
Keesokan harinya, Ariel menitipkan Diana dan Dania ke Ariel dan Salsa karena dirinya akan pergi ke Singapura untuk menepati janjinya pada Zahra. Sedangkan Zahra sendiri, ia sudah pulang kemaren, agar dirinya bisa bersiap-siap.
"Emang kamu ngapain sih mau ke Singapura segala?" tanya Noah heran.
"Mau lamar seseorang," jawabnya santai.
"What? Mau lamar siapa kamu?" tanya Noah heran. Bagaimana tidak heran, kalau tiba-tiba gak ada angin, gak ada hujan. Ariel menitipkan kedua anaknya dengan alasan mau ke Singapura buar lamar seseorang. Siapa yang tidak akan terkejut di kasih berita seperti itu.
"Seorang wanita," balas Ariel.
"Aku tau dia seorang wanita. Ya kali kamu mau melamar laki-laki. Lucu dong, nanti malah pisang makan pisang," gerutu Noah kesal, sedangkan Ariel hanya tersenyum melihat saudaranya yang terlihat sangat kesal.
"Hmm itu tau."
"Maksud aku, kenapa dadak gini?"
"Aku juga gak tau."
"Kamu itu gimana sih?
"Kemaren ketemu di lift, terus ya terjadi gitu aja."
"Terjadi gimana? Kamu ehem ehem di lift maksudnya?" tebak Noah yang langsung mendapatkan jitakan dari Ariel.
"Kalau bicara asal jeplak aja," ucap Ariel tak suka.
"Habisnya kamu sih, ngomongnya dari tadi muter-muter gak jelas. Aku sampai pusing sendiri mengartikan semuanya."
"Kamu ingat kan dulu aku cerita ada yang melamar aku di sebelah aku,"
"Ya aku ingat. Tapi kenapa tiba-tiba kamuau lamar dia. Bukannya dulu, kamu sudah nolak dia?"
"Itu kan dulu, sekarang aku sudah menerima lamarannya. Dan kini aku akan melamar dia secara resmi di hadapan orang tuanya,"
"Astaga, jadi kamu akan menikah dengan tetangga sebelah apartemen kamu itu?"
"Yup."
"Tapi kenapa harus ke Singapura?"
"Menurut kamu kenapa?" tanya Ariel balik
"Ya pasti karena orang tua dan keluarganya ada di Singapura
"Nah itu kamu tau."
"Ah resek deh dirimu. Mau aku temani?"
"Engga deh, kamu fokus aja temenin kedua putriku."
"Jadi kamu sendiri pergi ke sana?"
"Ya. Emang kenapa?"
"Kamu gak takut?"
"Takut kenapa?"
"Misal kamu di tolak oleh orangtuanya."
"Ya misal di tolak, ya aku mundur."
"Enteng banget kamu ngomongnya?"
"Ya mau gimana. Masak mau di paksa."
"Ya berjuang dong."
"Gak ah, males."
"Wah kacau nih orang."
"Hmm aku mau berangkat dulu ya. aku titip Diana dan Dania."
"Okey siap."
"Kamu nanti tunangan dulu apa langsung nikah?"
"Entahlah apa kata nanti. Ini aja aku belum tentu di terima. Tapi jika pundi terima, aku pasrah aja deh, ngikut kemauan mereka aja."
"Iya udah deh, kamu hati-hati ya di jalan."
"Iya."
__ADS_1
Dan setelah itu, setelah baca basmallah
Ariel pun akhirnya pergi ke bandara untuk menuju Singapura.
Berbeda dengan Ariel yang kini tengah pergi untuk melamar seseorang. Di tempat yang berbeda, hubungan Luna dan Dion semakin harmonis.
Bahkan Luna juga sudah berbaikan dengan mertuanya.
Dion bersyukur akan hal itu.
Dan karena ini hari Minggu, maka Luna menitipkan Daniel ke mereka, bahkan Luna juga sudah menyiapkan ASI yang cukup karena Daniel seharian berada di sana.
Dan kini mereka hanya berdua di rumah itu. Dion dan Luna tengah duduk santai di ruang tivi sambil nonton Drakor.
Sebenarnya yang lihat Drakor cuma Luna, sedangkan Dion lebih fokus menatap ke arah Luna.
"Kenapa sih lihatin aku trus dari tadi?" tanya Luna risih.
"Kamu cantik," ucap Dion.
"Ck ... "
Memang sejak Luna melahirkan, berat badannya langsung turun drastis. Mungkin karena efek tekanan batin dan jarang makan, sedangkan dirinya harus menyusui terus membuat Berat badannya langsung turun banyak.
Bahkan kini berat badan Luna 57 kilo.
Dan sejak Dion kecelakaan, Luna merasa hidupnya kembali bahagia dan mulai menata asupan gizinya. Luna juga rajin olah raga di sela-sela menjaga Daniel.
Dan sekarang, berat badannya sudah mencapai 48 kilo.
Dion pun meminta Luna untuk tidak mengurangi berat badannya lagi. Karena terlalu kurus juga tidak enak di lihat.
Luna pun setuju, karena memang terlalu kurus juga tidak bagus. Tapi terlalu gemuk, juga makin tidak bagus karena harus pinter-pinter pilih baju.
"Di kamar yuk." ajak Dion.
"Iya udah sini. Duduk sini." Dion merebahkan tubuhnya di sofa panjang.
"Enggak," tolak Luna
"Hemm, mulai nolak lagi," tutur Dion.
"Ya ya." Luna akhirnya nyerah. Dia naik ke atas tubuh suaminya dan duduk nyaman di atas perutnya.
"Ck, sudah gak kayak kemaren."
"Enak, ini kamu keknya terlalu kurus deh."
"Haruskah aku tambahin lagi?" tanya Luna.
"Ya, tiga kilo sampai lima kilo," ujarnya.
"Baiklah, nanti aku akan makan sedikit lebih banyak dari biasanya."
"Ngadep aku dong," tuturnya.
Luna pun memutar tubuhnya dan menghadap ke arah suaminya yang super tampan.
Dion menekuk kakinya sehingga Luna bisa menyender kepahanya.
"Dulu kamu suka kayak gini kan?" tanya Dion.
"maksudnya?" tanya Luna.
"Saat sama mantan suamimu."
"Ck, ngapain bahas itu. Eh by the way. emang Mas Dion sudah ingat?"
"Hmm, tapi dikit," dustanya.
"Oh. Tapi kenapa yang di inga malah yang kek gitu sih."
"Emang kenapa?"
"Malu."
"Ngapain malu? Aku suamimu."
"Tapi gak semua wanita kayak aku."
"Ya, tapi aku yakin di luar sana ada beberapa orang yang emang punya sifa unik kayak kamu. Suka duduk di atas perut."
"Ya, soalnya enak sih."
__ADS_1
Mereka terus mengobrol satu sama lain, sambil sesekali Luna melihat ke arah tivi untun drakor.
"Lun," panggil Dion.
"Apa?" jawab Luna.
"Enggak papa," jawab Dion tersenyum. Sebenarnya ia ingin mengutarakan sesuatu. Hanya saja, ia takut para pembaca ilfil jika mendengar permintaannya.
"Apaan sih?" tanya Luna merasa heran.
"Emmm aku pengen berdiri."
"Berdiri dimana?" tanya Luna mengernyitkan dahi.
"Di atas perutku. Tapi hati-hati." ujarnya.
"What?" Luna kaget dan sok.
"Ayolah, bentar aja."
"Mas Dion yakin?"
"Iya."
Dan akhirnya Luna pun dengan hati-hati berdiri di atas perutnya, Dion sedikit meringis. Tapi entah kenapa ada sensasi yang luar biasa. Luna diam seperti patung, ia melihat wajah Dion yang tampak kesakitan tapi juga seperti menikmatinya.
(Hanya di lakukan oleh orang yang rajin olahraga seperti fitness dan yan lainnya, yang sudah biasa mengangkat beban berat, jadi tidak semua orang bisa melakukannya. Okey)
Setelah sekitar dua menit, barulah Luna turun dan duduk seperti semula.
Melihat raut wajah Dion yang tadi meringis tapi di telinganya seperti mende-sah membuat Luna jadi kepengen.
"Aish, aku ini kenapa sih?" tanya Luna kesal pada dirinya sendiri.
Luna menyingkap baju Dion, meraba dadanya yang sangat bidang itu. Dan setelahnya, ia mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir sang suami.
Dan akhirnya Dion pun mulai menikmatinya.
Dion tadi emang sengaja melakukannya, karena ia tau, kelemahan Luna sekarang.
"Kadang aku menyesal tidak tau dari dulu. Kalau kelemahan istriku ternyata seperti ini. Dia bahkan tidak malu-malu lagi untuk menyerang aku lebih dulu," gumam Dion dalam hati.
"Mas" ucap Luna dengan suara serak.
"Apa?" tanya Dion pura-pura bodoh. Entah kenapa melihat wajah frustasi istrinya, membuat Dion merasa gemas.
"Aish," Luna jadi kesal sendiri.
Luna tampak gelisah, seperti cacing kepanasan. Bahkan Dion bisa merasakan, hawa panas di atas perutnya.
"Pengen," ucap Luna yang akhirnya terpaksa ngomongin.
"Pengen apa?" goda Dion dengan sok polosnya.
"Itu," ucap Luna malu-malu.
"Apan sih, yang jelas dong," ujar Dion.
Mendengar hal itu, Luna jadi menjambak rambutnya sendiri sangking gemasnya karena mengira Dion gak peka.
Melihat istrinya menyakiti dirinya sendiri, Dion langsung menggenggam kedua yang istrinya.
"Mau berdiri lagi?" tanyanya.
"Enggak," ujarnya ketus.
Luna dari tadi gak mau diam, sampai-sampai Dion meringis lagi, "Sssssst,"
"Jangan gitu dong," ujar Luna kesal.
"Kenapa? Ahhh," akhirnya Dion mendesah membua Luna berang.
Sedangkan Dion sengaja melakukannya, sambil memejamkan matanya, dan sesekali melirik ke arah Luna yang Tampa frustasi.
Luna akhirnya mengecup bibir Dion lagi, "Haha satu kosong," ujar Dion dalam hati.
Entah kenapa, Dion sekarang suka menggoda Luna. Apalagi setelah tahu kelemahan istrinya, benar-benar membuat Dion merasa senang.
Luna menggesek-gesekkan dua bukit kembarnya ke dada Dion membuat Dion juga kepancing, akhirnya mereka pun melakukannya di sofa ruang tengah. Untungnya semua pintu terkunci, Sehingga mereka merasa aman.
Seperti biasa, Luna melakukannya di atas, setelah Luna puas, barulah posisi di Alik. Dion yang berada di atasnya.
Hubungan Dion sama Luna emang semakin membaik, bahkan Dion rela gak kerja, hanya karena ingin mengerjai istrinya itu.
__ADS_1
Apalagi dulu, ia jarang melakukannya. Tapi setelah tau, Luna begitu agresif, membuat Dion pengen trus memancing naf-su istrinya.
Entahlah, melihat istrinya yang merasa puas da kelelahan setelahnya, membuat Dion bahagia. Karena itu artinya, ia berhasil membuat Luna puas dalam segala hal terutama masalah ranjang.