerakan anak yang ada dalam perutnya.


"Dia sudah berumur tujuh bulan, dua bulan lagi, ia akan lahir ke dunia. Dan kamu akan resmi menjadi seorang ayah," ucap Luna lagi memberitahu.


"Nanti waktunya aku control. Kamu belum pernah menemani aku control, kan? Aku sebulan sekali, selalu rutin control untuk mengetahui perkembangan bayi kita, apakah dia baik-baik saja apa enggak. Hanya saja aku tidak tau jenis kelaminnya apa, karena aku sengaja tidak bertanya. Aku ingin dia menjadi kejutan untuk kita semua kelak. Aku harap dengan kehadiran bayi ini, kamu bisa segera sembuh dan Papa juga bisa terhibur dengan kehadiran cucunya dan tak lagi menjadi pendiam." Luna terus berbicara sambil terus memegang tangan suaminya dan menaruh diperutnya.


"Mas Ariel tau gak, sekarang aku gemuk banget. Mas Ariel pasti kaget kalau lihat aku yang sekarang. Berat badan aku tujah puluh lima kilo. Padahal dulu sebelum hamil cuma empat puluh lima ya. Kadang empat puluh dua, paling gemuk lima puluh kilo, itu pun jarang banget. Dan hampir gak pernah. Tapi sekarang, berat badanku melonjak drastis. Mungkin karena aku suka makan, terus suka ngemil setiap hari."


"Aku pengen diet, tapi sama dokter gak boleh, katanya bisa bahaya sama janin yang aku kandung. Dan entah kenapa aku merasa perutku itu juga besar banget, kayak orang yang hamil sembilan bulan. Aku sempat khawatir, tapi kata dokter, tidak apa-apa. Bayi kita sangat sehat. Jadi aku gak khawatir lagi."

__ADS_1


"Ah ya, baju aku yang dulu juga semuanya tidak ada yang muat, makanya aku sekarang lebih nyaman pakai gamis jumbo. Lebih enak aja makainya, pengenya sih pakai daster, tapi kan gak mungkin aku pakai daster di sini ya. Karena ada Noah, aku gak enak sama dia."


"Selama sebulan aku merawat kamu, aku cukup dekat sama saudara sepupu kamu itu. Noah itu orangnya baik dan sabar banget, perhatian juga sama aku dan bayi kita. Apapun yang aku mau, dia tidak pernah menolaknya. Bahkan saat tengah malam, aku minta sesuatu, ia selalu bilang iya. Dan mengantarkan makanan yang aku suka jam satu dini hari. Padahal aku tau, dia pasti ngantuk banget, tapi dia gak nolak ataupun datang dengan wajah cemberut. Dia selalu terlihat ceria dan selalu bertanya, apakah aku dan bayiku baik-baik aja."


"Saudara sepupu kamu itu baiknya kebangetan ya, dan kamu harus bersyukur punya sepupu seperti dia. Nanti jika kamu sudah sadar, kamu harus membalas kebaikannya. Ingatlah, di saat kamu sakit gini, hanya Noah yang peduli sama kamu. Dia adalah orang yang selalu mengutamakan kamu di banding apapun. Dan kelak jika Noah ada masalah, aku harap, kamu jadi orang pertama yang membantunya. Dan jangan pernah sekalipun mengeluh, seperti Noah yang juga tidak pernah mengeluh membantu kita."


"Beberapa hari yang lalu, aku denger Laras dibawa ke rumah sakit, keadaannya mengenaskan. Dia bahkan hampir saja keguguran, tapi untungnya bayinya masih mau bertahan dan baik-baik saja. Bayinya cukup kuat, dan jenis kelaminya laki-laki. Itu yang aku tau. Namun Laras masih dijaga ketat oleh Bapak dan Ibunya. Laras tidak boleh keluar rumah dan selalu di kurung di kamarnya. Katanya sih, Laras masih berharap kamu datang untuk menjemputnya. Kamu dulu menjanjikan apa padanya, sampai Laras seperti itu?"


"Jika anakku lahir dan anaknya Laras lahir, itu artinya mereka bersaudara. Karena mereka punya ayah yang sama. Aku gak tau harus sedih atau senang."


"Mas Ariel, proses perceraian kita masih terus berjalan. Dan waktu aku buat merawat kamu sisa dua bulan lagi. Aku harap, dalam waktu dua bulan kamu sudah sadar. Aku ingin kamu yang mendampingi aku saat melahirkan nanti. Walaupun hubungan kita sudah berakhir, tapi aku ingin kamu orang pertama yang menggedong anak kita, karena kamu adalah ayahnya. Aku ingin kamu yang mengadzaninya, bukan orang lain. Aku ingin kita bersama-sama mencari nama yang baik buat anak kita. Biar adil tentunya, karena kan yang buat kita berdua. Jadi, untuk nama, kita harus memikirkannya bersamaan. Tapi jika aku boleh meminta, jika kelak kamu juga memberi nama untuk anaknya Laras, aku harap nama anakku dan nama anaknya Laras itu berbeda jauh. Walaupun nantinya mereka itu saudara, tapi aku gak ingin nama anakku sama dengan nama anaknya. Aku gak sudi."


"Nanti kalau anak kita lahir, kita bisa bawa dia ke makam Mama Ila. Biar Mama Ila tau, jika cucunya itu sudah lahir. Mama Ila pasti seneng banget, Mama Ila kan dari dulu pengen banget punya cucu. Sayang ya, Mama Ila sudah gak ada. Kalau dia masih di sini, dia pasti yang paling antusias jika cucunya lahir ke dunia."


"Maafin aku ya, karena gara-gara aku membongkar aib keluarga kita di depan umum, membuat Mama Ila malu dan depresi hingga memilih mengakhiri hidupnya. Aku benar-benar minta maaf akan hal itu. Aku menyesal."


Saat Luna mengajak Ariel mengobrol, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Luna melihat ke arah pintu dan melihat NOah yang datang sambil terssenyum.


"Ini pesanan kamu," ucapnya.


"Makasih ya, kamu sudah makan?" tanyanya.


"Hmm, sudah tadi. Kamu apa-apaan sih mesen jengkol sama pete?" tanyanya. Noah emang kurang suka sama jengkol dan pete. Bukan mau protes tapi baginya jengkol dan pete itu adalah makanan yang harus ia hindari karena baunya itu bikin mau muntah.


Orang kalau sudah habis makan petai atau jengkol, pasti bau mulutnya bikin Noah pengen muntah, apalagi air seni atau air kencing orang yang suka makan petai dan jengkol, baunya kayak kurang sedap gitu, harus di siram berulang-ulang, biar gak menyebar jadi satu ruangan.


Dan jika habis makan petai atau jengkol pun harus sikatan dan makan permen, biar gak bau lagi.


"Ya gak papa, aku suka aja. Tenang aja, nanti aku pasti sikatan kok, lagian kamu sudah belikan aku permen, jadi baunya pasti hilang," ucapnya yang mencoba untuk mengerti jika Noah gak suka bau pete atau jengkol.


"Hmm ... iya sudah makan gih, kasihan bayi dalam perut kamu, takutnya sudah lapar. Susunya masih ada?" tanyanya.


"Masih kok, kemaren kan kamu beliin susu hamil lima dus. Cukuplah sampai beberapa Minggu ke depan. Jangan beli banyak lagi, takutnya mubadzir."


"Enggak papa, biar anak kamu sehat. Kamu kan bisa minum pagi dan malam hari sebelum tidur, biar cepat habis."

__ADS_1


"Hmm ya. Akuu bingung nih, mau makan apa dulu?" tanyanya sambil melihat makanan yang ada di hadapannya.


"Makan baksonya aja dulu, mumpung masih hangat, kalau sudah dingin gak enak. Nanti kalau sudah makan baksonya dan masih lapar, baru makan nasinya." jawab Noah.


"Iya deh."


"Aku ambilkan mangkoknya dulu." Noah pun mengambil mangkok, sendok, garbu dan air dari kulkas. Airnya gak terlalu dingin karena di taruh di pintu kulkas dan kulkasnya juga gak terlalul dingin karena suhunya di kurangi.


Luna sudah duduk di kursi yang lain, sedangkan di hadapannya sudah berjejer makanan yang ia suka.


"Ini mangkok, sendok, garbu sama airnya." Noah menaruh semua itu di hadapan Luna.


"Makasih ya."


"Sama-sama. Ini manggisnya dan rambutannya aku taruh di kulkas ya."


"Boleh. Nanti aku makan kalau pas lagi gangguk."


"Okay."


Noah membawa Manggis dan rambutan itu ke dalam kulkas. Di kulkas masih ada beberapa buah dan makanan yang lain. Yanag belum dihabiskan. Lalu Noah melihat ke rak di samping kulkas, ternyata camilannya sudah sisa sedikit.


"Itu camilan, kamu yang makan?"


"Iyalah, emang siapa lagi," sahut Luna sambil membuka bungkus plastik bakso dan menuangkannya di mangkok.


"Jangan terlalu banyak makan camilan, bukan melarang, tapi kaan kamu lagi hamil. Kalau bisa makan makanan yang sehat, makan buah itu lebih bagus. Setau aku, orang hamil itu harus lebih banyak makan buah, sayur, ikan dan daging. Bukan camilan gak sehat gitu," ucap Noah sambil berjalan menghampiri Ariel dan duduk di kursi samping brangkar.


"Iya, nanti aku kurangi." Luna pun mulai mencici bakso beranaknya, tanpa sambal, saos ataupun kecap. Karena Luna suka putihan. Selagi Luna makan, Noah tidak mengajaknya bicara lagi, takut jika nanti Luna akan tersedak jika makan sambil ngobrol.


Noah menatap ke arah Ariel dengan tatapan sendu.


"Kamu kapan sih bangun? Kamu gak capek tidur terus?" tanya Noah dalam hati. Ia gak berani buka suara karena takut menganggu Luna yang lagi makan. Jadi Noah hanya bisa bicara dalam hati.


Luna yang tengah makan, sesekali melihat ke ara Noah yang menatap sendu ke arah suaminya. Melihat hal itu, Luna mengerti peraaan Noah. Dia pasti sedih karena sampai detik ini, Ariel belum juga sadar.

__ADS_1


__ADS_2