Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 207


__ADS_3

Mia baru saja menyelesaikan pekerjaannya pada tengah malam dan ia menjadi satu-satunya yang berasa di kantornya.


Ketika ia berada di parkiran, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Mia mengertakkan giginya dan berlari menuju mobilnya.


Ia berhenti di sebuah restoran yang menyajikan makanan siap saji. Restoran itu buka dua puluh empat jam hingga banyak orang yang berada disana meski pun sudah larut malam.


Mia memilih duduk di kursi pojok menunggu pesanannya ketika ia menerima sebuah pesan.


'AM'


Mia mengerutkan keningnya ketika ia membaca nama pengirimnya. Ada banyak orang yang mengirim pesan padanya. Tapi di tengah malam seperti itu biasanya tidak ada satu pun peaan yang masuk.


Mia membuka obrolannya 'jangan percaya pada siapa pun'.


Ketika itu juga pesanannya telah siap dan ia meletakkan ponselnya lalu menyantap makanannya.


Makanan berkuah adalah surga bagi rasa ketika hujan sedang turun di tengah malam.

__ADS_1


Dalam sekejap Mia sudah berada lagi di dalam mobilnya. Hujan masih turun dengan deras ketika ia memaksakan diri tetap mengemudi.


Mia megerutkan kening ketika sekumpulan motor tiba-tiba mengepungnya di jalanan yang sepi.


Ia tidak terlalu pandai mengendarai mobil sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain berhenti di tengah jalan.


Mia mengerutkan keningnya dan kemudian melirik ke luar kaca beberapa orang mulai turun dari sepeda motor dan memukul kaca jendela mobilnya.


Ia tidak bisa melihat wajah orang itu karena tersembunyi di balik helm hitammya.


Karena tidak memberi respon maka orang itu menjadi tidak sabar dan meraih tongkat bisbol yang di sodorkan temannya.


Mia tidak punya pilihan selain meraih handel pintu mobil dan membukanya.


Mia keluar dengan tenang dan memberi tatapan dingin pada semua orang yang sedang berdiri memperhatikannya.


Sebanyak sepuluh orang dengan lima motor sedang mengepungnya. Lebih parah lagi bahwa sampai saat itu tidak pernah ada mobil yang melintas sekali pun. Jelas ini telah terencana dengan matang.

__ADS_1


Orang-orang itu tidak menyangka mereka akan merinding dibawah tatapan mata Mia yang gelap dan dingin seakan seorang iblis yang sedang meremehkan mereka karena mencoba melawannya.


Tapi melihat Mia hanyalah gadis yang memiliki keindahna tubuh dan terlihat kurus serta lemah mereka tersenyum penuh kemenangan, jelas ini adalah misi yang terlalu mudah bagi mereka.


"Katakan" Mia mengeluarkan suara dingin yang bisa membunuh setiap orang dengan mental lemah hanya karena mendengarkannya.


Pria yang menjadi pemimpin mereka bergidik mendengar nada suara itu. Terlebih suara itu sudah lebih jelas karena hujan telah redah seakan sengaja memberikan waktu bagi Mia untuk memperlihatkan kekuasaannya.


Tapi segera pria itu menurunkan tongkat bisbol di tangannya lalau melemparkannya ke arah belakang.


Hah! melempar senjata itu akan menjadi penyesalanmu!


"Gadis kecil, kami tahu kau memiliki kekuasaan dan uang. Tapi kau pikir siapa yang akan menolongmu saat ini?" Pria bertubuh jangkung itu mencibir Mia.


Mia hanya diam dan dengan tenang menghadapi semua serangan dari orang-orang itu. Dalam 5 menit mereka semua sudah lumpuh tanpa bisa berkutik lagi.


Semuanya terkapar di aspal yang dingin dengan nafas terengah-engah kehabisan tenaga.

__ADS_1


Mia berdiri dengan tenang dengan tatapan dinginnya pada orang-orang di depannya. Ia berjalan menghampiri pemimpin mereka hendak membuka helm yang di kenakannya.


Pada sat itulah seseorang dari mereka mengeluarkan sebuah senjata. Sebuah peluruh dengan mantap menembus kulit Mia memberi ruang bagi darah segarnya untuk mengalir ke luar kulitnya.


__ADS_2