Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 102


__ADS_3

"Hahhahahah,, gadis itu terlalu naif, bagaimana mungkin si kutub utara mengenal seorang gadis? Bahkan aku adiknya sendiri tidak di anggap karena aku seorang gadis, dia benar-benar seorang gay"


"Ya, aku juga berpikir kalau di gay, entah bagaimana nasib pernikahan kami nantinya"


"Jangan cemas Ai, kita masih muda bahkan banyak lelaki hangat diluar sana, mengapa harus memikirkan si kutub utara itu?


"Hahahah,, kau benar bahkan aku masih seorang gadis"


"Ai kau harus menjaga kegadisanmu sampai kau menemukan orang yang kau cintai, bahkan si kutub utara tidak berhak menyentuhmu sedikit pun, aku sungguh tidak mengerti dengannya"


...


Ini adalah musim ujian hingga perpustakaan akan penuh dengan mahasiswa yang akan belajar untuk persiapan ujian.


Keti dan Mia tiba disana ketika hanya ada dua bangku kosong. Segera mereka duduk dan fokus dalam pelajarannya. Buku-buku tebal dan sebuah pena serta catatan kecil membantu mereka larut dalam konsentrasi yang dalam.


Ditengah pelajarannya Nari juga ada disana mencari bangku kosong untuk mengerjakan tugas. Ia sedang dalam suasana hati yang buruk karena ia telah meminta pada asistennya untuk mengerjakan tugasnya namun asistennya tidak terlalu paham hingga ia menyerah.


Bahkan beberapa orang yang sering mengerjakan tugasnya tidak bisa membantunya lagi karena mereka semua memiliki kesibukan yang tidak bisa ditunda.


Dengan amarahnya ia datang ke perpustakaan dan kembali meledak melihat perpustakaan itu penuh dengan manusia.


Bahkan tidak tersedia bangku kosong untuknya. "Beri aku bangku kosong yang nyaman"

__ADS_1


"Nona disini tidak melayani pemesanan bangku hanya siapa lebih dulu dialah yang berhak"


"Kau hanya penjaga perpustakaan disini, bahkan kekasihku adalah donatur terbesar di kampus ini"


"Nona, maafkan aku tapi itu adalah aturan kampus"


"Aku tidak peduli dengan aturan kampus dan cepat sediakan aku kursi!!!!


"Nona tidak boleh boleh berbicara terlalu keras di perpus,,,"


"Kau!!! Tunggu kau jadi pengangguran!


Semua orang merasa terganggu dengan suara melengking Nari hingga mereka mulai geram dan berbisik mencelahnya.


Mia melihatnya dan langsung mengenalinya, ia tidak suka mencampuri urusan orang lain jadi ia hanya berbalik fokus pada pelajarannya.


"Nona kami sudah selesai kau boleh menggunakan kursi kami"


"Ai,, kita bahkan baru saja sam,,"


Mia segera menarik Keti keluar dari rungan itu.


"Ai apa yang kau lakukan?

__ADS_1


"Telingaku hanya terganggu dengan lengkingan tong kosong itu ayo kita pulang dan belajar di rumah"


"Hm ya, ayo ke rumahmu"


"Haruska kita mampir dan mendapatkan beberapa minuman?


"Ayo mendapatkan beberapa botol alkohol"


"Huh? Bgaimana caranya belajar dengan alkohol?


"Setelah belajar"


Mereka tiba di rumah dan mendapatkan tempat untuk belajar dengan nyaman, tapi beberapa saat saja mereka sudah muak dengan huruf-huruf yang membutakan mata.


"Aku tidak bisa lagi"


Keti melempar buku miliknya dan berbaring di sofa meletakkan kakinya di pangkuan Mia. Tapi karena Mia tidak menghiraukannya ia menjadi begitu kesal.


"Berhentilah membaca buku sialan itu dan sediakan kita minuman" Keti meraih buku di tangan Mia dan melemparnya sembarang arah, tentu saja mereka harus selalu sependeritaan.


Mia bangkit dan berjalan ke dapur mendapatkan belanjaan mereka. Ia jelas tahu sudha tidak ada kesempatan baginya untuk belajar jika Keti telah mengganggunya.


Malam sudha tiba dan merekantelah berbicara panjang lebar selama seharian, tentu saja berbicara mengenai kehidupan mereka yang selanjutnya, apa lagi membayangkan liburan ynag segera datang.

__ADS_1


Mereka minum alkohol sedikit demi sedikit namun karena minuman itu sangat banyak sampai pipi mereka kemerahan dan tak sanggup lagi mengangkat kepalanya.


Para pelayan datang untuk membantu mereka sadar dari mabuknya namun Keti dengan kesal mengusir mereka.


__ADS_2