
Keti terbangun di pagi hari ketika ia merasa pusing. Dengan langkah yang dipaksa ia berjalan ke kamar mandi membasahi wajahnya. Air hangat yang menyentuh kulitnya cukup baik memberi kenyamanan.
Ia kemudian menatap dirinya dicermin "Aaaaaaaaaa!!!!!!!!" Jeritnya ketika melihat memar di sekujur lehernya.
Dengan melupakan seluruh rasa tidak nyamannya ia melepas pakaiannya. Branya entah hilang dimana hingga ia tidak mendapati benda itu lengket di tubuhnya. tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya. Pandangannya hanya fokus pada memar di seluruh tubuh bagian atasnya.
Memar itu memiliki berbagai ukuran dari yang besar hingga yang kecil. Tapi ia tidak bisa menghentikan rasa terkejutnya ketika mendapati ada banyak tanda yang tertinggal di atas permukaan kulitnya.
Serangan panik memenuhi pikirannya ketika ia kembali mengingat apa yang terjadi pada malam sebelumnya.
"Sial!!!!!" Ia menggerutu ketika mendapati dirinya hanya mengingat kepingan dimana ia jatuh ke atas tubuh Deon.
__ADS_1
"Sadarlah, sadar!!!" Keti mengingatkan dirinya sendiri untuk berpikir dengan jernih ketika otaknya mengalami kebuntuan untuk mengingat kembali semua kejadian yang telah dialaminya.
Lama berpikir dan ia masih tidak ingat apa pun ia memutuskan untuk menghubungi Deon ketika ia telah selesai membersihkan diri.
Keti keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaianya ketika ia melirik seluruh isi ruangan kamarnya. Semuanya masih berada pada tempatnya seperti sebelumnya ketika ia masih dengan sadar meninggalkannya.
Buku-bukunya masih berserakan di atas meja dan semua perabotan masih berada pada tempatnya seperti sedia kala. Satu-satunya yang berbeda ialah ranjangnya yang sudah berantakan. Tapi itu bukanlah hal yang aneh kren ia baru saja bangun dari sana. Tentu saja ranjang itu akan berantakan setelah digunakan untuk beristirahat.
Keti berjalan meraih ponselnya hendak menghubungi Deon ketika sebuah pesan singkat menjadi hal pertama yang ia temukan pada layar ponsel pintarnya.
Mengharapkan kabar darinya?
__ADS_1
Keti merasakan perasaan aneh merasuki dirinya ketika membaca kalimat terakhir. Tapi bagaimana pun karena perasaan itu terlalu asing ia mengesampingkannya. Ia tidak mau memusingkan hal tidak jelas seperti itu dan memilih kembali ke masalah yang sementara dihadapinya.
Keti menggelapkan matanya ketika wajahnya semakin muram dan ia berjalan ke meja rias.
Ia memandangi lehernya yang mengerikan dimana memar bertaburan membentuk pola tak beraturan yang terlihat menakutkan.
Keti semakin muram membayangkan apa yang telah terjadi padanya. Apakah ia telah dilecehkan ketika ia tidur? Atau ketika ia sedang mabuk dan merayu seseorang untuk bercinta dnegannya?
Keti mengerutkan keningnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan ketika pikiran liar mulai memenuhi dirinya. Kesucian yang dijaganya dengan segenap hati kini hancur dalan semalam hanya karena ia minum terlalu banyak.
Siapa yang akan melakukan hal sekejam itu padanya? Apakah ada penyusup? Keti menggelengkan kepalanya ketika tidak ada satu pun tersangka yang muncul dipikirannya.
__ADS_1
Lagi pula pada malam itu ia hanya bersama tiga orang yang menjadi teman minum. Mia tentu saja bukan orang yang akan melakukannya.
Deon adalah seorag lajang yang tidak berpengalaman sehingga untuk melakukan hal seganas itu padanya adalah hal mustahi yang pernah terpikirkan olehnya. Lelaki poslos dan lugu itu tidak akan emmiliki pengalaman apa lagi insting untuk hal seburuk yang ia dapatkan.