
Hari ini Ariel sudah bisa pulang dari rumah sakit. Sebelum pulang dia masih menyempatkan menjenguk Laras, bukan karena dia masih mencintainya, tapi ia lakukan semua itu demi janin yang ada dalam kandungan Laras, bagaimanapun itu buah hatinya. Jadi ia gak bisa untuk menutup mata dan membiarkan buah hatinya itu kelaparan dan lain sebagainya. Ia akan bertanggung jawab untuk memenuhi nutrisi si Janin, agar bisa lahir dengan selamat dan tanpa kurang satu apapun.
"Hari ini aku sudah boleh pulang," ucapnya sambil duduk, kali ini ia tak perlu pakai kursi roda, namun ia juga masih menggunakan tongkat untuk pergi kemana mana karena kaki kirinya masih terasa sakit dan gak bisa di gerakkan sedangkan tangan kanan sudah mulai pulih walaupun kadang juga terasa sangat sakit sekali.
"Mas pulang kemana?" tanya Laras, bagaimanapun ia harus tau kemana Ariel akan pergi, karena dirinya juga cepat atau lambat, pasti juga akan segera di pulangkan dari rumah sakit. Dan ia tak mungkin pulang ke rumah orang tuanya karena ia sadar betul, orang tuanya pasti akan mengusirnya bahkan mungkin sebelum di usir, ia akan di maki habis-habisan.
"Aku gak tau," jawabnya. Karena memang ia masih belum mengambil keputusan mau tinggal di mana. Noah bilang, saudaranya juga sudah pulang naik travel kemaren pagi, begitupun karyawannya. Sedangkan kedua orang tuanya juga sudah pulang tadi malam setelah ia mendatangi rumah Luna untuk meminta maaf secara langsung pada Luna dan keluarganya atas kebejatan dirinya. Ariel sebenarnya merasa bersalah, ia tau betul pasti orang tuanya malu atas apa yang sudah ia lakukan selama ini. Apalagi vidio itu, Oh Tuhan, entah bagaimana Aril mengucapkannya, tapi ia sendiri pun malu menyaksikan kebrutalannya saat melakukan hubungan itu dengan Laras.
"Kok gak tau, terus aku gimana?" tanya Laras menampakkan wajah sendunya, mungkin jika Ariel akan merasa kasihan berbeda dengan Noah yang merasa sangat muak dengan sandiwara yang tengah Laras lakukan.
"Emang kenapa dengan kamu?" tanya Ariel tak mengerti.
"Aku harus pulang kemana setelah aku keluar dari rumah sakit? Aku gak punya rumah. Bapak, Ibu serta saudara-saudara aku pasti benci banget sama aku, karena aku sudah buat mereka malu. Aku pasti akan di hina dan di caci maki oleh mereka, belum lagi dari orang-orang sekitar, aku gak akan sanggup untuk melalui semua itu sendirian. Dan lagi, jika aku kembali ke Jakarta, pasti rumah itu sudah Luna ambil alih, karena dari awal Luna lah yang membayar rumah kontrakan itu dan aku hanya numpang di sana," ucap Laras menjelaskan.
'Sudah tau numpang, tapi gak sadar diri,' gumam Noah dalan hati. Dari tadi dia hanya diam mendengarkan.
"Tapi kondisi aku juga masih begini, hubungan aku sama Luna juga lagi memburuk. Bukan cuma kamu yang takut, aku juga takut akan kemarahan Mama dan Papa aku, kemarahan keluarga besar aku. Jadi kamu hadapi dulu masalah kamu itu, jangan terus menerus merengek seperti anak kecil. Ingat ini semua terjadi karena kamu, karena kamu yang goda aku hingga kita jadi seperti ini, kita itu kek sampah tau gak di depan mereka. Aku akan menyelesaikan masalahku dulu, jika masalah aku selesai, baru aku akan menjemput kamu dari rumah itu dan membawa kamu ke rumah yang baru."
"Kenapa gak sekarang aja kamu belikan aku rumah, Mas. Mumpung kamu keluar dari rumah sakit," tuturnya membuat Ariel geram.
__ADS_1
"LARAS, KAMU NGERTI GAK SIH APA YANG AKU OMONGIN, HAH!" teriak Ariel membuat Laras takut, ini pertama kali ia melihat Ariel seperti ini, bahkan urat nadi lehernyaa pun sampai kelihatan.
"Tolong jangan bikin masalah semakin runyam, keadaanku juga gak baik-baik aja sekarang. Jadi kamu bertahan aja dulu sama keluarga kamu itu, sekasar-kasarnya mereka ke kamu, mereka juga gak akan membunuh kamu. Jadi, gak usah drama," ucap Ariel sinis membuat Laras melongo, gak menyangka jika Ariel bisa berkata sekasar itu.
"Tapi Mas ...."
"Sudahlah aku mau pergi dulu, uang kamu masih ada, kan? Gak mungkin habis karena terakhir kali aku mentransfer kamu cukup banyak, jadi gunakan uang itu untuk bertahan. Jangan hubungi aku terus menerus, jangan bikin aku semakin muak sama kamu, jangan bikin aku merasa ilfil hingga engagan untuk menatap kamu lagi. Dan jaga janin itu dengan baik, kalau bukan karena janin itu, aku pun juga ogah berurusan dengan wanita ular seperti kamu," sarkasnya tajam.
"Tega kamu, Mas. Setelah berbulan bulan kamu mencicipi tubuh aku, sekarang kamu bilang aku wanita ular, kamu gak ingat sama hubungan kita, kamu gak ingat saat kamu meminta dan memohon sama aku? Aku emang salah sudah goda kamu waktu itu, tapi nyatanya kamu ketagihan kan dan selalu minta lebih dulu. Jadi, jangan cuma nyalahin aku terus menerus. Kia juga bersalah di sini," ucap Laras menitikkan air mata. Namun walaupun Laras menangis, hati Ariel dan Noah pun tak tersentuh sama sekali. Malah yang ada, mereka muak dan ingin segera pergi dari sana.
"Sudahlah, jangan sok menjadi wanita lemah, kamu itu gak cocok berperan jadi wanita lemah. Kamu itu cocoknya berperan jadi antagonis, pemeran jahat," lagi-lagi Ariel berkata sinis, membuat Laras tak percaya, jika laki-laki yang dulu begitu ramah dan penyayang, bisa berkata sesinis itu padanya.
Dan setelah itu, ia bangkit dari tempat duduknya dan meraih tongkat yang ia taruh di sampingnya. Lalu pergi dari sana.
"Selamat menderita ya, Laras. Nikmatilah karma yang saat ini mulai berjalan ke arah kamu. Aku akan jadi orang pertama yang akan tertawa bahgia melihat deritamu itu," ujar Noah dan pergi dari sana, membuat Laras geram, tak menyangka jika saurada Ariel pun bahkan tak merasa kasihan padanya.
Laras mengusap air matanya dengan kasar, percuma nangis, jika pada akhirnay gak bisa meluluhkan hati mereka.
Ariel dan Noah masuk ke mobil yang dulu di bawa oleh Luna untuk pulang ke Jember. Ya, sampai detik ini, mobil itu belum juga di kembalikan.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanya Noah yang tengah menyetir.
"Ke rumah Luna, aku ingin bertemu dengannya," jawab Ariel.
"Apa kita gak cari penginapan dulu. Kamu belum pulih betul, hati Luna juga mungkin masih menahan rasa amarah. Biarkan dia tenang dulu dua samspai tiga hari, sambil menunggu, kamu bisa memulihkan kesehatan kamu, memperbaiki penampilan kamu biar gak kayak gembel lagi. Sumpah sih, ini pertama kalinya aku lihat penampilan kamu kek gini. Biasanya kamu selalu tampil perfeksionis, tapi sekarang, bahkan dari atas sampai bawah pun tak sedap di pandang mata," ucap Noah yang membuat ARiel memutar bola matanya sangking kesallnya mendengar ucapan saudaranya itu.
"Iya sudah jika memang itu yang terbaik menurut kamu, kita cari penginapan dulu ya," pinta Ariel dan Noah pun mengangguk setuju. Ia langsung pergi ke penginapan yang kemaren sempat di tempati olehnya dan saudara-saudaranya, tempatnya cuku enak dan gak bikin sumpek.
Sepanjang jalan, Ariel hanya diam saja, fikirannya kacau. Bahkan rasanya kepalanya sakit sekali terasa mau pecah, memikirkan banyak masalah yang harus ia hadapi.
Memikirkan masalah Laras yang kini tengah mengandung buah hatinya, memikirkan Luna yang juga tengah mengandung buah hatinya, memikirkan masalah rumah tangganya yang rasanya sudah seperti ada di ujung tanduk, entah apa bisa di selamatkn apa gak, tapi firasatnya mengatakan jika cepat atau lambat, Luna pasti akan menggugat cerai dirinya. Namun sebelum itu terjadi, ia akan berusaha keras mengambil hati Luna, dan berharap jika ada kesempatan kedua untuknya. Karena bagaimanapun ia sangat menyayangi dan mencintai Luna dan masih berharap bisa terus melanjutkan pernikahan itu sampai maut memisahkan.
Ia juga memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada orang tuanya,, saudaranya yang ikut malu karena perbuatannya, juga bagaimana caranya meminta maaf pada mertuanya dan pada adik iparnya itu.
Sungguh, jika boleh jujur Ariel malu buat ketemu sama mereka, ia rasanya gak punya muka buat menghadap ke mereka. Tapi Ariel juga gak bisa diam aja, dan membiarkan masalah ini terus berlarut-larut. Ia juga harus bisa mengatasi semuanya, bagiamanapun dirinyalah yang menciptakan masalah ini dan sudah seharusnya ia yang menyelesaikannya sendiri, tanpa mengeluh. Karena saat ia bikin masalah dn menciptakan masalah itupun, ia juga tak mengeluh dan malah menikmatinya.
Ia bersyukur karena orang tuanya dan saudaranya sudah pada pulang, setidaknya ia bisa bernafas dengan lega. Paling tidak, mereka tak akan menghukumnya saat ini, tak akan menghakiminnya. Bagaimanapun ia butuh waktu buat menyelesaikan masaalahnya satu persatu, dan yang akan ia selesaikan lebih dulu, tentu hubungannya dengan Luna dan keluarga Luna. Baru setelah itu, ia akan memikirkan masalah dirinya dengan keluarganya. JIka berjalan lancar, ia juga akan memikrikan masalah Laras, bukan Laras tapi lebih tepatnya, janin yang ada dalam kandungan Laras saat ini.
Tak terasa mereka pun sudah sampai di depan penginapan, ARiel dan Noah pun segera turun dari mobil. Mereka berjalan ke arah lobby, dan berbicara dengan resepsionis yang ada di sana.
__ADS_1