Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 114


__ADS_3

Dengan perasaan yang berkecamuk Mia berdiri membungkus diri dengan selimut dan berjalan ke arah meja meraih pisau buah yang ditinggalkan oleh Keti.


Ia sudah pasti akan melakukannya, lagi pula tak ada alasan baginya untuk tinggal di dunia dengan keadaan malu seperti itu. Meski Andra berhak atas dirinya tapi ia sungguh tak bisa memaksanya apa lagi ia tidak memberi kenyamanan secara batin padanya.


Tidak mungkin ia menghabiskan sisa hidupnya bersama orang seperti Andra. Pilihan satau-satunya adalah lari, tapi lari kemana, bahkan jika ia mampu lari ke ujung dunia maka Andra akan tetap menemukannya dan kemudian akan mendapat siksaan yang lebih buruk lagi.


Lebih baik ia mendapat ketentraman dengan menyusul orang tuanya dari pada bertahan hidup bersama lelaki yang membawa penderitaan sepanjang hidupnya.


Dengan sekali tarik darah mengalir dari pergelangan tangannya dan ia jatuh dengan mata berkunang-kunang dan akhirnya mencapai dasar kegelapan yang akan menghilangkan rasa sakitnya.


....

__ADS_1


Ketika Andra keluar dari kamar mandi ia mendapati Mia sudah ada dilantai dengan selimut penuh darah dan pisau ditangannya.


Seketika Andra seperti tersambar petir dan berlari meraih Mia dipelukannya membawanya turun ke lantai bawa.


"Cepat hubungi rumah sakit" Andra mempercepat langkahnya ke arah mobil dan segera melesat ke rumah sakit dengan Mia yang sudah tak sadarkan diri di pelukannya. Berulang kali ia memeriksa apakah wanita itu masih ada bersamanya.


Mia terlihat pucat dan tubuhnya perlahan membiru karena kekurangan darah. Suhu tubuhnya juga telah turun drastis dan begitu lunglai di dekapan Andra.


Seluruh dokter terbaik telah menangani Mia dan ia memerintahkan agar berita ini jangan sampai bocor ke luar termasuk ke keluarganya.


...

__ADS_1


Ketika bangun Mia hanya berdua dengan kutub utara di ruangan itu. Begitu membuka mata melihat wajah yang seorang lelaki yang paling dibencinya seketika tubuhnya menegang dan matanya di penuhi rasa ketakutan. Tentu saja ia tidak berani menangis mala ia berusaha mengumpat dalam hati mengatakan kata kata umpatan agar ia bisa menahan air mata yang sudah memberontak ingin menampakkan diri.


Ia mengingat kembali malam penuh pilu dan kesakitan yang ia alami, satu-satunya hal berharga yang ia pertahankan matai-matian direbut dengan paksa oleh seorang pria kejam dan berhati dingin.


Jelas siapa pun yang diposisinya akan memilih pilihan yang sama dengannya. Ia masih waras dan ia masih bisa berpikir dengan masa depan yang akan ia jalani dengan semua harapan yang ia genggam erat telah dirampas dengan paksa memaksanya memberikan semuanya.


Apa lagi yang bisa menjadi alasan untuk tetap bernafas jika sudah tak memiliki apa pun, dirimu bukan milikmu lagi. Bahkan untuk memilih hidup atau mati ia tak berhak dan hanya bisa berpasrah pada tangan yang lebih berkuasa darinya.


Ia tersadar dari ketakutannya dan berusaha menjauhkan diri menuju sisi paling ujung tempat tidur yang luas. Andai saja infus yang terpasang bisa ditarik lebih jauh ia akan lari dan pergi dari tempat itu meski ia tahu bahwa ia tidak bisa mengendalikan hidupnya dengan bebas karena ia sedang dikuasai oleh seorang kutub utara yang menggenggam segalanya di tangannya.


Dengan ketakutan ia membalut seluruh tubuhnya dengan selimut meringkuk di sudut ranjang membelakangi Andra. Paling tidak dengan berpaling muka dari ******** itu ia bisa merasa lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2