Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ariel Ingin Menemui Luna


__ADS_3

Dua hari sejak Ariel keluar dari rumah sakit, saat ini ia akan pergi ke rumah Luna sekalian untuk mengembalikan mobil Luna. Walaupun mobil itu miliknya karena di beli pakai uangnya, tetap saja saat ini, itu mobil sudah jadi milik Luna karena Luna yang bawa mobil itu dari Jakarta ke Jember. Ariel yakin gak mudah tentunya berada di jalan berjam jam lamanya, terlebih dalam keadaan hamil, namun Luna nekat tetap memakai mobil dari Jakarta ke Jember. Dan gak mungkin setiba di Jember, Ariel akan merampas apa yang sudah  menjadi milik Luna.


"Kamu gak usah ikut ya," ucap Ariel yang tengah memakai baju barunya. Ya, semua yang ia pakai saat ini semuanya serba baru yang ia beli secara online karena males keluar. Bahkan ia juga menggunakan parfum baru yang wanginya lebih macho, dan harga parfum itu pun sangatlah mahal, satu parfum kecil seharga tiga juta lebih. Tapi tak apa, yang penting ia bisa merayu Luna dengan tampilannya yang sangat keren.


"Kenapa?" tanya Noah, yang lagi rebahan di atas tempat tidur, sambil main Hp. Setelah selesai olah raga, mandi dan sarapan pagi, ia memilih untuk rebahan dan sedang chatan dengan salah satu wanita yang kini tengah ia dekati. Hanya chat saja, karena Noah masih belum berani untuk menelfon apalagi vidio call. Ia terlalu malu untuk melakukan hal itu, berbeda jika chat, ia selalu lancar mengetiknya.


"Aku ingin sendiri aja ke sana."


"Tapi kalau kamu kenapa-napa gimana? Tau sendiri adik ipar kamu kalau sudah mukul, enggak kira-kira," ucapnya khawatir.


"Aku yakin, Lintang gak akan mukul aku lagi. Dia kemaren-kemarennya mukul aku mungkin lagi shok atas apa yang aku lakukan, sekarang pasti sudah gak sok lagi,  kan? Jadi dia gak mungkin berani mukul aku, lagian aku tau betul Lintang itu seperti apa. Dia sebenarnya gak tegaan orangnya," balas Ariel.


"Walaupun kamu sudah di pukul babak belur gitu, kamu masih bela dia ya?" pancing Noah.


"Aku bukan ngebela sih, aku cuma ngomong fakta aja. Misal aku jadi dia, terus aku tau saudara aku di sakitin, tentu aku akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih dari itu," jawabnya.

__ADS_1


"Syukurlah jika kamu sadar. Dan jika emang kamu siap bertemu mereka, aku hanya bisa mendoakan saja, semoga semuanya berjalan lancar, tapi aku harap, walaupun nantinya kamu hanya mendapatkan kekecewaan, jangan sampai bunuh diri ya," godanya membuat Ariel tersenyum kecut.


"Aku emang sudah bikin dosa besar, tapi bukan berarti aku punya keberanian buat bunuh diri. Gini-gini juga, aku takut mati. Ya kali aku mati langsung masuk neraka. Tobat belum, eh malah bunuh diri," ujarnya membuat Noah terkekeh.


"Sudahlah, jangan ngajak aku ngomong terus. Aku mau berangkat. Oh ya gimana, aku sudah cakep belum?" tanyanya.


"Sudah, capek banget. Apalagi parfumnya, dari jarak lima meter pun masih kedengeran."


"Syukurlah. Aku berangkat ya."


"Iya. Ingat langsung telfon aku jika butuh bantuan."


"Waalaikumsalam."


Setelah itu, Ariel pun segera pergi dari sana, tak  lupa ia mengucap basmallah dulu agar punya sedikit keberanian, karena jujur sebenarnya ia mreasa takut, grogi dan lain sebagainya. Tapi ia gak mau di anggap pengecut, apalagi sampai membawa Noah ke sana. Ia ingin menghadapi sendiri masalahnya, tanpa harus bergantung pada orang lain.

__ADS_1


Ariel menghidupkan mobilnya dan mulai mengemudi dengan pelan, tapi baru separuh jalan. Hpnya berbunyi. Ada panggilan dari Laras. Awalnya Ariel mengabaikannya, karena terus menerus nelfon, mau gak mau, ARiel pun mengangkatnya, karena ia takut jika ada apa-apa dengan anak yang ada dalam kandungan Laras.


"Ada apa?" tanya Ariel dingin, tak ada lagi suara hangat yang menyapa, yang ada hanya wajar datar, suara yang terkesan dingin.


"Kata dokter, aku sudah boleh pulang hari  ini. Mas jemput aku, kan?" tanyanya hati-hati.


"Enggak, aku sibuk," ucapnya dan langsung mematikan hpnya. Bahkan ia juga menon aktivkan hpnya biar Laras tak bisa menghubungi dia lagi. Mau pulang aja, kenapa harus nelfon dirinya. Padahal Laras bisa menelfon keluarganya untuk minta jemput, atau bisa pesan mobil online. Laras juga sudah gak bodoh bodoh banget hal seperti itu, tapi tetap saja ingin mengambil kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Ariel.


Akan tetapi, sayang beribu ribu sayang, Ariel tak akan percaya lagi padanya. Rasa itu benar-benar lenyap dari dalam hatinya. Yang ada saat ini, hanya rasa penyesalan yang begitu dalam karena sudah menyakiti istrinya.


Di pinggir jalan, Ariel berhenti di toko kue. Karena tak mungkin ia ke sana tanpa membawa oleh-oleh, malu sendiri jadinya.


Ariel membeli toko kue paling bagus, paling mewah, paling mahal tentunya. Setelah itu, ia membawa kue itu ke dalam mobil dan menaruhnya di kursi samping.


Karena takut kuenya jatuh atau gimana, Ariel pun mengurangi kecepatannya hingga cukup lama berada di jalan.

__ADS_1


Saat sampai di depan rumah Luna, entah kenapa lagi dan lagi ARiel merasa deg degan, ia merasa takut, takut jika kedatangannya akan membuat rasa sakit luna semakin menganga. Tapi ia juga datang dengan niat baik, ingin minta maaf atas apa yang dia lakukan selama ini.


Setelah hampir sepuluh menit berada di dalam mobil, Ariel pun turun sambil membawa kuenya. Ia berjalan dengan mengucap nama Allah, berulang ulang untuk mengurangi kegugupannya.


__ADS_2