
Hotel mewah yang terkenal di kota G adalah tempat dimana makan malam itu berlangsung.
Mia memindai seluruh gedung itu sebelum melangkah turun dari mobil mengikuti Andra yang sudah berjalan lebih dulu.
Karena langkah yang panjang dan cepat, Mia kesusahan mengikuti kecepatannya hingga ia sudah jauh tertinggal di belakang. Untungnya ada asisten Min yang setia bersamanya berjalan di belakang.
Setelah masuk ke dalam lift Andra bingung karena Mia tidak segera menyusulnya. Wanita itu membuat masalah lagi.
Belum sempat ia melangkah untuk memeriksa, Mia sudah muncul dengan langkah tergesa-gesa dan nafas ngos-ngosan.
Ia segera berdiri di samping Andra dan berusaha mengatur nafasnya. Keringatnya mengalir deras dan sialnya ia tidak membawa apa pun yang bisa membantunya membersihkan bulir keringat di wajah dan lehernya.
"Gunakan ini Nyonya"
Penolongnya, oh dia harus memberi sesuatu sebagai ungkapan terima kasih pada asisten Min dikemudian hari. "Terima kasih"
Bahkan andra tidak pernah meliriknya sekali pun dan hanya meluruskan pandangannya kedepan.
Setelah mereka tiba di sebuah runagan yang besar Mia menunjukkan ekspresi kebingungan karena tempat itu berisi lelaki yang terlihat berasal dari kalangan atas dengan wanita-wanita cantik berpakaian minim di rangkulan mereka.
__ADS_1
Mereka bahkan tidak memperlihatkan rasa malunya berciuman di depan umun dan saling menggoda satu sama lain.
Berbagai cemilan dan alkohol berjejer diatas meja pendek yang terletak di tengah-tengah mereka.
Mia hanya masuk bersama Andra, sedangkan asistem Min tinggal di luar entah melakukan apa. Dengan langkah ragu Mia mengikuti Andra dan duduk di sofa panjang yang empuk sambil menjaga jarak dari Andra.
"Wah,,wah,, siapa wanita cantik ini?
"Teman kita memiliki wanita saat ini, tapi kenapa kalian duduk berjauhan?
"Mereka pasti sedang bertengkar, hei gadis kecil kalau kau bosan dengannya aku selalu siap menjadi yang berikutnya"
Mia mengerutkan keningnya, rasa penyesalan yang besar meliputinya hingga kegelisahan memenuhi dirinya apa lagi mendengar beberapa kalimat yang dilontarkan Kian dan Moran.
"Gadis kecil, kau tentu tidak tertarik dengan lelaki yang berwajah tembok bukan? Kau sedikit masuk ke kategori wanita idamanku meskipun dadamu sedikit kecil tap,,,"
Rendi berceloteh tak jelas karena ia sudah mabuk hingga ia tak dapat menahan diri untuk menggoda wanita cantik di depannya. Tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya sebuah tamparan melayang di pipinya.
Tamparan yang keras dari Mia bukan membuatnya marah tapi malah menyulut gairahnya. Dengan kasar ia meraih tangan Mia dan menguncinya dibelakang punggung sambil memandang mata gadis di depannya.
__ADS_1
"Kau rupanya gadis tak sabaran, karena kau sudah memulainya maka aku akan meneruskannya." Dengan cepat Mia di lemparkan ke sofa samping Andra dan Rendi segera mengunci Mia di antara tubuhnya.
Mia merontah sekuat tenaga berusaha membebaskan diri dari pria ******** diatasnya tapi gerakan perlawanannya mala membuat Rendi makin bergairah.
Mia bahkan tak sempat memperhatikan bahwa pakaiannya sudah berantakan dan sedikit terkoyak karena ulah Rendi. Ia hanya tahu saat ini ia sedang berada di kandang singa dengan seekor singa kelaparan mencengkranya. Beberapa singa lain hanya mengamatinya dengan ekspresi senang seperti melihat sebuah orketsa.
Lelaki yang membawanya kemari jelas bukan manusia apa lagi seorang suami, ia dibohongi dan dilemparkan pada mahluk ganas yang kelaparan.
"Kau sangat menggairahkan" Rendi menikmati wajah ketakutan Mia dan senyum puas terukir di wajahnya. Jika biasanya para wanita yang berusaha merayunya, kini seornag wanita menolaknya mentah-mentah. Apakah wanita itu tidak tahu siapa dirinya hingga berani melawannya.
"******** sialan!!!!! Lepaskan aku bodoh"
Rendi tertawa licik mendengarnya dan hendak mendaratkan ciuman di bibir Mia tapi malah menyentuh kuping gadis itu.
Segera kemarahannya membludak naik dan menarik rambut Mia kebelakang "Jadi kau lebih suka bermain kasar huh?
Rendi memperhatikan kemarahan di wajah Mia dan tahu bahwa gadis itu sangatlah menggoda. Dengan kulit mulus dan bulu mata yang lentik. Ia sudah bosan dengan wanita yang memakai dandanan tebal demi menyembunyikan kekurangan wajahnya tapi kali ini ia menemukan wanita dengan riasan ringan dan tetap terlihat sempurna.
Dengan pemandangan didepannya gairahnya semakin tersulut tidak tahan menikmati setiap bentuk tubuh mulus Mia apa lagi membayangkan desahan nakal dari bibir manis itu. Sungguh ia menantikannya.
__ADS_1