Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kesadaran Lintang Akan Kesalahannya


__ADS_3

Sesampai di rumah sakit, Ayah Lukman mendiamkan istri dan putrnya itu. Sedangkan Bunda Naira dan Lintang, mereka semakin merasa bersalah.


Mereka beriringan memasuki kamar Luna dan melihat Dion yang terlihat bercanda dengan Luna.


"Di saat kamu tertawa bahagia, ada hati yang terluka karenamu, Nak," gumam Ayah Lukman dalam hati.


Ayah Lukman, Bunda Naira dan Lintang mendekat ke arah mereka. Seperti biasa, Dion akan menyapa mereka lebih dulu dan beramah tamah.


"Kamu kapan boleh pulang, Nduk?" tanya Ayah LUkman.


"Hari ini, Yah," jawab Luna. Entah kenapa ia merasa jika adik dan kedua orang tuanya itu wajahnya pada suram, ada apakah kira-itu? Seperti itulah yang ada di benak Luna. Namun Luna memilih diam dan tak berani bertanya, ia bahkan bersikap seolah-olah tidak tau apa-apa.


"Nak Dion, kamu apa gak papa, meninggalkan pekerjaan kamu berhari-hari?" tanya Ayah Lukman sambil menatap ke arah Dion.


"Enggak papa Om. Jika pun ada pekerjaan yang mendesak, pasti akan di tangani langsung oleh orang kepercayaan saya di sana, terlebih ada Papi juga yang membantu mengawasi," balasnya tersenyum ramah.


Mendengar hal itu, Ayah Lukman pun diam.


"Aku mau lihat keponakan aku dulu ya," tutur Lintang sambil segera pergi dari sana.

__ADS_1


Setelah kepergian Lintang, mereka pun pada diam. Canggung, ya itu yang di rasakan oleh mereka semua.


"Ariel belum ada kabar, Lun?" tanya Ayah Lukman.


"Enggak ada, Yah. Nomernya Mas Ariel dan Papa Ardi gak ada yang aktiv, sedangkan aku chat Noah, gak di balas, aku nelfon gak di angkat," sahutnya.


Mendengar hal itu, Ayah Lukman merasa ada yang aneh. Dirinya juga nelfon besannya cowoknya juga gak mendapatkan respon. Mereka seakan sengaja menjara jarak, atau mungkin memutuskan silaturrahmi di antara mereka.


"Kalau sampai besok dia belum juga bisa di hubungi. Ayah akan ke rumahnya."


"Mau ngapain, Yah?" tanya Luna heran.


Mendengar hal itu, Luna diam.


"Terlebih sejak Mama mertuamu sakit sampai meninggal. Ayah dan Bunda bahkan tidak pernah datang ke sana, karena kamu tidak mengizinkan dengan alasan ini dan itu. Di tambah Ariel sakit sampai beberapa kali masuk rumah sakit dan berbulan-bulan di rawat di rumah sakit, setiap kami mau jenguk, juga tidak kamu izinin. Sekarang, mumpung Ayah dan Bunda ada di sini, jadi sekalian mau silaturrahmi besok ke sana, sekaligus mau ke makam Mama mertuamu itu," ucap Ayah Lukman.


"Iya, Yah," balas Luna. Luna sendiri, bahkan tidak pernah ke makam mama mertuanya. Padahal dulu Mama Ila sayang banget sama dirinya. Tapi karena sibuk dengan urusannya sendiri, ia bahkan sampai lupa untuk ke sana.


Mereka pun mengobrol santai, sedangkan Dion di sana hanya diam mendengarkan, namun sesekali ia juga angkat bicara. Misal di tanya.

__ADS_1


Sedangkan Lintang, ia melihat keponakannnya yang sangat mirip dengan Ariel itu, melihat Diana, entah kenapa, Lintang merasa bersalah pada mantan kakak iparnya itu.


Dia bisa akrab dengan Dion, yang masih belum jadi siapa siapa dalam keluarganya, tapi ia tidak pernah mau mengakrabkan diri dengan Ariel.


"Maafin aku, Mas," ucap Lintang dalam hati. Ia jadi ingat, saat dirinya memukul Ariel sampai babak belur dan masuk rumah sakit, padahal selama ini kakak iparlah yang diam diam membantu dirinya sehingga bisa sekolah di tempat favorit yang jelas spp nya sangat mahal sekali, kalau bukan karena kakak iparnya itu, ia bahkan tidak mungkin bisa duduk di sana dan sekolah dengan nyaman.


Kadang, tanpa sepengetahuan Luna, Ariel juga mentranfer uang buat orang tuanya. Luna tak tau karena Ariel selalu bilang, 'jangan sampai kasih tau Luna'. Ariel emang gak pernah mengizinkan kakaknya pulang ke jember, sejak menikah, mungkin karena efek posesifnya itu, sehingga kakaknya selama ini terlihat terkekang. Padahal sebenarnya itu adalah wujud cinta Ariel kapada Luna. Bahkan dirinya yang merupakan adiknya pun, tak jarang di cemburui. Sampai dirinya kadang merasa kesal. Padahal kan gak mungkin merebut Luna dari tangannya. Tapi ya namanya bucin, akhirnya yang lain cuma bisa mengalah dan sabar.


"Andai dulu Mbak Luna mendengarkan kata Ayah dan Bunda, untuk tidak bawa Mbak Laras ke Jakarta. Mungkin kejadiannya gak akan seperti ini. Aku selalu menyalahkan Mas Ariel, padahal Mbak yang bikin masalah lebih dulu, sudah membantah omongan suami, tidak mau mendengarkan nasihat orang tua pula. Padahal Mbak Laras orangnya emang ganjen, tidak bisa lihat orang tampan. Aku aja risih. Apalagi Mas Ariel. Ahhhh ... terlebih Mbak Laras dari dulu selalu bikin ulah, makanya gak ada yang mau nerima dia kerja di desa ini, karena tau matanya yang jelalatan itu."


Lintang tentu tau, bagimana sifat dan watak Laras, gimana gak tau, jika Laras seringkali jadi perbincangan orang-orang. Bahkan pernah kepergok menggoda suami tetangganya sendiri hingga akhirnya di labrak. Untungnya tak sampai rame karena bisa di selesaikan dengan cara kekeluargaan.


Luna gak akan tau itu, karena dia kuliah dan nikah di Jakarta. Dia dan Laras cuma berhubungan lewat komunikasi, jadi dia gak akan tau sifat aslinya gimana. Kalau masih SMA, mungkin masih malu-malu, walaupun sifatnya sudah mulai ketebak. Tapi makin ke sini, makin liar. Itulah kenapa Laras kadang seringkali di marahin orang tuanya, bukan tidak sayang, tapi karena Laras lah yang selalu bikin ulah.


Tinggal satu atap sama laki-laki tampan dan mapan, gak mungkin kalau Laras akan diam aja. Walaupun mungkin, dia merasa takut dan segan awalnya, tapi melihat sikap Luna yang selalu baik sama semua orang, tentu akan di manfaatkan oleh sahabatnya yang tidak tau diri.


"Mbak Luna ... Mbak Luna. Rumah tangga adem ayem, malah di buat berantakan karena bawa bibit penyakit. Sekarang, setelah terserang penyakitnya, baru menyalahkan sang suami. Padahal ketiga tiganya, semuanya salah. Tapi aku malah selalu menyalahkan Mas Ariel dan membela kakakkku sendiri. Bahkan mendukung hubungan Mbak Luna dengan Kak Dion. Aish, kenapa aku jadi bodoh gini. BEnar, gara gara aku akan dapat kakak ipar sultan dan di beliin barang mewah, aku mudah klepek-klepek. Benar kata Ayah, aku matre," gumamnya pada dirinya sendiri.


Lintang pun pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri, karena selalu membela kakkanya dan mengabaikan fakta yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2