Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 200


__ADS_3

Setelah dari dapur Deon kembali ke ruang tengah dengan gugup. Ia kembali duduk di kursinya dan menundukkan kepala serasa akan mati jika ia melihat wajah kedua orang itu.


Tidak ada yang bisa mempengaruhinya selain Andra, tapi saat ini kedua orangdi depannya sudah mengambil seluruh kekuatannya.


Ia tidak berdaya di depan mereka.


"Katakan sekarang" Suara dingin dan kelam Mia menembus batas ketenangannya.


"Itu, aku terkejut karena melihatnya Wixel yang sangat mirip dengan Andra. Aku tidak bisa berpikir jernih saat menyadarinya. Kalian tahu bukan, aku terlalu penakut. Dan ketika kalian tidak percaya padaku aku semakin gugup jadi pikiranku melana entah kemana hingga aku tidak bisa berpikir jernih" Deon mulai tidak bisa menahan emosinya. Jadi ia semakin menundukkan kepalanya hingga menyentuh kedua lututnya. "Itu, kalian adalah orang yang pertama menerimaku apa adanya jadi ini... ini terlalu menakutkan kalau kalian tidak akan percaya lagi padaku" Suara kelam yang menyedihkan menggema di ruangan itu.


Bagai tamparan keras untuk Mia dan Keti yang membuat mereka tak berkutik menyadari kesalahan mereka.


Deon adalah orang yang jujur dan juga terlihat polos. Ia bahkan seorang penakut ulung yang hanya melihat perkelahian kecil ia akan menegang di tempatnya.


Mereka menyadari itu setiap kali ke bioskop untuk melihat film aksi, Deon akan memejamkan matanya dan mengepal kuat tangannya hingga urat-uratnya bermunculan keluar.


Mereka telah salah, lebih memilih mengikuti perasaannya dari pada mempertimbangkan perasaan Deon.


Setelah Deon berbicara kedua gadis itu tidak bisa berkata lagi. Mereka terlalu bersalah untuk menghakimi tanpa bukti.


Terlebih lagi pada orang polos yang ada di depan mereka.


Deon benar, teman yang ia miliki hanya mereka berdua, tidak ada lagi orang lain, jadi sangat menyakitkan baginya kalau satu-satunya orang yang dimilikinya memalingkan wajahnya hanya karena kesalah pahaman saja.


Di tempatnya Deon semakin gugup karena keheningan berkepanjangan itu.


Tangannya menjadi dingin dalam sekejap dan tidak mampu mengangkat kepalanya. Seperti ada tindihan kuat dari beban yang tidak kelihatan. Beban itu diletakkan tepat di atas kepalanya hingga bergerak sedikit pun ia tidak mampu melakukannya.


Akhirnya di tengah kegugupan Deon suara bel kembali terdengar. Mia bangkit membuka pintu. Dan seorang muncul membawa beberapa berkas di tangannya.


Deon mengambil kesempatan di tengah kelengahan kedua gadis itu dan mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu.


Deon menghela nafasnya lega melihat Asisten Min sudah datang.


Bagai malaikat yang turun dari langit dengan sinar keagungannya. Ia melihat Asisten Min sebagai pahlawan yang dikirim oleh Tuhan untuknya.

__ADS_1


"Nyonya, saya membawa informasi tentang Tuan Andra" Asisten Min membuka mulutnya untuk pertama kalinya setelah ia tiba dan melihat keadaan di rumah itu sedang tegang.


Ini adalah hari liburnya, tapi kemudian Arron mengganggu waktu berharganya dengan menyuruhnya datang untuk menyelamatkannya.


Asisten Min melirik ke arah Arron. Ia menatap tajam melihat pemuda itu dalam keadaan kacau. Lebih kacau dari pada kehilangan Tuannya sendiri.


Mia terkejut dan segera mempersilahkan Asisten Min untuk menyampaikan informasinya.


Urusannya dengan Deon akan ia selesaikan nanti.


Asisten Min meletakkan Laptopnya di atas meja ketika ia memutar sebuah video.


Andra berjalan di sebuah koridor yang panjang sampai mereka tiba di sebuah pintu kayu yang besar.


Asisten Min yang sedari tadi mengikut di belakang Andra berjalan ke depan membuka pintu untuk Andra.


Mereka melangkah masuk disambut oleh orang-orang dengan pakaian serba hitam.


Asisten Min menghentikan rekaman layarnya, "Pimpinan mereka berada di belakang kamera, jadi tidak kelihatan dalam video ini. Bahkan ketika itu kami pun tidak dapat melihatnya dengan jelas."


Asisten Min kemudian menunjuk sebuah pantulan kaca pada video tersebut yang merupakan bayangan sosok laki-laki sebagai satu-satunya orang yang memakai setelan jas berwarna hitam.


Apa yang bisa dilakukannya kalau Nyonya yang ditingalkan Tuannya itu mengalami syok berat melihat suaminya mati dengan cara mengenaskan.


Ia telah berjanji akan menjaga Mia sepanjang hidupnya sebagai pengabdiannya pada Andra.


Tidak ada yang pasti, tapi kemungkinan terburuknya harus ia pertimbangkan.


Mia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa gemetaran dan tak sanggup mendengar ucapan Asisten Min.


Ketika mendengar kata tertembak ia sudah tidak bisa membayangkannya. Apa lagi harus melihat adegan itu.


Mia menahan tubuh bergetarnya dengan bersandar pada Keti sambil terus menangis.


"Ai, kita tidak usah melihatanya" Keti meyakinkan Mia.

__ADS_1


Asisten Min mematikan laptopnya dan menatap kedua orang di depannya.


Lihat! Lihat itu Tuan!


Tuannya terlalu kejam mengorbankan dirinya dan lupa akan orang yang menyayanginya.


Ketika dunia melihatnya sebagai pahlawan, maka dibalik semua itu terdapat jiwa yang menagis menggerutuki perbuatanmu.


Andra lebih memilih menyelamatkan semua keluarga yang akan kehilangan sumber penghasilannya demi membahagiakan dirinya sendiri dan keluarganya.


Siapa yang dapat disalahkan ketika semua bencana terjadi bersamaan.


"Aku akan melihatnya" Mia berkata setelah tangisnya mereda dan ia sudah bisa mengontrol emosinya.


Ia masih dan tidak akan percaya orang itu telah meninggal. Dengan menguatkan hatinya Mia menyuruh Asisten Min menyalakan kembali video itu.


Pikirannya sedang kalut, rasa tidak percayanya lebih dominan.


Mengingat bagaimana ia melihat Wixel dalam pandangannya terlihat seperti Andra. Ia tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan Asisten Min.


Kemungkinan kedua orang itu sedang mempermainkannya. Mia hanya akan percaya pada kemungkinan terbaiknya.


Asisten Min sedikit ragu dan melihat ke arah Mia beberapa saat sebelum ia membuka kembali laptopnya dan memutar kelanjutan video itu.


Dengan tekanan emosionalnya Mia menggenggam tangan keti dengan erat. Ia berharap Asisten Min hanya sedang mengarang cerita saja.


Setelah perdebatan panjang yang rumit itu akhirnya beberapa pengawal yang mengenakan pakaian hitan melumpuhkan Andra dan Asisten Min.


Terlihat raut kemarahan di wajah Andra dengan tatapan ingin membunuh. Tapi ia tidak mengatakan apa pun selain membisu dan membiarkan matanya menjelaskan semua kebenciannya.


Asisten Min berdiri di belakang Andra dengan posisi berlutut. Seorang penjaga sedang menodongkan sebuah senjata padanya.


Tidak ada perlawanan sama sekali. Mereka hanya pasrah dan diam di tempat saja menanti hukuman yang akan dijatuhkan dan tak bisa di hindari.


Dalam detik berikutnya terdengar suara tembakan yang keras, dan darah segar mengalir dari kepala Andra sebelum tubuhnya menjadi kaku dan akhirnya jatuh ke lantai.

__ADS_1


Mia segera mengalihkan pandagannya. Ia tidak percaya, tapi kejadian itu sungguh terjadi.


Semua kemungkinan yang ia harapkan sudah sirna terjawab oleh waktu. Sayangnya kenyataan tidak berpihak padanya.


__ADS_2