Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Terbongkar


__ADS_3

Pagi harinya, setelah Ariel selesai sarapan, ia pamitan kepada Luna untuk berangkat kerja. Tentu Luna mengantarkannya sampai depan rumah dan tak lupa


membawakan tas kerja Ariel. Ia juga memeluk Ariel dan mencium bibir Ariel, karena ia tau, setelah ini, ia gak bisa melakukannya lagi jika sampai Ariel tega mengkhianatinya. Namun ia harap, apa yang ia fikirkan selama ini, hanyalah fikiran negatifnya. Tapi apapun itu nanti, ia akan kuat menghadapi semuanya. Ia tak akan menjadi wanita lemah yang harga dirinya di injak-injak.


"Hati-hati ya, Mas."


"Iya, Sayang."


"I LOVE YOU."


"Tumben bilang I love you, yank?" tanya Ariel menatap wajah Luna dengan aneh, pasalnya jarang Luna mengatakan hal itu.


"Pengen aja," jawab Luna tersenyum, senyuman manis yang ia berikan untuk sang suami.


"Iy sudah aku berangkat ya," jawabnya tanpa membalas pernyataan cinta dari Luna. Luna pun hanya tersenyum getir saat Ariel sudah pergi. Luna langsung masuk ke dalam, namun saat ia akan menutup pintu, tiba-tiba Dion datang.


"Non," panggilnya.


"Iya, Mas," jawab Luna sambil melihat Dion yang berdiri di depan pintu.


"Aku belum sarapan," jawabnya tersenyum malu membuat Luna terkekeh.


"Iya sudah masuk," Luna membuka pintunya lagi dan membiarkan Dion masuk.


"Langsung ke belakang aja, Mas. Minta sama Bibi Imah," tuturnya.


"Iya, Non. Ohya, Non hari ini mau keluar apa gak?" tanyanya sambil melihat ke arah Luna.

__ADS_1


"Enggak tau, apa kata nanti aja. Kalau gak ada kerjaan, tolong bantuin saya ya, nyiram tanaman sama pangkas daun-daun yang kering, biar terlihat bagus," pintanya.


"Siap, Non."


"Iya sudah aku ke kamar dulu. Tolong bilang ke Bibi Imah dan Bibi Neni, jangan ganggu aku. Aku butuh waktu sendiri di kamar."


"Siap, Non."


Setelah itu, Luna pun pergi ke kamarnya sedangkan Dion pergi ke belakang untuk sarapan. Sebenarnya bisa aja dia beli di luar, tapi entah kenapa ia datang pagi-pagi sekali agar bisa melihat wajah Luna. Dion sadar, dirinya sudah gila karena merindukan majikannya sendiri, tapi apa boleh di kata. Kadang perasaan emang gak bisa di atur, kepada siapa kita jatuh cinta.


Luna sendiri, ia duduk di atas kasur, sambil memegang hpnya. Dengan mengucap basmallah, ia pun membuka Hpnya. Pertama yang ia buka adalah kamera yang mengintai di mobil Ariel. Luna juga memakai headset biar bisa mendengar dengan jelas apa yang terjadi karena ia melihat Ariel tengah menelephon seseorang.


"Hallo, Sayang." ucapnya membuat Luna langsung meradang, namun ia tetap melanjutkan untuk mendengarkan suara suaminya itu. Sedangkan matanya menatap ke layar Hp.


"Iya, ini aku ada di jalan."


"Kenapa?"


"Oh, kalau gitu kita harus hati-hati."


"Ya, sebenarnya aku merasa bersalah juga, tapi ya gimana. Aku gak bisa ngatur perasaanku aku ke kamu sih."


"Sama, Sayang."


"Lagian bukan aku yang salah, tapi Luna. Aku padahal sudah setia, eh dianya bawa kamu ke aku. Nyodor-nyodorin kamu ke aku. Ibarat kucing di kasih ikan asin, mana mau di biarkan gitu aja. Aku juga manusia normal. Jadi dia gak bisa nyalahin aku. Karena dia yang bikin aku begini."


"Hahaha maaf-maaf."

__ADS_1


"Kalau gitu kamu pindah aja dari rumah itu, atau kamu minta seseorang buat cek, takutnya Luna naruh CCTV tersembunyi di depan rumah kamu. Untungkan ada yang ngasih tau kamu, kalau enggak, bisa ketahuan kita."


"Iya, kita ketemuan di tempat biasa aja kah?"


"Oh, jadi kamu mau kerja dulu nih?"


"Iya juga sih, kalau kamu sering absen, pasti karyawan akan curiga."


"Okey kita ketemuan setelah pulang kerja aja ya."


"Sip, di apartemen aku deh. Takut aku kalau di hotel."


"Iya, lagian bahaya kalau di hotel, nanti malah ada yang melihat aku, kan repot Imej aku bisa jatuh."


"Kalau kamu maunya gitu, ya lakukan aja yank."


"Oke, kapan?"


"Boleh, kalau kamu mau."


"Aku gak takut kok."


"Okey, siap."


"Emmmuah, Love you."


Setelah itu, Ariel menaruh hpnya di saku bajunya. Dan fokus menyetir lagi sambil dengerin musik romantis. Mendengar percakapan mereka, bohong kalau Luna mengatakan dirinya baik-baik aja. Luna merasa sangat terluka, tapi setidaknya ini lebih baik. Ia tak lagi berburuk sangka, karena memang apa yang ia fikirkan, kecurigaannya ternyata benar.

__ADS_1


Mendengar kata Ariel yang menyalahkan dirinya, membuat Luna terkekeh. Jika memang Ariel mencintainya, ia pasti akan setia, apapun alasannya. Tapi jika Ariel sampai tergoda, tentu cintanya selama ini hanyalah sebatas ucapan saja, tidak benar-benar dari hati.


"Awas kamu, Mas. Tunggu aja pembalasan aku," ucap Luna geram. Ia menghapus air matanya, rugi rasanya menangisi laki-laki yang tak mencintainya. Rugi dia menangisi Ariel sedangkan Ariel kini tengah bahagia dengan selingkuhannya yang tak lain sahabatnya.


__ADS_2