Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Misi Luna


__ADS_3

Keesokan harinya, sehabis sholat shubuh, Bibi Imah dan Luna pergi ke pasar. Luna pun sudah pamitan ke Ariel bahwa dia mungkin akan pulang jam tujuh. Luna juga berjanji akan membelikan sarapan bubur ayam yang sangat enak yang kini tengah viral. Mendengar hal itu, Ariel pun mengangguk setuju, ia bahkan memberikan uang cash ke Luna sebesar lima ratus ribu.


Bibi Imah dan Luna pun berangkat namun di pertigaan, Luna dan Bibi Imah memilih berpencar.


"Bibi, Bibi berangkat sendiri ya ke pasar. Ini uang buat Bibi. Nanti tolong belikan Bubur Ayam lima bungkus, sama jajan tradisional juga," ucap Luna memberitahu.


"Siap, Non. Tapi Non mau kemana?" tanya Bibi Imah.


"Aku ada perlu. Bibi bawa Hp kan?" tanya Luna.


"Iya, Non. Bibi bawa."


"Okay, misal nanti mau pulang, chat aku ya Bi. Ingat jangan pulang dulu, tunggu aku di sini."


"Iya, Non. Non mau mata-matai Tuan Ariel kah?"


"Iya, sekarang dia mau ketemuan sama Laras, Bi. Makanya aku mau mata-matai mereka," ucapnya yang akhirnya memilih untuk memberitahu.


"Oh gitu, siap Non. Semangat Non."


"Iya."


Dan setelah itu, Bibi Imah pun pergi sendiri, ia juga naik ojek pangkalan menuju pasar. Sedangkan Luna sembunyi di balik pohon tak jauh dari rumahnya.


Lalu Laras  mengirim pesan ke Bibi Neni.


"Bibi, Mas Ariel ada di rumah?" tanya Luna.


"Iya, Non. Belum keluar dari kamar."


"Bi, misal Tuan keluar dari kamar, chat aku ya, Bi."


"Siap, Non."


Dan setelah itu, Luna pun menaruh hpnya kembali dan terus menungu hingga sepuluh menit kemudian, ia mendapatkan pesan dari Bibi Neni jika Ariel sudah keluar dari kamar menggunakan celana pendek yang hanya sampai lutut dan kaos pendek. Serta sepatu olah raga, tak lupa jam tangan yang melingkat di lengan kirinya


Luna pun mengucapkan terima kasih dan menaruh hpnya di saku baju. Lalu dia mulai fokus menatap ke arah gerbang rumahnya. Dan benar saja, tak lama kemudian, Ariel keluar dari rumah itu.


Luna membiarkan Ariel berjalan lebih dulu, toh dia sudah tau tujuan Ariel kemana. Karena kalau Luna nekat membuntutinya, pasti Ariel akan curiga.


Saat ia tengah sembunyi, Hpnya berbunyi lagi, ada pesan masuk tapi bukan ke nomernya tapi ke nomer Ariel.


Luna tersenyum melihat hal itu, lalu ia pun membuka percakapan Laras dan Ariel lagi.


"Yank, aku sudah keluar rumah nih."


"Kamu ada di mana sekarang?''


"Otw ke taman."


"Okay, Luna kemana?"


"Sudah pergi ke pasar, bareng Bibi Imahh."


"Kamu yakin, kalau Luna ke pasar?"


"Yakin sekali karena dia mau beli bubur ayam yang tengah viral itu. Lagian juga, Luna emang sering kok nemenin Bibi ke pasar. Entahlah dia suka banget ke sana."


"Iya sudah kamu tunggu aku di taman aja, bentar lagi aku juga ke sana."


"Okay, aku nunggu di pohon beringin ya, kan di bawahnya ada kursi tuh,"


"Iya, Mas. Mau aku bawain apa?"


"Air mineral aja deh, takutnya nanti aku haus."


"Okay, siap."

__ADS_1


"Aku tunggu di taman ya, jangan lama."


"Iya, Mas."


Dan setelah itu, tak ada percakapan lagi. Luna pun mensrinshotnya lalu menyimpan di filenya. Baru setelah itu, ia berjalan ke arah taman dengan jalur yang beda agar tidak ketahuan oleh Ariel. Namun saat di tengah perjalanan, ia malah bertemu dengan Dion.


"Loh, Non. Mau kemana?" tanya Dion.


"Mau ke taman. Kamu sendiri kok ada di sini?"


"Hehe ya, Non. Lagi olah raga, jadi lari-lari dari tadi."


"Owh, kan jauh tempatnya."


"Sengaja emang Non, biar sehat dan kuat hehe. Kalau cuma lari lari deket rumah ya, sama aja bohong. Gak kerasa capeknya."


"Oh gitu, iya sudah lanjutkan. Saya masih ada urusan."


"Mau saya temenin Non."


"Enggak, nanti malah  hancur lagi misi aku kalau ada kamu."


"Loh Non sedang menjalani misi toh?"


"Iya, aku lagi mata-matai suamiku, dia mau ketemuan sama sahabatku di taman. Eh, kok aku malah cerita sama kamu sih," ujar Luna yang kesal pada dirinya sendiri.


"Hehe gak papa, aku seneng kok Non mau berbagi cerita sama aku. Kalau gitu, biar aku temenin ya, Non."


"Tapi ...."


"Sudahlah, gak papa. Siapa tau nanti kamu butuh bantuan aku, Non."


"Iya udah deh." Luna pun mengangguk pasrah, lalu mereka berdua pun berjalan ke taman.


"Eh, Non. Non seharusnya ganti baju."


"Ya biar penyamaran kita gak ketahuan Non. Kalau cuma mata-matai kan, kurang afdol, Non. Beda kalau kita mendekat."


"Terus gimana dong?" tanya Luna bingung.


"Bentar, Non. Tunggu di sini ya. Jangan kemana-mana." Dion segera pergi dari sana, entah apa yang dia lakukan. Luna pun tetap setia menunggu walaupun kakinya sudah gatal ingin melangkah lebih dulu ke taman. Namun ia gak mau ingkar janji dan membuat Dion kebingunan mencari dirinya.


Sekitar lima belas menit, Dion kembali membawa baju, gamis ukuran jumbo dan hijab panjang yang sampai lutut. Terus membawa rambu palsu, jenggot palsu, kaca mata, dan pelembab.


"Astaga, aku beneran pakai ini?" tanya Luna, saat Dion memberikan gamis jumbo itu lengkap dengan hijab panjangnya.


"Iya, Non. Jangan lupa kaca matanya sama sandalnya juga di ubah."


"Ya ampun, kenapa harus seperti ini sih?"


"Biar gak ketahuan, Non. Ayo, percaya sama saya."


Dan akhirnya Luna pun memakainya di depan Dion, karena ia memang gak perlu ganti baju, cukup pakai aja, sedangkan baju miliknya tetap di pakai. Ia juga memakai hijabnya, dan kini tampilan Luna berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sudah seperti emak-emak, apalagi warna gamis ini norak banget, warnanya pucat membuat tampilan Luna benar-benar gak sedap di pandang mata.


"Sekarang pakai sandal dan kaca mata ini," ucap Dion dan Luna pun hanya menurutinya saja.


"Pakai pelembab ini di wajah, tangan dan kaki Non."


"Astaga apalagi ini?"


"Ini biar kulit Non yang putih mulus itu, gak ketahuan. Kalau pakai ini akan terlihat kucel."


"Tapi ini bahaya, gak?"


"Enggak, Non. Aman. Kalau cuci pakai air bersih, nanti juga kembali ke awal," ucapnya meyakinkan.


Luna pun hanya bisa pasrah, entah kenapa ia percaya aja apa yang di ucapkan oleh Dion.

__ADS_1


Dion sendiri, ia gak perlu ganti baju, dia cukup membeli rambut palsu dan memakainya di kepala dan ia juga membeli jenggot palsu. Tak lupa kaca mata hitam biar makin keren.


"Nah sekarang kita seperti pasangan serasi, Non," ujar Dion membuat Luna terkekeh.


"Kamu dapat dari mana sih, kok cepet banget dapatnya?" tanya Luna penasaran.


"Itu biar jadi urusan saya, Non. Sekarang ayo kita pergi, kali ini kita gak akan ketahuan karena penampilan kita sudah berubah drastis," tutur Dion dan Luna pun menganguk setuju.


Mereka jalan dengan cepat menuju taman. Mereka sudah membuang-buang waktu sedari tadi. Bahkan mereka juga berlari agar cepat sampai hingga sesampai di taman, mereka sudah ngos ngosan terutama Luna. Padahal mereka rajin olah raga, tapi karena tadi larinya cukup cepat banget, hingga memakan banyak tenaga akhirnya mereka kelelahan bahkan jantung mereka pun berdebar kencang.


Karena ini hari Minggu, jadi di taman cukup ramai, setidaknya ini bagus buat mereka berdua. Entah karena ini kebetulan atau bukan, mereka mendapatkan kursi kosong yang tak jauh dari Ariel dan Laras.


Bahkan mereka cukup mendengar apa yang di bicarakan oleh mereka berdua walaupun suaranya gak terlalu kedengeran, hrus benar-benar fokus jika ingin tau apa yang mereka bicarakan.


Untung juga Dion sudah mengganti semuanya, sehingga tak akan membuat mereka curiga.


Diam-diam, Luna merekam mereka saat berpelukan dan saat Ariel dan Laras tengah makan saling menyuapi satu sama lain. Jangan di tanya bagaiaman Luna begitu geram hingga ingin menampar mereka berdua, tapi ia tahan agar misi ini berhasil. Bukti yang ia dapatkan masih belum banyak dan belum kuat, jadi ia gak akan gegabah untuk melabrak mereka saat ini.


Luna terus merekamnya dengan hati mendidih, sedangkan Dion sedari tadi curi-curi pandang ke arah Ariel dan Laras.


"Aku fikir Laras cantik, ternyata bahkan ia gak ada apa-apanya di banding Luna. Bagai langit dan bumi," ucap Dion mencibir dalam hati.


"Cowok ternyata emang bodoh, dari dulu yang aku lihat setiap kali nyari selingkuhan, pasti selingkuhannya itu lebih rendah dari pada istrinya. Kadang aku bingung, apa mata mereka rabun. Sehingga mereka selalu cari selingkuhan dengan standart kecantikan di bawah istrinya dan tentu masalah ahlak, istrinya masih nomer satu, karena selingkuhan mana punya akhlak yang baik, jika punya tak mungkin dia mau jadi selingkuhan suami orang.


"Mas, kok wanita gendut itu seperti Luna ya?" tanya Laras yang tanpa sengaja menoleh ke arah Luna.


"Mana?" tanya Ariel deg degan.


"Itu," ucapnya sambil menunjuk ke arah Luna. Luna yang tau dirinya tengah di perhatikan langsung mengarahkan kameranya ke tempat lain. Bahkan setelah itu, ia menaruh Hpnya karena ia takut jika Ariel mengetahuinya karena Ariel pasti ingat betul hp yang ia gunakan mereka apa dan warnanya apa.


"Haha kamu gila ya yank, ya kali istriku jelek gitu, gemuk, kusam, dekil, gak selera aku. Melihatnya aja bikin aku pengen muntah," ucap Ariel tertawa membuat Luna berdecih dalam hati.


"Iya juga sih," tutur Laras, walaupun dalam hati ia merasa wajah itu seperti wajah sahabatnya. "Tapi gak mungkin lah itu Luna, Luna kan cantik banget, gumam Laras dalam hati.


"Iya sudah ya, aku mau pulang. Takutnya Luna sudah sampai rumah," pamit Ariel


"Tapi aku masih kangen," rajut Laras membuat Ariel terkekeh.


"Nanti malam kan ketemu lagi."


"Tapi gak bebas, kalau ada Luna."


"Ya gimana kalau nanti kamu nginep aja, kalau aku ada waktu dan suasana aman, aku akan menemui kamu di kamar."


"Baiklah, nanti aku akan menginap di rumah kamu. Tapi gimana dengan orang tua Mas Ariel, bukannya besok mau datang."


"Ya kan datangnya mungkin jam sepuluh siang, kamu kan bisa balik ke kontarkan jam enam pagi sambil siap-siap berangkat kerja."


"Haish, aku sebenarnya males kerja, capek Mas."


"Sabar, kalau kamu berhenti kerja, nanti Luna malah curiga dan nyuruh kamu pulang kampung. Kamu mau kita LDR an?"


"Enggaklah."


"Iya sudah jangan banyak tingkah. Sekarang ayo kita pulang, aku gak mau Luna mencari aku. Aku ingin sampai lebih dulu sebelum Luna tiba."


"Iya."


"Kamu hati-hati pulangnya."


"Mas juga."


Dan akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Setelah kepergian Ariel, Luna pun bernafas lega karena mereka gak di curigai.


"Tuh kan berkat kita menyamar, kita aman," tutur Dion sombong.


"Iya, ya. Ayo kita pulang. Aku harus membuka gamis dan hijab panjang ini, lalul cuci muka, tangan dan kaki aku, gak enak banget rasanya, lengket," ucap Luna yang juga merasa jijik dengan tampilannya saat ini, benar-benar dekil banget. Kalau bukan karena ingin misi berhasil, sudah pasti ia akan menolak menggunakan hal seperti ini. Tapi ya sudahlah, setidaknya ia sudah berhasil merekam Ariel dan Laras yang tengah berpelukan dan makan saling suap suapan. Sungguh mereka sangat berani, padahal ini tempat terbuka, tapi mereka tanpa rasa malu, malah melakukannya di tempat umum seperti ini. Apakah cinta emang membuat orang pintar jadi bodoh. Bukankah jika sampai ada yang kenal, maka reputasi Ariel akan tercemar. Apakah Ariel sudah terlalu bucin hingga tak memikirkan itu semua.

__ADS_1


"Iya sudah ayo, kita buka gamis, hijab dan semuanya di tempat yang tadi, tak jauh dari sana ada kran air milik masjid, kamu bisa cuci di sana," ujar Dion dan Luna pun mengangguk setuju. Luna juga mengirim pesan sama Bibi, dan ternyata Bibi juga sudah selesai dan otw pulang.


__ADS_2