
Keti memegang sebuah surat terakhir dari Andra. Surat putih polos dengan dua kata di depannya 'Untuk Istriku'.
Ia menangis menatap surat itu, ia menangis melihat setiap huruf yang tertera di depan surat. Ini pertama kalinya Andra mengakui bahwa ia istrinya dan ia merasa senang.
Hatinya menghangat kerena tulisan itu.
Membacanya tidak memberi kesan dingin dan kelam seperti ketika ia berhadapan langsung dengan orang itu, tapi ia melihat kehangatan disana. Kehangatan yang terlambat ia dapatkan.
Tidka, tidak terlambat, tapi ia hanya tidak menyadarinya ketika Andra sudah memberinya kesempatan untuk menyadarinya.
Kalimat terakhir andra saat pertemuan terakhir mereka terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset yang diputar tanpa bisa dihentikan.
__ADS_1
Ia tidak menyangka kalau pernikahan yang tak diinginkannya itu akan berakhir dengan cepat.
Pernikahan yang dianggapnya sebagai malapetaka dalam hidupnya. Pernikahan yang tak pernah ia terima hingga ia selalu berharap ia sedang bermimpi setiap kali ia sadar kalau ia telah dimiliki oleh seseorang yang salah.
Pria yang telah merebut masa mudanya, merebut semua yang berharga di genggamannya. Pria yang dibencinya sampai setengah mati. Pria yang memberi trauma mendalam padanya, pria yang menjadi bumerang dalam hidupnya.
Pria terburuk yang pernah ia temui itu telah pergi meninggalkannya, pergi jauh, jauh dan tak bisa ia gapai lagi.
Seharusnya ia akan baik-baik saja ketika pria yang telah menghancurkannya itu telah pergi dan ia tak perlu lagi hawatir pria itu akan datang menghancurkan kembali hidupnya. Ia telah bebas seperti yang ia impikan selama ini.
Hatinya merontah tak terima bagaimana Andra meninggalkannya, bagaimana pria itu telah pergi dan tak lagi menoleh padanya.
__ADS_1
Mia memukul dirinya sendiri menyadarkan pikirannya bahwa ia seharusnya bahagia karena ikatan yang membelenggunya telah lepas.
Ia bisa bersedih tapi tidak sampai sedalam ini, ia bisa menghormati orang itu untuk terakhir kalinya dengan sedikit kesedihan, tapi untuk berlarut-larut sepeti ini, ia tidak seharusnya melakukannya!
Ia mengurung diri di kamar selama 3 hari tanpa mau berhubungan dengan dunia luar. Ia menutup diri dari dunia luar, bahkan pada semua orang terdekatnya. Ia menyendiri sepeti biksu yang menjalani masa pertapaan.
Logikanya ingin keluar dan menikmati udara bebas dan tersenyum sepuasnya. Melihat keindahan dunia tanpa ada lagi beban di atas pundakknya. Dimana waktu ini ia bisa melangkah sengan bebas, melangkah ke setiap sudut dunia yang ingin dijangkaunya tanpa ada lagi halangan. Tidak ada yang mengaturnya lagi! Tidak ada yang perlu ia takutkan lagi, ia bebas! Benar-benar bebas!
Tapi saat ini hatinya tidak bisa melakukannya, hatinya hanya ingin berkabung, berkabung untuk hilangnya beberapa bagian, bukan hanya beberapa tapi sebagian besar hatinya telah hilang.
Andra membawa sebagian besar hatinya itu, hingga ia tidak bisa lagi menemukan penggantinya. Ia tidak bisa menerima apa pun sebagai penggantinya. Hatinya menolak, menolak berdamai dengan dirinya sendiri. Menolak pikiran logisnya, hatinya memberontak sampai titik terburuk.
__ADS_1
Hatinya tidak bisa menerima kenyataan, keadannya sangat buruk sampai menyesakkannya menghilangkan semua oksigen yang bisa ia gapai. Ia merasa sesak!
Ketika ia kehilangan hal paling berharga sebelummnya ia masih bisa bangkit dengan cepat. Masih bisa menenangkan dirinya sendiri tapi saat ini, ia tidak bisa.