
Ketika Mia tersadar di tengah malam, ia sementara berbaring di ranjang rumah sakit dengan Wixel duduk di sofa. Kantung matanya terlihat jelas, dan sebuah laptop berada pada pangkuannya. Pria itu terlihat kelelahan dan jelas menunjukkan pria itu tidak mendapat tidur yang cukup selama beberapa hari.
Mia memngerutkan keningnya. Laki-laki super sibuk itu berada di kamar perawatannya pada jam seperti itu dan ketuduran karena menungguinya?
Mia perlahan bangkit dari tidurnya, tapi rasa sakit pada tubuhnya yang terkena tembakan membuatnya menjerit dengan suara yang tertahan.
Ia segera menoleh ke arah Wixel, ia terlalu takut apa bila ia membangunkan orang itu.
Setelah terdiam beberapa saat dan memastikan Wixel tidak terganggu dengan jeritannya ia perlahan meningalkan tempat tidurnya dan berjalan ke arah Wixel menyelimuti pria itu.
Keesokan paginya Wixel terbangun dan mendapati dirinya tidur dengan sangat lelap sambil terbungkus selimut.
Selimut yang ia kenakan pun adalah selimut milik Mia. Ia segera melihat ke arah tempat tidur yang sudah kosong.
Sial! Wanita itu menghilang!
__ADS_1
Rasa hawatir mulai menggerogoti dirinya. Wanita itu mencoba melarikan diri lagi!
Ia bangkit berdiri dan mencari ke seluruh ruangan di kamar itu. Tapi setelah beberapa saat ia mendapati bahwa Mia benar-benar tidak ada di ruangan itu.
Ia menjadi semakin panik dan berlari keluar bertanya pada para perawat yang sedang berjaga.
"Nyonya berada di taman" Suster itu berkata dengan penuh kesopanan.
Wixel segera berjalan ke arah taman dan melihat Mia sedang duduk di sebuah bangku sambil mengamati beberapa anak kecil sedang bermain kejar-kejaran.
"Kau disini?" Wixel menghampiri Mia.
Wixel bernafas lega ketika melihat bagaimana Mia baik-baik saja. "Mengapa kau disini? Bukankah kau baru saja bangun?"
"Aku tidak selemah itu" Mia tersenyum hangat dan melihat ke arah Wixel. "Terima kasih telah menyelamatkanku dan juga menugguiku selama di rumah sakit" Mia memberikan ucapan terima kasih dengan tulus. Hanya ucapan terima kasih. Tidak lebih dari itu!
__ADS_1
Wixel tersenyum sebagai jawabnnya. "Apa kau ingin makan sesuatu?"
"Tidak perlu repot, aku sudah makan makanan yang dibawakan Keti" Mia mengembalikan perhatiannya ke arah dua anak kecil yang sedang bermain bersama.
Beberapa saat mereka duduk bersama akhirnya perut Wixel tidak tahan juga dan memberontak minta suplai makanan. Bunyi perut itu membuat Mia mengalihkan perhatiannya dari anak kecil dan menatap Wixel dengan malu.
Ini salahnya! Ia lupa bahwa pria itu juga butuh makanan.
Wixel bertingkah seolah suara perutnya adalah hal biasa sehingga ia tidak memperdulikannya dan tetap melihat dengan fokus pada anak kecil yang sedang bermain.
"Ayo kita ke kantin" Mia berdiri dan berjalan ke arah kantin.
Wixel menatap punggung lemah Mia yang semakin menjauh meningalkannya.
Ketika mereka tiba di kantin, Mia memesan makanan untuk Wixel, sedangkan ia hanya memesan jus segar untuk meredahkan rasa hausnya.
__ADS_1
Wixel bukanlah oran yang akan menikmati makanan murahan dari kantin rumah sakit. Tapi entah mengapa ketika Mia yang memesannya dan melihat wanita itu sedang duduk di depannya sambil meneguk minumannya ia merasa nafsu makannya bertambah dan ia makan dengan lahap.
Sesekali ia akan mengangkat wajahnya sambil tersenyum ke arah Mia. Inilah kebahagiaan yang dicarinya. Usahanya tidak sia-sia. Akhinya ia bisa meluluhkan hati keras Mia yang selama ini membuatnya berjuang keras hingga ia siap melakukan apa pun untuk mendapat perhatinnya.