Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ariel Kabur Dari Luna


__ADS_3

Luna dan Dion terus mengikuti mobil yang di kendarai oleh Ariel. Dion berusaha menjaga jarak agar tak sampai ketahuan. Namun mungkin karena mobilnya mencolok, Ariel seperti mengetahui kalau dirinya di ikuti sehingga Ariel masuk ke dalam gang dan saat di pertigaan ia langsung tancap gas.


Dion pun kehilangaan jejak di pertigaan itu, karena saat mau belok ke gang, dia harus berhenti dulu karena ada kendaraan yang lewat menghalangi dirinya.


"Maaf, Non," ucap Dion merasa bersalah.


Luna tersenyum, ia tau Dion sudah berusaha tapi mungkin emang belum saatnya ia mengetahui rahasia suaminya itu.


"Enggak papa, Mas. Mungkin belum waktunya. Kita kembali ke rumah aja ya," tutur Luna, ia tak ingin menyalahkan Dion karena ia yakin, Tuhan mungkin masih belum berkehendak untuk membeberkan rahasia suaminya saat ini. Tapi bukan berarti rahasia itu tidak akan terungkap. Karena sepandai-pandainya kita menutupi bangkai, pada akhirnya akan tercium juga.


"Iya, Non."


"Tapi kita lewat depan rumah Laras ya."


"Baik, Non."


Setelah itu, Dion pun fokus menyetir, sedangkan Luna mendengarkan musik galau yang membuat Luna menitikkan air mata. Melihat Luna menangis, hati Dion ikut sakit.


"Kenapa sih Mas Ariel berubah? Sebenarnya ada apa? Apa yang Mas Ariel sembunyikan dariku. Ada apa sebenarnya? Hhhh ... Padahal aku kangen, tapi rasa kesal seakan menggrogoti hatiku. Aku gak bisa tenang, sebelum teka teki ini terpecahkan," gumam Luna bicara sendiri.


Sedangkan Dion yang mendengarnya hanya diam, tak menyahut karena Luna tak mengajak dirinya bicara.


"Sebenarnya kurangku apa? Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang ****? Apa aku kurang liar di ranjang? Padahal aku yang selalu dominan di ranjang, sampai pinggang terasa encok. Tapi kenapa Mas Ariel berubah, apa karena dia tidak puas dengan pelayanan yang aku berikan? Apa karena aku suka duduk di perutnya? Aish ... Tapi kan aku suka," gumam Luna lagi membuat wajah Dion memerah. Walaupun umurnya lebih tua, tapi dia bahkan tidak pernah melakukan hal itu dengan wanita lain.


Jangankan melakukan adegan itu, bahkan peluk cium dengan wanita pun, tak pernah ia lakukan. Karena orang tuanya menjaga ketat dirinya. Baru berdekatan aja, sudah di kasih ceramah panjang lebar. Apalagi pacaran dan melakukan peluk cium. Bisa-bisa dirinya di usir dari rumah. Lebih parahnya jika dirinya sampai berzin. Ia yakin, orang tuanya akan murka dan mengutuk dirinya. Mana mau ia di kutuk.


Dion sadar, dirinya belum bisa membahagaikan orang tua. Untuk itu, jika dirinya belum bisa membahagiakan mereka, setidaknya dia tak ingin membuat mereka sedih dan kecewa karenanya.


Dan masalah perut, astaga. Ia baru tau jika Luna suka duduk di perut dan paling dominan di atas ranjang. Haruskah dirinya latihan, olah raga melatih otot perut. Siapa tau kan, cerai sama Ariel, Luna mau nikah dengannya.


Walaupun dirinya suka olahraga, tapi hanya olahraga biasa aja, agar tubuhnya tetap fit dan gak mudah sakit. Tapi sekarang, mungkin ia akan olahraga ngangkat beban-beban berat. Agar dirinya kuat dan terlatih.


"Mas Dion," panggil Luna.


"Iya, Non," jawab Dion gugup.


"Kenapa dia aja dari tadi?" tanya Luna kesal.


"Bingung Non, mau ngomong apa," balasnya sambil tersenyum canggung.

__ADS_1


"Huefftt ... capek aku tuh Mas. Gini amat hidupku."


"Jangan suka ngeluh, Non. Jalanin aja, banyak-banyak bersyukur juga karena banyak di luar sana yang hidupnya mungkin lebih sulit dari pada Non Luna," kata Dion memberikan nasihat.


"Iya juga sih. Tapi aku kok nyesel ya bawa Laras ke Jakarta. Niatnya mau nolong, eh gak taunya rumah tangga aku yang sekarang berantakan gini."


"Emang Non dah yakin, kalo Non Laras lag yang buat Tuan Ariel berubah?"


"Ya enggak sih."


"Kalau gitu, jangan seudzon dulu Non. Jatuhnya malah fitnah."


"Hehe ya. Makanya bantu aku cari tau ya."


"Siap, Non." jawab Dion tegas membuat Luna terkekeh melihat kelakuan lucu Dion.


"Tapi Non .... "


"Iya, kenapa?" tanya Luna.


"Misal, misal ya. Kalau Tuan Ariel selingkuh, Non akan minta cerai?" tanyanya pelan, takut jika Luna akan tersinggung dengan pertanyaannya.


Ya juga sih, ngapain bertahan.


"Hidup itu cuma sekali, Mas. Jangan sampai karena cinta, kita membuat hidup kita merana. Hidup itu pilihan, mau milih bahagia atau sebaliknya. Kalau aku sih ogah ya, hidup merana. Apalagi masa depan aku masih panjang," ujar Luna membuat Dion mengangguk setuju.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai depan rumah Laras. Kali ini Dion ikut turun karena penasaran ingin tau wajah Laras.


Sayangnya sampai disana, Laras tak ada di rumah lagi. Entah dia pergi kemana. Rumah benar-bemar sepi.


"Mas, boleh aku minta tolong?" ujar Luna.


"Minta tolong apa, Non?" tanya Dion.


"Pasangkan CCTV yang bisa langsung mengarah ke halaman rumah sampai ke jalan ya. Jangan lupa perekam suaranya juga, taruh di depan pintu. Tadi beli banyak kan?" tanya Luna. Dia emang gak nanggung-nanggung belinya. Sekali beli, langsung beli banyak. Entah buat apa sebanyak itu.


Luna juga beli kualitas paling top, tak heran jika Luna harus merogoh koceh cukup banyak. Tapi tak apa, asal teka teki ini bisa segera terpecahkan.


"Iya, Non."

__ADS_1


Untungnya alatnya kecil sekali dan samar, tak butuh kabel juga. Jadi memudahkan Dion melakulannya dengam cepat. Setelah itu, Dion menghubungkannya ke Hp Luna.


"Kita tes ya, Non," ujar Dion dan Luna mengangguk setuju.


Lalu Dion dan Luna ngomong di depan pintu, dan ternyata suaranya sangat jernih dan masuk ke Hpnya. Lengkap dengan gambar dan suaranya. Tapi ini jaraknya dua sampai tiga meter Non, kalau ngomong normal seperti kita. Kalau berbisik dan suaranya kecil, kurang nangkep.


"Enggak papa, yang penting kita sudah berusaha. Ayo pulang, sebelum Laras datang."


Setelah itu, Luna dan Dion pun segera pergi dari sana.


"Nanti nginep aja ya, Mas."


"Emang kenapa, Non?"


"Kalau Mas pulang, terus siapa yang akan bantu aku naruh CCTV dan perekam suara di mobil Mas Ariel?" tanya Luna.


"Aku yakut Tuan Ariel curiga, Non. Bagaimana kalau saya ajarin Non cara pakainya."


"Boleh."


Dan akhirnya setelah sampai depab rumah. Dion pun mengajari Luna cara memasang CCTV dan juga perekam suaranya dan bagaimana cara menghubungkannya di Hp.


Tak butuh waktu lama, setengah jam pun Luna sudah bisa melakukannya sendiri.


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama, Non."


"Doain ya semoga dengan adanya ini, aku bisa mencari tau fakta tentang mereka. Dan bisa kembali hidup tenang."


"Aamiin, Non."


"Iya sudah aku may masuk rumah dulu, Mas kalau harus atau masih lapar, minta aja langsung ke Bibi. Aku mau mandi terus istirahat."


"Iya, Non."


Dan setelah itu, Luna pun segera pergi menuju kamarnya. "Hari ini, aku mungkin belum ada bukti. Tapi besok, aku yakin semuamya akan terungkap. Dan aku gak sabar nunggu hari esok tiba."


"Bersiap-siaplah, kalian berdua. Jika sampai kalian beneran mengkhianati aku, maka tunggu balasan dariku. Jangan panggil aku Luna, jika aku tidak membalas rasa sakit aku," gumam Luna pelan.

__ADS_1


__ADS_2