
"Sayang" Merisa langsung memeluka Mia ketika ia melihat menantunya itu akhirnya keluar dari kamarnya. Ia sudah menunggu selama 1 jam di depan kamar Mia ketika ia mendengar suara tangisan dari menantunya itu.
"Maafkan aku Bu" Mia terisak melihat bagaimana ibu mertuanya menjadi lebih kurus karenanya. Ia melakukan hal konyol dengan menghabiskan satu pekan waktunya untuk mengeringkan matanya.
Ia lupa kalau ada orang yang menghawatirkannya lebih dari dirinya sendiri.
"Tidak apa Nak, sekarang ayo kita makan bersama" Merisa menuntun Mia ke dapur.
Mia bisa merasakan suasana aneh pada rumah besar itu. Tidak sepeti biasanya ketika sore hari Nenek dan Merisa akan minun teh bersama.
Ia merasa semakin bersalah pada semua orang. "Diamana semua orang Bu?"
"Tenag saja, Keti sedang tidur di kamarnya, dan Nenek ada di kamar sedang membaca buku. Ayahmu pergi ke kantor, mungkin akan pulang larut malam. Tidak usah pikirkan mereka, makanlah dulu" Merisa menuangkan air untuk Mia.
Merisa hanya duduk di depan Mia dan menikmati pemandangan yang diciptakan Mia ketika menantunya itu makan dengan begitu lahap.
Bagaimana mungkin Mia tidak lapar setelah melakukan aksi diet ekstrim selama satu minggu. Dasar gadis konyol!
"Ah Bu, masakanmu sangat enak" Mia tersenyum puas ketika menyentuh perutnya yang kekenyangan. Sudah seminggu ia tidak tahu bagaimana rasanya makan dengan baik.
"Apa sekarang kau menyesal sudah mengurung diri selama satu minggu?" Merisa tersenyum melihat Mia yang mendesah karena kekenyangan.
__ADS_1
"Ibu... anakmu ini hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Kutub utara itu tidak memperdulikanku dan ia pergi begitu cepat" Mia melihat ke arah Merisa dengan tatapan sedih.
Andra lihatlah bagaimana istrimu mengenangmu ketika kau sudah tiada!
"Baiklah, mulai sekarang jangan memikirkannya lagi. Kau hanya perlu melanjutkan hidupmu dengan baik dan jadi putriku yang bisa dibanggakan!" Merisa tersenyum puas.
Sepertinya surat yang dibawa Asisten Min memberi pengaruh yang luar biasa buat Mia.
Putriku! Ya, dia memiliki keluarga yang besar sejak menikah dengan Andra.
"Baiklah Bu, aku akan menjadi putri yang patuh mulai sekarang!" Mia menguatkan tekadnya. Lagi pula ia harus memenuhi permintaan terakhir suaminya.
Setelah makan Mia menemui Nenek lalu berjalan ke kamar Keti.
Keti masih tertidur, dan Mia bisa melihat Einya sedang dalam kondisi kelelahan.
Mia duduk di tepi ranjang menatap wajah kelelahan Keti. Anak ini makan dengan baik dari pada dia, tapi kini Keti lebih terlihat lelah dan berat badannya turun amat cepat dibanding dia.
Obat penenang di atas meja sangat menarik perhatian Mia. Separuh dari isi obat itu telah habis. Mia bisa memperkirakan kalau Keti terlalu sering mengkonsumsinya.
Baru ketika ia ingin tidur disamping Mia HP Keti mengagetkannya.
__ADS_1
Kacung Sialan calling.
"Halo?" Mia menjawab telpon itu.
"Halo... Nona Mia? Ini kau?" Suara ragu terdengar dari seberang.
Mia: "Ya, ini aku"
Deon: "Nona kau baik-baik saja? Kau membuat kami cemas sepanjang masa!"
Mia: "Kau mencemaskanku? Aku sungguh terharu, tapi aku harap kau tidak separah Keti yang harus menghabiskan setengah botol pil penenang"
Deon: "Nona, apa yang kau katakan? Keti bukanlah orang seperti itu, bagaimana mungkin, ia selalu memarahiku setiap hari karena kau"
Mia: "Itulah yang terjadi! Aku rasa kau perlu kemari dan melihatnya sendiri. Kau bisa menghiburnya ketika ia bangun nanti"
Deon: "Baik"
Jangan lupa mampir di karya baru author ya 😊
__ADS_1