
Jam empat sore, Ayah Lukman, Bunda Naira dan Lintang sudah tiba di rumah sakit, mereka bergegas pergi ke kamar Luna. Dan di sana, mereka melihat Dion yang tengah menyuapi Luna makan bubur karena Luna merasa lapar, mungkin efek kemaren dia tidak makan sama sekali, terlebih tadi malam ia sudah berjuang untuk melahirkan bayinya.
"Assalamualaikum," sapa mereka semua.
"Waalaikumsalam," jawab Dion dan Luna bersamaan.
"Ayah, Bunda, Lintang," Luna senang dengan kedatangan mereka bertiga.
Dion seperti ingin cari muka, langsung mencium punggung tangan calon Ayah dan ibu mertuanya dan melakukan tos dengan Lintang layaknya sesama pemuda dewasa.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Bunda Naira.
"Alhamdulillah aku baik, Bun," jawab Luna tersenyum senang.
"Anak kamu mana?" tanya Ayah Lukman.
"Ada di ruang NICU, Yah." sahut Luna.
"Tapi gak papa kan?" tanyanya.
"Enggak papa," dustanya karena Luna juga belum tau, karena ia baru sadar tadi pagi, dan ia gak ingin membuat orang tuanya itu sedih jika tau apa yang terjadi pada dirinya tadi malam.
"Perempuan apa laki-laki?" tanya Bunda Naira yang saat ini sudah resmi jadi seorang OMA.
"Perempuan, Bun."
"Siapa namanya, Mbak?" tanya Lintang.
"Diana Ariella Alfarizy," jawab Luna memberitahu.
__ADS_1
"Kok ada nama Ariella Alfarizi?" tanya Lintang gak suka.
"Kenapa, putriku kan memang anaknya Mas Ariel. Ariel Alfarizy Ilham," tanya balik Luna.
"Ya gak suka aja, apalagi sifat Papanya kek gitu. Mending pakai nama belakang Kak Dion. Toh bentar lagi, Diana juga jadi anaknya kak Dion," ujar Lintang.
"Ya gak bisa gitu dong, bagaimanapun Diana berhak tau kelak siapa ayah kandungnya."
"Buat apa tau, toh dia gak ada selama Mbak Luna hamil, kan?" tanyanya.
"Terus kelak jika putrikku menikah, siapa yang akan jadi wali nikahnya, kalau bukan Mas Ariel. Aku juga tidak akan memisahkan putriku dengan Ayah kandungnya sendiri, aku gak akan setega itu, walaupun Mas Ariel sudah bikin aku sakit hati," tuturnya membuat Lintang tak suka.
"Apa yang dibicarakan Mbakmu benar, Lintang. Kamu gak boleh egois. walaupun kamu tak suka sama ayahnya, tapi bukan berarti kamu membiarkan putrinya memakai nama keluarga dari pria lain, walaupun pria itu akan jadi calon ayah sambungnya," ucap Ayah Lukmah berusaha untuk bijak.
"Hmm." Lintang pun memilih diam karena kesal.
"Aku mau lihat keponakan akku aja, ada di mana?" tanyanya.
Dan kini mereka hanya bertiga di sana.
"Ariel dan keluarganya gak datang?" tanya Bunda Naira.
"Katanya sih datang bentar, saat aku buka mata mereka sudah gak ada, jadi aku gak ketemu sama mereka," jawabnya.
"Hemm kok bisa ada besan gitu. Masak gak pengen nengok menantu dan cucunya. Apalagi kamu baru aja mempertaruhkan nyawa kamu buat melahirkan," gerutu Bunda Naira tak terima, karena mereka seperti meremehkan putrinya yang sudah melahirkan cucu buat Ardi.
"Sudahlah, Bun. Yang penting kan aku dan putriku baik-baik aja."
"Iya kamu benar, untung kamu sudah lepas dari keluarga kayak gitu. Lama-lama, Bunda kesel sendiri bahkan nyesel pernah memberikan kamu dan dia restu," ujarnya masih bersungut-sungut.
__ADS_1
Ayah Lukman yang mendengarnya pun hanya bisa menghela nafas.
"OH ya gimana, kamu sudah resmi cerai?" tanya Ayah lukman.
"Iya, Yah. Tadi pagi aku baru dapat surat cerainya. Ini surat ceraiku dan Mas Ariel." Luna mengambil surat cerai itu dari tangan Luna.
"Hmm ... setelah ini gak perlu memikirkan mantan suamimu lagi, fokuslah sama anak kamu dan Dion, karena Dion akan jadi calon suami masa depan kamu. Perlakukan dia dengan baik dan jangan sesekali memasukkan wanita lain di rumah tangga kamu. Ingat itu," ujar Bunda Naira dan Luna pun menganggukkan kepalanya.
Mereka pun lalu mengobrol santai.
Hingga Dion dan Lintang datang.
"Kok anakmu mirip banget sama dia, Mbak?" tanyanya tak suka, tadinya ia berharap jika keponakannya itu mirip kakaknya, siapa yang akan nyangka, malah mirip pria yang tidak dia sukai.
"Ya kamu pengennya mirip siapa, Dek. Kan Mas Ariel ayah kandungnya," tutur Luna.
"Ya sih, tapi gak harus mirip banget seratus persenlah, ini malah mirip banget, cuma bedanya, Diana versi perempuannya," ujar Lintang tak suka.
"Sudahlah, lebih baik kamu istirahat aja. Ayah dan Bunda juga istirahat, kalian pasti lelah, setelah perjalanan jauh," ucap Luna karna ia merasa jika mereka seperti tengah emosi, mungkin karena lelah dan kurang istirahat juga.
"Ayah sama Bunda mau lihat anak kamu dulu, Bunda jadi penasaran," ujar Bunda Naira.
"Biar aku yang nganter, Bun," sahut Lintang yang sudah tau tempatnya.
Dan kini, di ruangan itu akhirnya Luna dan Dion berduaan lagi.
"Mereka kayak marah ya, Mas. Marah kenapa ya?" tanya Luna heran.
"Entahlah, tapi sepertinya mereka tak marah kok, cuma efek lelah aja. Besok juga pasti kembali seperti sedia kala," balas Dion mencoba untuk menenangkan Luna. Dan Luna pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Emang bener ya, Mas. Anakkuk mirip Mas Ariel?" tanyanya pelan.
"Iya mirip banget. Tapi aku yakin, nanti seiring berjalannya waktu, wajahnya pasti mirip kamu, kan kalau masih bayi, wajahnya emang suka berubah rubah," ujarnya dan Luna pun mengiyakan. karena dia pernah baca di buku, jika waajah bayi yanga baru lahir, itu nantinya akan berubah lagi yang tadinya mirip ayahnya, bisa jadi mirip ibunya. Tapi ada juga yang akan mirip ayahnya sampai dia besar, dan ada juga yang perpaduan ayah dan ibunya. Entahlah, tapi walauun putrinya mirip mantan suaminya, Luna akan tetap menyayanginya karena dia adalah jantung hatinya.