Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 226


__ADS_3

Bagaimana dengan Wixel?


Keti menjerit kecang ketika ia memiliki spekulasi bahwa orang mesum itu telah menyentuhnya ketika ia sedang mabuk.


Kalau ia mengingatnaya dengan benar, Deon juga mabuk pada malam itu. Apa Deon meninggalkannya hanya bersama dengan Wixel hingga orang itu melakuakn hal tak senonoh padanya?


Air matanya bercucuran tak jelas dengan berbagai khayalan mengendalikan dirinya. Orang itu mencumbunya, mengisap kulitnya dan menyentuh bibirnya...


Pikirannya terus melayang ketika ia tidak lagi bisa bangun dari tempat dimana ia sedang tergeletak. Lantai yang dingin sudah menyatu dengannya.


Di luar Mia baru saja tiba bersama senandung riahnya ketika ia melihat ke lantai dua. Anak itu belum bangun juga, bahkan hari sudah sore.


Mia akhirnya melangkah perlahan ke atas untuk memeriksa keadaan. Ketika ia membuka pintu dilihatnya sosok gadis yang bertubuh kurus tergeletak di lantai dengan pandangan yang kosong.

__ADS_1


"Ei?" Mia melangkah dengan cepat ke arah Keti.


Di sisi lain Keti yang terkejut langsung tersadar dan berlari ke kamar mandi untuk bersembunyi. Ia terlalu malu dan juga takut untuk memperlihatkan tubuh mengerikannya pada Mia.


"Ei ada apa?" Suara Mia terdengar dari luar. Ia bisa membayangkan gadis cantik itu sedang dalam raut wajah yang hawatir. Keti menjauh dari dinding kamar mandi ketika ia tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk dirinya.


"Kau baik-baik saja?" Sekali lagi suara lembut bercampur kecemasan terdengar dari balik pintu. Sesaat kemudian gagang pintu itu mulai bergerak naik turun. Jelas orang di balik pintu sedang berusaha membukanya. Keti berusaha menenangkan diri ketika pikirannya melayang membayangkan reaksi Mia jika mengetahui keadaannya.


Ia berpikir sejenak "Aku sedang memakai pembalut" Jawabnya untuk membohongi Mia.


Mia mengerutkan keningnya mendengar hal itu. Ia tahu dengan pasti bahwa gadis di balik pintu itu sedang melakukan sebuah kebohongan.


"Baiklah, aku ada di kamar kalau kau butuh sesuatu" Suara langkah kaki Mia terdengar menjauh.

__ADS_1


Keti menghembuskan nafasnya dengan lega ketika ia telah memastikan Mia sudah berjalan pergi. Ia tidak mau lagi melihat cermin yang memperlihatkan gambar sosok gadis yang mengerikan. Keti hanya berjalan ke luar kamar mandi dan kembali ke atas ranjang membungkus dirinya dengan selimut.


Beberapa saat dan perutnya sudah meronta mencari makanan. Keti menahan rasa laparnya ketika ia merasakan air matanya sudah mengalir dan wajahnya terasa panas.


Dengan susah payah ia menangis dalam diam agar tidak ada yang mengetahui ia sedang berada pada kondisi terburuk untuk saat ini.


Bayang-bayang memar di atas kulit putihnya terus terputar di otaknya. Ia menggigit bibirnya dengan keras serta mencengkram kuat selimut yang membalut tubuhnya.


Di sisi lain Mia melihat gadis rapuh itu dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tahu gadis itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Entah apa itu, ia tidak tahu.


Ia ingin menolongnya, tapi gadis yang selalu terbuka di depannya itu jelas berbeda pada saat ini. Gadis itu sedang menutup diri dan tidak berniat berbagi dengannya.


Mia menutup pintu dengan perlahan dan berlal meninggalkan gadis yang sedang mengeluarkan emosinya. Lagi pula ia tahu setiap orang perlu waktu untuk menenangkan diri saat mereka baru saja melalui sebuah masalah.

__ADS_1


__ADS_2