Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Rumah Sultan Dion


__ADS_3

Luna sangat menikmati perjalannya, setelah berhenti tiga kali, akhirnya mereka sudah sampai di Bandung di rumah Dion. Dan betapa kagetnya Luna saat tau rumah Dion bahkan berkali-kali lipat dari rumah Luna dan Ariel. Bibi Imah dan Bibi Neni pun sangat tercengang dengan apa yang mereka lihat. Mereka tak menyangka jika Dion adalah seorang sultan dan kekayaannya sangat berlimpah. Namun kenapa Dion memilih menjadi seorang sopir dari dapa menikmati kekayannya yang berlimpah ini. Apakah Dion terlalu bosan hidup bergelimang harta hingga memilih untuk menjadi orang sederhana. Luna, Bibi Imah dan Bibi Neni pun tak habis fikir dengan apa yang ada dalam fikiran Dion.


Saat mereka sampai di gerbang, sudah ada dua satpman yang membukanya lebar-lebar dan bahkan saat Dion melewati mereka, mereka langsung menundukkan kepalanya dengan senyuman.  Dion pun membalasnya dengan menganggukkan kepala  kecil, tentu kaca sebelah kanan ia buka agar bisa melihat mereka sekilas.


Saat memasuki halaman rumahnya, lagi-lagi Luna di buat tercengang, bahkan halamannyapun seperti lapangan sepeda bola sangking luasnya. Luna menatap Dion yang hanya terlihat biasa aja. Saat Dion baru saja mematikan mobilnya, empat orang dengan sigap langung membuka pintu kanan kiri, depan belakang. Seakan mereka tau jika di dalam mobil itu ada empat orang.


Dion pun turun bersama dengan mereka. Dan lagi-lagi orang-orang yang ada di sana menaruh hormat. Luna masih tetap diam karena sangking kagetnya, sampai bingung mau ngomong apa. Begitupun dengan Bibi Imah dan Bibi Neni.


Saat sampai di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya.


Dan ada banyak pelayan yang sudah berjejer layaknya memberikan hormat, ada sekitar dua puluh pelayan kanan kiri.


"Ayo masuk, Non. Bibi Imah, Bibi Neni," ucapnya mempersilahkan mereka masuk. Luna pun menganggukkan kepala sambil tersenyum kaku begitupun dengan Bibi Imah dan Bibi Neni.


"Selamat datang Tuan Dion," ucap seseorang laki-laki paruh baya, umurnya sekitar empat puluh tahunan.


"Hmm. Papi sama Mami mana?" tanyanya ramah.


"Tuan besar dan Nyonya besar lagi keluar Tuan. Tapi sejam lagi mereka akan tiba," jawabnya sambil sedikit membungkukkan badanya.


"Suruh pelayan menyiapkan tiga kamar dan jangan lupa siapkan makan siang yang enak buat tamuku," tuturnya.


"Siap, Tuan."


Dan setelah itu, Dion mengajak merek ke suatu ruangan dan ternyata ruangan itu merupakan ruang tamu, hanya saja ruangannya agak masuk ke dalam. Dan ternyata ruang tamunya itu berhadapan dengan taman samping rumah, dan saat  gorden di buka, terpampanglah keasrian di samping rumahnya, bahkan ada air pancur juga yang sangat megah. Ada juga kolam ikan yang tentunya harga ikannya pun bisa jutaan sampai puluhan juta.


Luna, Bibi Imah dan Bibi Neni pun duduk di sofa empuk itu. Sangat empuk sekali, sampai rasanya Luna pun betah duduk di sana lama-lama. Awalnya Bibi Imah dan Bibi Neni, duduk di lantai, namun Dion meminta mereka duduk di sofa. Dan akhirnya mereka pun mengiyakan permintaan tuan rumah itu.


"Kenapa kamu gak bilang Mas, kalau kamu ini kaya?" tanya Luna yang merasa dirinya tengah di permainkan.


"Non Luna gak tanya, Non cuma nanya saya berasal dari mana. Enggak ada yang nanya saya kaya apa enggak, kan? Jadi saya memilih untuk diam selama tak ada yang bertanya," jawabnya sambil duduk.


"Tapi kenapa kamu memilih menjadi seorang sopir, jika kamu aja lebih kaya dari Mas Ariel?" tanya Luna lagi. Ia sudah gak tahan untuk bertanya sedari tadi.


"Karena saya bosan aja tinggal di sini. Saya bosan harus mengurus banyak berkas. Saya ingin punya pengalaman yang berbeda, saya ingin bebas dari semua yang berkaitan dengan perusahaan. Saya ingin menikmati hidup ini, sesuai dengan apa yang saya inginkan. Setidaknya jadi sopir bikin saya senang dan saya bebas dari berkas yang bikin otak saya panas karena setiap hari yang saya lihat hanya komputer, laptop dan tumpukan berkas yang tiada habisnya. Saya capek setiap hari selalu menemui client dan berbicara formal. Saya ingin istirahat sejenak dengan menitipkan semua tanggung jawab saya kepada orang kepercayaan saya," jawab Dion tanpa ada yang di tutup-tutupi.

__ADS_1


Luna yang mendengar hal itu pun hanya bisa diam, ia gak bisa egois dan menganggap Dioon penipu. Karena Dion berhak memilih menjadi apa dan bekerja sebagai apa.


Saat mereka tengah berbincang, empat pelayan datang membawa minuman, makanan, kue, buah dan yang lainnya.


"Aku malu," ucap Luna setelah empat pelayan itu pergi.


"Malu kenapa, Non?" tanya Dion mengernyitkan dahi.


"Malu karena selama ini aku memperlakukan kamu kurang baik. Aku nyuruh kamu  makan di belakang, ngajak kamu makan di lantai bareng Bibi. Kamu pasti risih kan, saat aku mengajak kamu rujaan sambil lesehan. Kamu pasti gak suka kan cuma makan sama nasi dan lauk yang sederhana?" tanya Luna.


Mendengar hal itu membuat Dion menggelengkan kepalanya.


"Non gak perlu malu. Malah saya senang bisa seperti ini, hidup seperti yang saya jalani saat bersama Non, Bibi Imah dan Bibi Neni. Saya bisa belajar hidup dari Non, bagaimana menghargai orang lain, dan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain. Non mengajari saya banyak hal, dan itu membuat saya bersyukur bisa menjadi sopir pribadi Non Luna," ujarnya.


"Tapi tetap saja aku merasa gak enak. Dan jangan panggil aku Non, panggil aja aku Luna. Kamu ga pantas manggil aku Non, nyatanya kamu lebih kaya dari aku," omel Luna yang masih tidak terima. Entah karena hormannya yang kini tengah mengandung atau apa sampai rasanya Luna ingin emosi terus.


"Loh gak boleh gitu dong, bagaimanapun Non itu majikan saya. Dan saya adalah sopir pribadi Non, jadi selama saya masih bekerja jadi sopir, maka selama itu pula saya adalah sopir Non Luna."


"Haish, mulai detik ini aku pecat kamu jadi sopir aku," ucap Luna tak suka. Membuat Dion bengong. Sedangkan Bibi Neni dan Bibi Imah pun juga ikut tercengang mendengarnya.


"Loh Non kok gitu? Terus nasib saya gimana? Lalu siapa yang akan mengantar Non ke Jember."


"Enggak, saya gak setuju. Saya tetap akan bertanggung jawab mengantar Non sampai tujuan. Dan setelah itu kita bisa balik lagi ke Jakarta. Setelahnya, tak apa jika Non emang ingin memecat saya karena sudah berbohong sama Non Luna." ucapnya sedih karena ia gak mau pisah dari Luna, ia sudah terlanjur mencintai Luna dan gak mau kehilangan Luna. Terlebih ia tau saat ini Luna tengah banyak masalah dan rumah tangganya pun sudah di ujung tanduk. Mungkin tak lama lagi Luna juga akan jadi janda, lalu bagaimana mungkin Luna tega memecatnya begitu saja, di saat dirinya sudah nyaman dengan pekerjaannya karena bisa melihat Luna setiap hari.


Kemaren aja gak bertemu rasanya ia rindu setengah mati, apalagi jika gak ketemu selamanya. Mungkin ia akan patah hati selamanya.


"Mas Dion dengerin aku, aku emang akan memecat Mas Dion sebagai sopir aku. Sebagai gantinya, Mas Dion jadi teman atau sahabat aku. Posisi itu jauh lebih baik dari pada seorang sopir. Dan lagi, Mas Dion tetap bisa nyetir mobil kok, hanya saja bedanya, Mas nganterin aku sebagai teman, bukan lagi sebagai seorang sopir," tutur Luna tersenyum, ia tadi hanya ingin mengerjai Dion saja.


"Kalau gitu saya mau, Non."


"Jangan panggil NOn, panggil Luna saja."


"Baik Lu ... Luna," ucapnya kaku membaut Luna, Bibi Imah dan Bibi Neni terkekeh.


"Ayo Bi minum dulu, ini makanannya juga di cicipi, kalau perlu di habisi, jangan sungkan. Ini kue khas Bandung loh. Jarang-jarang Bibi bisa makan kue ini kalau gak ke sini," candannya. Dion berusaha untuk mencairkan suasana agar tak lagi merasa canggung.

__ADS_1


Bibi Imah dan Bibi Neni pun tersenyum melihat keramahan Dion, mereka juga takjub karena walaupun Dion seorang sultan, namun sikapnya sangatlah ramah.


Sejam kemudian, orang tua Dion pun datang. Dion memperkenalkan mereka semua.


"Papi, Mami." Dion mencium punggung tangan ornag tuanya, Luna pun melakukan hal yang sama. Cuma Bibi aja yang cuma tersenyum sambil menganggukkan kepala, karena sungkan juga kalau mau melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Luna dan Dion.


"Kenapa baru pulang, dasar anak nakal," ucap Mami Ocha sambil menjewer telinga Dion layaknya anak kecil.


"Aduuh Mami, jangan jewer aku dong. Malu tau," ucapnya berusaha menjaduh dari Maminya. Ia malu di perlakukan seperti itu di depan luna. Luna sendiri hanya terkekeh melihat sikap Dion seperti anak kecil. Ia baru tau jika sikap Dion seperti ini jika di depan orang tuanya.


"Mami kenalin ini Luna, majikan  aku.  Dan INi Bibi Imah dan Bibi Neni yang aku ceriakan itu di HP," ucapnya memperkenalkan diri. Luna menatap Dion tajam, karena ia mengatakan kalau Luna itu majikannya, padahal barusan mereka sudah sepakat akan jadi teman.


"Ya Allah jadi ini yang namanya Luna, sangat cantik sekali. Pantas kamu betah di sana dan gak mau pulang," sindir Mami Ocha.


"Kenalin, saya Mami Ocha, Maminya Dion. Maafin Dion ya jika Dion suka bikin kesal, kadang dia memang gak bisa di tebak sikapnya. Kadang baik, kadang juga bikin orang kesal setengah mati," ujarnya membuat Dion mengerucutkan bibirnya karena Maminya menjelek-jelekkan dirinya di depan Luna.


"Salam kenal, Tante. Saya Luna, temannya Mas Dion."


"Lo katanya majikannya?" tanya Mami Ocha sambil melihat ke arah Dion.


"Ah itu, saya dan Mas Dion tadi memutuskan jadi teman aja, karena saya merasa gak enak kalau Mas Dion jadi sopir saya, dia terlalu kaya untuk jadi seorang sopir, Tan. Jadi saya akan menganggap Mas Dion jadi teman aja, jadi di sini gak ada majikan atau bawahan lagi," tuturnya mencoba menjelaskan.


Mami Ocha tersenyum mendengarnya, Luna begitu lembut dan juga ramah. Dia juga sangat cantik sekali. Pantas jika setiap kali di telfon, Dion selalu memuji Luna dan sering menceritakan kebaiakannya sampai Mami Ocha pun mulai penasaran dan kini ia bisa menilai, Luna emang orang baik. Sayangnya ia mendapatkan pasangan yang tidak baik. Ya, dia sudah tau semuanya. Karena Dion selalu menceritakan apa saja yang ia lalui selama di Jakarta.


"Makasih ya, Sayang. Karena selama ini kamu sudah memperlakukan Dion dengan baik. Walaupun Dion sudah dewasa,  namun sebagai seorang Ibu, kadang Tante seringkali merasa cemas jika berjauhan seperti ini. Bagi Tante, Dion masih seperti anak kecil yang harus Tante jada dan lindungi. Terima untuk semuanya."


"Sama-sama Tante," jawab Luna yang bingung mau ngomong apa.


Mami Ohca juga menyapa Bibi Imah dan Bibi Neni. Ini pertama kali mereka bertemu namun Mami Ocha langsung akrab sama mereka, mungkin karena selama ini mereka juga sudah memperlakukan putranya dengan baik di sana. Papi Dimas pun juga berusaha mengakrabkan diri bersmaa mereka. Orang-orang yang selama ini ada buat putranya selama berada di Jakarta.


Jam dua belas siang. Mami Ocha mengajak mereka untuk makan siang, dan menunya pun seperti di hotel bintang lima. Sangat mewah. Bibi Imah dan Bibi Neni pun juga makan satu meja dengan mereka semua. Mereka menggunakan meja panjang dan ada dua puluh kursi makan di sana, jadi masih banyak kursi kosong yang tidka terpakai.


Selesai makan, Dion menyuruh mereka istirahat siang di kamar yang sudah di siapkan. Selagi mereka istirahat, Dion pun memanfaatkan waktu buat mengobrol dengan orang tuanya dan melepas rindu sama mereka.


Jam tiga sehabis sholat ashar, mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju wisata di Kota Bandung, tak lama hanya sekitar sejam aja di sana. Setelah itu, pergi ke wisata lainnya. Walaupun sebentar-sebentar, paling tidak Luna bahagia karena sudah datang ke wisata yang sangat ingin ia datangi dari dulu. Kelak, Luna janji akan datang ke sini lagi dan menikmati semuanya sampai puas, tidak sesingkat seperti tadi.

__ADS_1


Jam sembilan malam, mereka baru keluar dari Bandung. Luna, Bibi Imah dan Bibi Neni pun sudah tidur pulas mungkin karena kecapean. Dion sendiri tadi siang sempat tidur walaupun hanya setengah jam, jadi ia tidak mengantuk sama sekali. Apalagi ia juga membeli permen dan air untuk menemani dirinya selama menyetir. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Dion mencari masjid lalu membangunkan Luna, Bibi Imah dan Bibi Neni untuk sholat shubuh dulu.


__ADS_2