
Setelah pulang ke apartemen Carri sibuk menulis ulang kontrak yang akan ditandatangani Ezra.
Setelah itu barulah ia pergi ke kamar tidur dan menelpon suaminya, namun suamiya sepertinya sangat sibuk hingga bahkan ia tidka mengankat teponnya.
Ia meletakkan ponselnya lalu mulai tidur.
Keesokan siang ia pergi menemui Ezra, merek telah janjian di sebuah cafe pinggir jalan.
Setelah sampai disana ia kemudian menemukan Ezra sedang duduk bersama dengan seornag gadis yang seumurna dengannya.
Ia mendekati mereka dan Ezra langsung berteiak padanya, "Bos!
Semua ornag di cafe itu langsung memandang ke arah mereka, namun Ezra tidak peduli, mereka ia langsung menarik Carri dan menyuruhnya duduk di bangku sebernag.
"Kami telah memesan minuman lebih dulu dan itu adalah milik Bos, kami hanya menebaknya saja"
Carri melihat Jus tamarella di deoannya, ia memnag mengukai jus itu. Tapi bagaiman bisa tebakan mereka benar. Carri tertawa dalam hati.
"Ini adalah Intan, ia adalah teman yang kuceritakan. Lulusan manajemen dengan IPK tertinggi, hmmmn tertinggi di kelasnya, hehee.."
"Saya Intan kak"
"Jangan memanggilnya Kak, bahkan ia lebih muda dari kita, panggik Bu Bos saja"
Carri tersnyum melihat tingkah mereka, Intan terlihat lebih dewasa, dandanan dan pakaiannya lun memperlihatkan bahwa ia adalah seornag wanita dewasa.
"Ceritakan padaku apa yang bisa kamu lakukan"
"Aku bisa menangani keungan dan pemasaran, aku dulunya bekerja di sebuah perusahaan makanan ringan pada bagian pemasaran"
"Kenapa kau tidak lagi bekerja disana?
__ADS_1
Intan sedikit gugup dan memandang ke arah Ezra.
"Katakan saja" Carri berbicara dengan tenang dna tetap memperhatikan raut wajah Intan.
"Itu karena saya difitna oleh rekan kerja saya, ia melakukan pemalsuan tanda tangan dan akhirnya menyebabkan perusahaann mengalami kerugian puluhan juta"
Carri memeprhatikan wajah gadis itu, terlihat kehjujuran dan sedikit rasa gugup.
"Oke, kau bisa bergabung dengan kami"
Ezra menjadi bersemangat lalu memeluk Intan, mereka tersenyum bahagia.
"Ini adalah kontrak yang telah kutulis ulang, kau masih bis amerubahnya jika berubah pikiran"
Tanpa ragu Ezra langsung mengambil pulpen dan memberi tanda tangan pada meterai di kertas itu.
"Terima kasih bos"
"Aku perlu kalian bekerja keras, dan tempat kita sudag bisa digunakan dalam 2 minggu. kalian harus mempersiapkan diri. Hari ini kita akan mengunjungi beberapa penjahit yang bisa diandalkan jadi ayo kita pergi"
Mereka bertiga kemudian pergi mengurus beberapa hal lagi yang akan dibutuhkan untuk memulai perysahaan mareka.
Carri pulang ke apartemen jam 6 sore dan ia mendapati Regan sudah ada di sepan pintu menunggunya.
"Kak, kau sudah pulang, aku menunggu snagat lama"
Cari mengeluarkan kartunya untuk membuka pintu "Aku kan sudha bilang kamu kemari malam hari saja"
"Tapi aku sudah tidka sabar melihat rumah dan juga kakak iparku"
Mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa.
__ADS_1
"Kakakmu sedang pergi ke luar negri untuk perjlanan bisnis, kamu bisa menganggap ini sebagai rumahmu sendiri, Aku akan mandi lebih dulu"
"Ok"
Setelah Carri selesai berberes ia kemudian turun ke lantai bawah dan menemui Regan.
"Apa kau akan menginap malam ini?
"Hehe ya"
"Kalau begitu aku akn membersihkan kamar tamu untukmu"
"Tidka perlu kak biar nanti aku yang melakukannya, "
Carri tidka menghiraukannya lalu meningalkannya ke kamar tamu dna memasang seprei serta mengambil selimut dan bantal untuknya.
Regan mengekor di belakangnya dan membantunya, bahkan ia merasa takjub dengan kakaknya yang ini, baru pertama mereka bertemu tapi rasanya sudah sangat akrab.
Atau mungkin karena ia melihatnya mirip dengan Sari hingga ia tidak merasa asing bersama dengannya.
Setelah merapikan kamar mereka kembali ke sofa dan menyalakan TV untuk nonton.
Carri menyiapkan cemilan duduk di lantai bersandar ke sofa.
"Jadi apa yang akan kamu ceritakan"
Regan yang mendengar itu seketika wajahnya berubah dan dengan pelan ia turun ke lantai duduk bersama kakaknya, ia memeluk lutut dan membenamkan wajahnya kebawah, tak ingin dilihat.
"Aku melakukan kesalahan Kak"
"Emmmm"
__ADS_1
Regan merasa sesak untuk mengatakannya, karena ia belum memberi tahu siapa pun soal itu hingga ia perlu mengumpulkan keberanian lebih dulu.
Tapi sebelum keberanian itu terkumpul ia telah pecah dalam tangisan, seornag anak remaja yang rapuh dan butuh sandaran.