
Dion sudah datang dari lima belas menit yang lalu, setelah berbasa-basi dengan Lintang, sang adik ipar. Barulah Dion, izin menemui Luna yang memilih diam di kamar dari pada menemuinya.
Padahal Lintang sudah dua kali, meminta Luna buat keluar dari kamar. Namun nyatanya, Luna seakan enggan mengikuti perintah Lintang dan tetap memilih diam seperti orang bodoh.
Dion berjalan menghampiri sang istri yang memegang foto ayahnya sambil menangis. Jujur, Dion sedikit merasa bersalah, andai dirinya gak menelfon Ayah Lukman malam-malam, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.
Tapi apalah daya, semua sudah terjadi. Menyesal pun percuma.
"Lun," panggilnya.
"Apa?" jawabnya singkat.
"Jangan nangis," ujarnya sambil menghapus air mata Luna. Walaupun dirinya sangat kesal, emosi dan marah. Tapi sekarang, bukan waktunya dirinya melampiaskan semua kemarahannya. Bagaimanapun ini bukan waktu yang tepat. Terlebih Luna pasti masih sok, atas apa yang terjadi.
Bagaimanapun kehilangan seorang Ayah, tentu tidaklah mudah.
"Kamu puas kan, Mas?" tanyanya dengan suara yang serak.
"Apa maksudmu?" tanya Dion tak mengerti.
"Kamu puas sudah bikin Ayahku meninggal?" ucap Luna lebih jelas.
"Kamu menyalahkan aku, Lun?" tanya Dion kecewa.
"Jujur, aku emang menyesal karena nelfon Ayah malam-malam. Kamu tau kenapa, saat itu aku emosi banget. Kita sudah dua Minggu lebih gak ketemu, kamu jarang menghubungi aku. Sedangkan jika aku yang menghubungi kamu lebih dulu, pasti kamunya gak angkat, gak bales. Aku capek berumah tangga seperti ini. Sesibuk-sibuknya aku, aku berusaha datang ke Jakarta menemui istriku yang mungkin lupa kalau sudah bersuami lagi. Tapi sayangnya, rasa rinduku yang membuncah, berharap bisa bertemu istri. Nyatanya aku lagi-lagi di buat kecewa, kamu gak ada di rumah. Aku nunggu kamu seharian, bahkan sampai malam, kamu juga gak pulang. Kamu tau bagaimana perasaan aku saat itu? Sakit, Lun. Sakit. Aku seperti pengemis, pengemis cinta. Aku seperti suami yang tak di anggap. Miris rasanya. Di sini, aku merasa, cuma aku yang berjuang buat rumah tangga kita. Sedangkan kamu, kamu terlalu sibuk dengan urusanmu.
Saat hampir tengah malam, kamu tak kunjung pulang, aku pergi ke resto, nyatanya kamu tak ada di sana. Aku lelah, lelah dengan rumah tangga tapi kita malah hidup masing-masing.
Aku akhirnya memilih pulang, sepanjang jalan. Hatiku sakit Lun, hatiku seperti tersayat. Kenapa hanya ingin bertemu sang istri, rasanya begitu sulit. Jangankan bertemu, bahkan untuk berbicara lewat telepon pun rasanya sangat susah. Kamu bahkan jauh lebih sibuk dari aku yang harus memimpin perusahaan besar. Yang harus memimpin ratusan karyawan.
__ADS_1
Kenapa? Kenapa harus aku yang di abaikan? Aku iri, saat di tempat kerja, teman-temanku membawa bekal bikinan sang istri, aku iri saat mereka membahas istri dan anak mereka yang ada di rumah. Sedangkan aku, hanya memilih diam mendengarkan.
Bahkan aku sangat iriz ketika teman-temanku membahas masalah ranjang, sedangkan aku sudah cukup lama berpuasa. Berbulan-bulan kita menikah, kita bahkan baru beberapa kali melakukannya, itupun kamu seperti terpaksa melayaniku.
Jangan bilang aku aku gak tau selama ini, aku hanya memilih diam karena malas bertengkar.
Aku capek menjalani hubungan seperti ini. Terlebih aku malu sama orang tua aku, aku malu sama Mami dan Papi aku. Setiap sarapan, Mami melayani Papi aku. Sedangkan aku, aku harus melakukannya sendiri, kadang hanya dilayani oleh asistenku.
Aku malu Lun, setiap mereka tanya tentang kamu, kenapa gak pulang. Bahkan kadang mereka menganggap aku tak ubahnya seperti masih lajang. Hanya status aja sudah menikah, nyatanya aku masih sendiri.
Tidur sendiri, makan sendiri, apa-apa melakukan sendiri. Tak ada yang melayani.
Jikapun ada, pasti asistenku.
Tapi aku juga tak mungkin selamanya bergantung pada orang lain, aku juga ingin merasakan di manja oleh istri, aku ingin di saat aku lelah, kamu bisa jadi pengobat rasa lelahku.
Aku ingin kita mengobrol santai setiap mau tidur, dan jalan-jalan seperti layaknya suami istri.
Jika memang ini adalah ujian rumah tangga, jujur aku gak sanggup. Ingin rasanya aku berhenti, tapi aku juga gak bisa. Selain aku malu sama keluargaku, aku pun juga sangat mencintai kamu.
Tak bisakah kamu berubah? Menjadi istri yang bisa aku banggakan di luar sana. Atau jika emang gak bisa menjadi istri yang aku banggakan, setidaknya jangan kecewakan aku.
Masalah Ayah, aku minta maaf. Aku tidak tau jika apa yang aku lakukan, pada akhirnya bikin Ayah tiada. Waktu itu, rasa emosi aku sudah meluap-luap. Sedangkan nomermu belum bisa di hubungi, aku gak tau kamu dimana.
Bayangkan, aku tidak tau keberadaan istriku sendiri ada dimana. Sedang apa? Dan bagaimana keadaannya? Aku gak tau, aku seperti buta akan semua hal.
Rasa emosi itulah yang membuat aku gelap mata, hingga menelfon Ayahmu malam-malam. Berharap Ayah bisa menasehati kamu. Jika aku sebagai seorang suami tidak bisa, aku berharap Ayahlah yang bisa menasehati dan mendidik kamu untuk bisa jadi istri yang baik dan sholehah.
Keinginan aku gak muluk-muluk kok, aku cuma pengen kamu menemani aku sarapan, menyiapkan baju kerja aku. Saat aku pulang kerja, kamu menyambut kepulangan aku, lalu kita ngobrol sebelum tidur, ngomong keseharian kita. Misal kamu jenuh, kamu bisa bantu aku di kantor. Atau jalan-jalan, tapi setidaknya jangan sampai hilang kabar. Dan usahakan, sebelum aku pulang. Kamu sudah ada di rumah.
__ADS_1
Aku tidak akan mengikat kamu seperti mantan suami kamu dulu, aku membebaskanmu. Tapi tolong, jangan lupakan tanggung jawab kamu sebagai seorang istri. Hanya itu.
Apakah aku salah? Ataukah keinginan ku berlebihan?" tanyanya dengan pelan. Namun cukup terdengar keras sampai di depan kamar Luna.
Karena pintu yang tidak tertutup, Lintang dan sang Bunda mendengar semua pembicaraan mereka berdua. Apalagi emang rumah ini tidak ada kedap suara. Jadi walaupun ngomong pelan pun, masih terdengar jelas.
Luna hanya diam mematung, ini pertama kalinya Dion ngomong sepanjang rel kereta api.
"Tapi tidak seharusnya kamu menelfon malam-malam Mas. Gara-gara kamu, Ayahku tiada," ujarnya
"Kamu masih menyalahkan aku ya?" tanyanya dengan tersenyum miris
"Andai aku tau, Lun. Andai aku tau, apa yang akan terjadi. Akankah aku melakukannya? Apa kamu fikir aku tidak sayang sama Ayah. Aku sayang sama Ayah, Lun. Aku bahkan sudah menganggap Ayah sama seperti Papi aku. Dari pada menyalahkan aku, kenapa kamu tidak introspeksi diri. Kenapa kamu mengabaikan tanggung jawab kamu, bahkan selalu bikin aku emosi dan darah tinggi. Andai kamu tidak mengabaikan aku, apakah mungkin aku menelfon Ayah saat hari masih gelap. Kamu fikir aku tidak waras?
Jika aku sampai melakukan hal tidak masuk akal, itu artinya kesabaranku sudah habis. Masih untung, aku tidak mempermalukan kamu depan semua orang, karena kamu sudah abai hingga suami kesepian.
Aku cuma berbicara baik-baik sama Ayah dan berharap Ayah mau menasehati kamu, hanya itu. Aku bahkan tidak melebih-lebihkan, aku berbicara apa adanya sesuai apa yang terjadi. Apakah aku salah?
Jika aku berbicara sama orang tua aku sendiri, bisa jadi Mami dan Papi aku semakin membencimu. Kamu mengabaikan aku aja, mereka sudah kecewa, apalagi jika aku mengutarakan perasaan aku ke mereka. Orang tua mana yang rela, anaknya di abaikan?
Aku tak ingin mereka semakin membencimu, Lun. Sedangkan aku sendiri juga sudah tidak sanggup lagi untuk mendidik kamu seorang diri. Itulah kenapa aku meminta bantuan Ayah kamu, yang mungkin jauh lebih faham dan mengerti sifat dan karakter kamu.
Karena jujur, aku sendiri pun kaget dengan sikap kamu yang sebenarnya. Dulu sebelum nikah, kamu selalu baik, perhatian dan selalu ada buat aku. Tapi setelah menikah, kamu seperti berubah seratus persen dan sikap kamu yang seperti ini, sudah bikin aku merasa menyesal. Tapi ya sudahlah, jika memang kamu masih mau menyalahkan aku. Aku minta maaf." ucapnya.
Luna hanya diam, di satu sisi, ia menyesal. Tapi di sisi lain, ia masih kesal, karena gara-gara suaminya, Ayahnya kini telah tiada. Ia bahkan tidak bisa melihat wajah terakhir ayahnya.
Sedangkan Lintang yang mendengarnya pun, merasa geram pada Luna. Bukan ini yang ia inginkan, padahal dirinya berharap Luna mau minta maaf. Tapi kenapa seperti ini? lagi-lagi Lintang di buat kecewa. Begitupun dengan sang Bunda. Andai dirinya tidak mendengar sendiri, mungkin dirinya gak akan percaya.
Bunda kembali ke kamar, sedangkan Lintang, ia juga pergi dari sana. Andaikan Dion saat ini mengembalikan Luna padanya, Lintang sudah ikhlas. Toh, memang kakaknya lah yang susah di nasehatin.
__ADS_1
Bukannya minta maaf, malah bikin masalah makin jadi runyam.