
"Nak, kamu kenapa?
Bibi Shifa kaget melihat ponakannya yang berwajah pucat dan keringat sudah ada di semua wajahnya.
"Bibi, aku cuma sedikit kecapean, hanya perlu istirahat sebentar"
"Iya, kamu cepat istirahat, biar Bibi yang bawa minumannya"
Carri meninggalkan dapur dengan langkah yang gemetar. Ia segera tiba di kamarnya dan membalut dirinya dalam selimut, tubuhnya masih bergetar dan pikirannya melayang mengharapkan kehadiran suaminya.
Sari masih tinggal di dapur dengan perasaan kesalnya. Rencananya telah gagal tapi ia sudah sangat yakin bajwa Carri benar-benar tidka bisa menginjakkan kaki ke kebun belakang rumah tua.
Ia hanya perlu menunggu kesempatan lain untuk membuat Carri dipermalukan disana.
Geri sedang bermain kartu bersama para sepupu lelaki Carri, ia sudah menang secara berturut-turut sejak permainan dimulai.
"Kakak ipar, kau begitu hebat bermain"
"Ya, aku bahkan tidak mampu lagi bermain karena terus saja kalah"
Gari hanya tersenyum mendengar omongan para anak muda itu.
"Kalau begitu aku akan berhenti dan kalian bisa melanjutkannya"
"Tidka-tidak, kita masih harus terus bermain tapi kali ini bagaimana kalau kita bermain dengan tantangan"
__ADS_1
"Ya aku setuju orang yang kalah harus meneguk anggur sebanyak satu gelas"
"Ide yang bagus, kita bisa menyerang Kakak Ipar bersama"
"Jangan berkata seperti itu aku tidak bisa minum anggur"
"Apa Kak Carri yang melarangnya?
"Oh ayolah kak, hanya satu gelas saja"
"Ya, lagi pula aku rasa kamu akan selalu menang jadi tidak perlu takut dengan tantangannya"
Karena paksaan dari semua orang akhirnya Geri setuju untuk bermain lagi. Lagi pula istrinya mungkin masih butuh istirahat jadi ia tidak perlu mengganggunya.
Geri masih setia bermain, tapi ia sudah merasa agak kantuk karena memang sudah larut malam. Ia ingin pamit pergi tapi kartunya telah dibagi jadi ia memutuskan untuk melanjutkan satu permainan lagi.
Pada akhirnya ia mengalami kakalahan dan semua orang memaksanya untuk meneguk satu gelas anggur besar. Semua orang sepakat pada gelas yang paling besar karena mereka belum melihat Geri minum anggur sejak tadi.
Setelah meneguk satu gelas anggur Geri berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Kepalanya terasa pusing dan bayangan istrinya sudah memenuhi kepalanya. Ia sangat ingin memeluk istrinya tapi lorong itu terlalu jauh dan cahaya remang menghiasi sepanjang lorong.
Sari yang sudah menduga hal ini langsung bergerak dan mendekati Geri, ia sudah melihat mereka bermain kartu dan menunggu momen ini untuk menjebak Geri.
Ia akan merebut semua milik Carri hingga akhirnya Carri akan sendirian dan sengsara, apa lagi suami Carri juga pemuda tampan dan kaya raya. Ia jauh melebih sosok Gen yang selama ini ia pertahankan.
__ADS_1
Sari juga tidka bisa terima dengan kematian kekasihnya hingga ia perlu waktu lama untuk menenangkan diri, tapi kini ia sudah melupakan lelaki brengsek itu.
Dan kini ia memiliki kesempatan bagus untuk menjalankan rencananya, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Ia mendapat suami yang tampan dan kaya raya dan juga bisa membalaskan dendamnya pada adiknya.
Dengan pakaian seksi yang tebuka dan tipis, ia berjalan menghampiri Geri yang kini berjalan sambil berpegangan pada diding lorong itu.
"Sayang?
Geri mengenali suara itu, ya suara istrinya memangginya. Ia mengangkat kepalanya yang tertunduk dan melihat ke arah Sari.
Ia tidak dapat membedakan Sari dan istrinya karena pengaruh alkohol, apa lagi kini ruangan itu tidak cukup baik penerangannya ditambah wajah Sari yang sangat mirip dengan Carri membuat Geri langsung memeluk sari.
Geri memberikan semua bebannya pada Sari hingga Sari tidak mampu menahannya dan sedikit terdorong kebelakang, tapi mereka tidak jatuh karena Geri masih sadar menarik Sari kembali.
Sari tersenyum puas dan mengarahkan Geri menuju kamarnya, kebetulan kamarnya berada dilantai satu hingga ia dengan mudah membawa Geri menuju kamarnya.
Setelah didepan pintu ia membuat pintu dengan pelan dan geri sudah sangat panas hingga ia menyusupkan tangannya dari balik gaun Sari dan menyapu kulit mulus itu.
Ia bergidik merasakan sensasi aneh itu hingga ia mencoba mencium Sari namun karena ia tidak bisa membidik dengan benar meleset dan membuat ia malah menyentuh bahu Sari.
Ada banyak wajah Carri yang ia lihat hingga kepalanya menjadi lebih sakit. Ia menarik tangannya dari balik baju Sari dan memijat ringan pelipisnya.
Tangan satunya masih setia berada di pinggang Sari dan memeluknya dengan erat.
Sari tersenyum puas dan akhirnya ia berhasil membuka pintu dan melangkah masuk sambil menopang tubuhnya dan tubuh Geri agar tidak terjatuh ke lantai.
__ADS_1