
Keti tidak peduli dan segera menarik Mia menjauh dari kerumunan itu dan masuk ke toilet wanita. Jelas rubah licik itu akan mendapat kematiannya hari ini juga, lihat saja apa yang akan ia lakukan padanya.
Sungguh si rubah licik itu jelas tidak tahu dengan siapa ia mengibarkan bendera perangnya.
Kalau saja Nari tidak menyentuh Mia maka ia juga akan memberinya kedamaian dan mengacuhkannya tapi sekarang ia harus membuat perhitungan yang besar pada rubah licik sialan itu.
"Buka bajumu cepat" Keti membantu Mia melepas gaunnya dan mengompres bekas luka itu dengan sapu tangan yang telah dibasahi. "Apakah sakit?
Mia meringis pelan tapi ia masih bisa menahan rasa sakitnya "Aku rasa kau akan mendapat masalah besar kali ini"
"Apa kau pikir aku takut? Meski aku takut pada nenek dan kutub utara tapi rubah licik itu jelas bukan tandinganku" Keti menyelesaikan kompresannya pada tubuh Mia dan kemudian mereka keluar dari toilet
__ADS_1
...
Nari berhasil menarik simpati kerumunan yang telah berkumpul sejak tadi, semua orang mulai membantunya dan menggerutu pada Mia dan Keti.
Ketika tiba di UKS ia segera mengeluh pada perawat disana dan mendapat pertolongan pertama, tak lama sesuai rencananya Pak Ender datang untuk berbicara dengan dokter di UKS, waktu yang sangat tepat.
"Ada apa dengan wajahmu Nari? Pak Ender jelas merasa hawatir karena ia telah mendapat perintah dari donatur terbesar kampus untuk memperhatikan Nari, jelas ini sangat buruk kalau terjadi hal yang tidak menyenangkan.
Pak Ender mengerutkan keningnya dan melirik ke arah dokter yang sedang mengoles salep di wajah Nari. "Katakan padaku"
"Ini adalah luka bekas tamparan, Bapak bisa melihat bekas tamparan tergambar disana dan sudut bibirnya juga sedikit terluka karena,,"
__ADS_1
"Katakan siapa yang melakukannya" Pak Ender jelas harus memberi hukuman yang pantas pada mahasiswa yang berani melakukannya, jelas ia tidak akan membiarkan Nari mengadu pada Andra jika Nari tidak mendapat keadilan. Paling tidak jika mahasiswa yang membuat keributan itu dikeluarkan dari kampus maka akan sedikit meredahkan kemarahan sang bos besar.
"Itu,, it,, itu sebenarnya tidka terllau penting ini hanya kesalapahaman karena saya tidak sengaja menumpahkan kopi saya ke gaun Mia" Nari setengah menagis dan memberi ekspresi paling menyedihkannya berusaha menempatkan dirinya sebagai seorang korban. Menggunakan nada yang terlihat tegar tapi sebenarnya terluka adalah keahliannya, tentu ia bisa meluluhkan hati Pak Ender.
"Katamu Mia? Jelas saja Pak Ender tidak akan percaya mahasiswi terbaik di kampus akan melakukan kekerasan yang seburuk ini, lagi pula ia mengamati Mia sepanjang ia masuk dan terlalu mustahil untuknya melakukan kekerasan di depan umum.
"Bukan,, aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke gaun Mia dan saat itu Mia bersama Keti jadi Ketila yang menamparku, tapi,, tapi itu sungguh kesalapahaman, ia jelas tidak sengaja"
Wajah ketakutan yang ditunjukkan Nari jelas memberi isyarat bahwa kelakuan Keti sudah melampaui batas, meski Nari sedang membela mereka namun juga menunjukkan depresi seorang korban. Jika Pak Ender membiarkan hal tersebut maka bisa saja Andra akan tahu dan kemudian menarik sejumlah donaturnya. Meski berat tapi ini akan menjadi akhir bagi Mia dan juga Keti.
Setelah selesai mengobati luka Nari, Pak Ender menuntunnya dengan hati-hati untuk menuju ke ruang kemahasiswaan, ia akan memberi pelajaran pada kedua mahasiswa itu di depan Nari. Jelas ini menunjukkan bahwa Pak Ender berada di pihak Nari, bukan, ia mengikuti perintah Andra untuk memperhatikan Nari.
__ADS_1
Semua orang tahu di semua bisnis Andra, Nari adalah kekasih kesayangan Andra hingga tidak ada yang berani untuk memperlakukannya dengan buruk, bahkan jika Nari ingin sebuah pulau maka mereka jelas akan mengabulkan permintaannya. Siapa yang berani melawan kekasih seorang Andra kecuali jika mereka telah bosan hidup.