
Belum sempat ia menyentuh lantai ketika Geri telah mengangkat lagi kakinya ke atas kasur. "Apa yang kau lakukan? Tetaplah berbaring"
Geri baru saja kembali dari ruang administrasi untuk mengurus beberapa surat dan pembayaran sehingga ia tidak mendengar apa pun percakapan istrinya dengan dokter muda itu.
Ia terlalu panik sehingga tidak bisa berpikir dengan baik untuk memanggil asistennya membantu dalam urusan administrasi.
Dokter beserta suster yang berada di ruangan besar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat seorang Geri dengan sikapnya yang terlalu posesif.
Carri terkikik mendengar ucapan suaminya "Ini baik untuk mempersiapkan persalinannya"
Geri menoleh ke arah dokter yang berdiri di seberangnya.
Donter muda itu mengangguk perlahan mengiyakan perkataan Carri.
Geri merasa ragu ketika ia kembali menatap Carri sejenak memikirkan saran dokter.
Ya tuhan! Siapakan yang menjadi dokter disini? Untuk apa mereka datang kalau tidak mempercayai saran dari dokter?
__ADS_1
Semua tenaga medis keluar dari ruangan sambil menggelengkan kepalanya. Pemandangan itu terlalu sulit untuk dipercaya!
Pada akhirnya Geri mengambil sendal yang disediakan pihak rumah sakit. Ia memasangnya pada kaki mungil istrinya lalu membantu Carri berdiri secara perlahan.
Carri berjalan di dalam ruangan sambil berpegangan pada Geri. Setiap langkah yang Carri ambil selalu membuat jantung Geri berdetak semakin cepat.
Ia terlalu gugup melihat setiap kali kaki istrinya hendak melangkah. Mungkin saja pada langkah itulah istrinya akan mengalami lelah.
Sambil terus mengawasi istrinya Geri tidak pernah berhenti mengingatkan Carri agar melangkah dengan hati-hati. "Hati-hati... Pelan-pelan... Jangan terlalu cepat... Katakan kalau kau lelah... Jangan melangkah terlalu lebar..."
Geri memandang istrinya yang sudah tidak meneruskan langkahnya. Tanpa aba-aba ia mengendong Carri menuju ranjang untuk duduk.
Carri yang tidak siap segera menjerit dan melingkarkan tangannya ke leher suaminya.
"Apa kau lelah? Kau mau air? Atau sesuatu yang lainnya?" Wajah panik Geri tergambar dengan jelas ketika Carri memukul pelan dada suaminya dan tertawa dengan keras. "Bisakah kau diam?"
Geri memandang istrinya dengan bingung.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja" Carri terkikik sambil bersandar ke dada suaminya.
Beberapa saat dan mereka kembali berjalan-jalan di dalam kamar sesuai saran dokter. Geri menjadi lebih rileks dan tidak banyak berkata lagi ketika ia menemani istrinya.
"Telpon Mia untukku, aku ingin dia ada disini menemaniku" Carri mengingatkan Geri ketika rasa sakit di perutnya sudah semakin terasa.
Geri membiarkan Carri berpegangan pada tepi ranjang ketika ia berlalu meraih ponsel di atas nakas untuk melakukan sebuah panggilan.
Telpon itu tidak tersambung. Jelas saja Mia sudah tidur pada saat seperti itu. Geri meletakkan kembali ponselnya dan kembali membantu Carri untuk berjalan.
Ketika rasa sakitnya semakin parah, Carri menghentikan langkahnya dan berpegangan erat pada lengan Geri.
Air ketubannya pecah.
Geri menjadi panik ketika melihat ke lantai yang sudah di penuhi air. Ia segera mengendong istrinya dan berlalu memanggil dokter. Kebahagiaan dan kecemasan menyatu di hatinya.
Ia tidak tahu bahwa ia harus cemas atau sedih ketika ia mengikuti dokter untuk masuk ke dalam kamar persalinan. Ia mengenggam tangan istrinya dengan erat dan memberi beberapa ungkapan penyemangat di telinga istrinya.
__ADS_1