
Melihat Laras, membuat rasa benci Luna muncul, ia bahkan merasa jijik dengan wajah polos Laras itu. Ia merasa rugi, rugi waktu dan rugi uang. Bertahun-tahun bersahabatan dengan wanita yang ternyata menusuk dirinya dari belakang. Wanita yang hanya memikirkan dirinya sendiri hingga mengorbankan orang lain. Laras tak pantas di kasihani, tak pantas untuk dijadikan sahabat lagi. Ia seperti musuh, musuh dalam selimut.
Namun, Luna tak mungkin menunjukkan rasa bencinya, tak mungkin ia menunjukkan betapa saat ini, ia terlalu jijik untuk mendekat bahkan sampai berpelukan. Tapi, ia harus membuang rasa itu, membuang rasa egonya, demi sebuah misi besar yang harus berhasil.
"Ya Tuhan, Laras. Kamu kemana aja sih selama ini, kok sibukk banget?" tanya Luna sambil menghampiri Laras dan memeluknya. Laras pun membalas pelukannya.
"Maaf ya, aku sibuk banget, jadi aku gak ada waktu buat main ke sini, dan bertemu kamu," jawab Luna sambil melepas pelukannya.
"Tapi setidaknya kalau aku chat di balas, dong. Setiap kali aku chat, hampir semua pesan yang aku kirim, jarang kamu balas. Nelfon pun juga gak kamu angkat," ucap Luna membuat Laras tak enak hati mendengarnya.
"Iya, Maaf. Aku kan kerja dari pagi sampai malam, kadang sampai rumah aku sudah capek banget, jadi langsung tidur. Sedangkan bangun tidur, aku langsung mandi dan berangkat kerja ladi. Di tempat kerja juga kan gak boleh megang hp, jadi aku hampir jarang megang hp. Maaf ya, Lun," ujarnya berdusta. Luna dan Dion hanya mencibir dalam hati.
"Enggak papa, kok. Yang penting kamu baik-baik aja. Oh ya, waktu itu kamu sakit, kan. Gimana? Sudah gak sakit lagi, kah? Aku khawatir banget sama kamu. Aku takut kamu kenapa-napa," tutur Luna menunjukkan wajah sedihnya, jika Laras dan Ariel pandai berakting, maka Luna juga tak mau kalah dari mereka.
__ADS_1
"Aku gak papa kok, lagian aku gak sakit parah. Jadi santai aja."
"Syukurlah, tapi lain kali kalau sakit, bilang ya sama aku. Biar aku bisa jenguk kamu. Bagaimanapun kamu ke sini kan ikut aku, misal kamu kenapa-napa. Aku bingung bagaimana nanti cara menjelaskan ke keluarga kamu. Pasti mereka akan menyalahkan aku karena aku gak bisa jaga kamu dengan baik."
"Iya, aku janji ke depannya aku gak akan gitu lagi, tapi aku juga takut, aku akan ngrepotin kamu, jika dikit-dikit aku ngeluh sama kamu."
"Enggak papa kali, Ras. Kamu itu kayak siapa aja, aku ini kan sahabat kamu, bahkan kita juga sudah seperti saudara. Sudah sewajarnyalah kalau kita itu saling bantu. Lagian kita ini jauh dari keluarga, jadi sudah sepatutnya harus saling jaga satu sama lain, harus saling melindungi juga."
"Baiklah, kalau gitu, ke depannya aku gak akan sungkan-sungkan lagi misal aku butuh bantuan kamu."
"Oh ya, itu CCTV. Kamu kan tinggal sendiri di kontarakan, jadi aku takut kamu kenapa-napa. Makanya aku naruh CCTV di sana, biar kalau ada orang jahat, atau apa. Aku bisa langsung bantu kamu, rumah kita kan deket. Jadi aku bisa langsung meluncur ke rumah kamu. Aku merasa gak nyaman dan selalu takut, misal kamu kenapa-napa. Apalagi aku lihat di tiktok banyak sekali orang jahat, yang suka masuk-masuk rumah gitu, bahkan kadang bunuh orang tanpa alasan yang jelas. Apalagi anak-anak muda yang suka bikin onar. Asal bunuh orang yang gak bersalah. Setiap malam bikin gaduh di jalan, bahkan tak jarang, kadang memasuki rumah warga dan bersikap seenaknya. Aku gak ingin hal buruk terjaadi sama kamu."
"Oh jadi itu alasannya, ya sih aku juga buka tiktok, jaman sekarang bikin ngeri."
__ADS_1
"Iya dan yang bikin menyayat hati, anak-anak mudalah yang suka bikin onar yang umurnya bahkan masih belasan tahun gitu. Lebih tepatnya dari umur dua belas tahun sampai dua puluh lima tahun. Mungkin fikiran mereka ingin senang-senang dan ingin membuktikan siapa yang lebih kuat, yang lebih ganas, tanpa mereka tau, jika apa yang mereka lakukan itu sudah menghilangkan nyawa orang dan bikin orang lain terluka, menangis karena kehilangan orang yang di cintainya," ucap Luna menjelaskan, untung otaknya encer sehingga ia bisa mengarang dadakan seperti ini.
"Makasih ya, karena kamu perhatian banget sama aku. Aku bahkan gak kefikiran sama sekali ke arah sana."
"Jangan bilang makasih. Gak ada kata terima kasih di antara kita. Aku bantu kamu itu ikhlas, aku sayang sama kamu. Sudah kewajiban aku buat jaga kamu. Tapi misal kamu gak suka akan CCTV itu, aku bisa minta tolong Dion buat mengambil CCTV itu lagi."
"Enggak usah, aku seneng kok ada CCTV di situ, setidaknya misal ada apa-apa denganku, kamu akan tau."
"Iya sudah jika kamu gak keberatan," balas Luna tersenyum.
"Iya sudah yuk, sekarang kita mulai aja barbequenya," ucap Luna kepada yang lainnya.
"Mas Ariel dan Mas Dion bagian bakar dagingnya, aku dan Laras bagian bakar jagungnya. Bibi Imah dan Bibi Neni bagian bakar ikannya. Bumbunya juga sudah ada kan, jadi gak perlu bikin bumbu lagi. Oh ya, Bi. Lalapan sama nasinya mana?" tanya Luna ke Bibi Imah.
__ADS_1
"Itu, Non. Sudah Bibi siapkan semuanya, ada kerupuk juga, biar makin mantap." Bibi Imah menunjuk kemeja di mana di sana ada beberapa lalapan, sambal, bumbu bakar, dan juga ada kerupuk.
"Mantap, Bibi Imah emang gercep banget dah. Iya sudah yuk kita bakar bareng-bareng," ucap Luna. Tak lupa ia juga memutar lagu yang membuat suasana menjadi makin romantis dan semangat. Apalagi lampu yang terang menderang seperti ini.