
Carri mengangguk dan masuk kedalam rumah minimalis itu, disana ada berbagai pajangan piagam penghargaan dan juga piala.
Sangat bersih dan rapi serta menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seornag gadis yang hangat.
Tempat itu memiliki 1 kamar, dapur, ruang keluarga dan kamar mandi.
Carri duduk di sofa dan Mia berlalu ke belakang menyeduh teh dan menyiapkan cemilan.
Setelah selesai ia membawanya untuk mereka nikmati bersama.
"Carri, kau terlihat semakin cantik, aku bahkan pangling waktu kita bertemu pertama kali"
"Terima kasih tapi aku tida akan mengalahkan kecantikanmu"
"Haahaa, oh, apa kau telah bertemu dengan keluargamu?
"Ya, mereka sangat baik dan aku memiliki saudara kembar"
"Biarkan aku melihat fotonya"
Carri segera meraih HPnya dan memudian memperlihatkan foto Sari pada Mia.
"Kalian memang mirip tapi kau jauh lebih cantik"
"Hei beri aku saran beberapa hal"
"Apa itu?
"Aku sudah menikah dengan suamiku selama 3 bulan tapi aku belum juga hamil, kami sudah memeriksakan diri pada dokter sebanyak 2 kali tapi tidak ada yang aneh, dan kami juga sudah didesak untuk memberikan keturunan"
"Huh aku bukan tidak terlalu mengerti dengan itu tapi aku pernah mendengar seorang teman berbicara mengalami hal yang sama dengan kalian, tapi pada akhirnya mereka pindah rumah dan kemudian mereka mendapat keturunan. Mungkin itu tidak terlalu berpengaruh tapi kau boleh mencobanya, lagi pula ia juga mengatakan bahwa lingkungan dapat mempengaruhi kehamilan"
"Benarkah? kalau begitu aku akan membicarakannya dengan suamiku"
"Tidak ada salahnya mencoba"
Di tempat lain Geri bersama Andra sedang duduk di apartemen milik Andra.
"Aku akan dijodohkan"
"Bagusla"
"Itu sangat buruk"
"Apanya yang buruk, memiliki istri itu adalah hal yang membahagiakan"
"Tapi aku bukan kau"
__ADS_1
"Oh bailah, jadi dengan siapa kau dijodohkan"
"Mereka merahasiakannya"
"Kami akan dipertemukan saat pernikahannya nanti"
"Kapan?
"Entahla"
"Kau tidka menolaknya?
"Itu permintaan Nenek'
"Aku mengerti"
Sore hari Geri pulang dan menjemput Carri di rumah Mia.
Ketika ia tiba di rumah Mia ia mendapati Carri sudah menunggu di depan sendirian.
Carri segera masuk ke mobil dengan senyum hangatnya.
"Kau terlihat sangat bahagia"
"Ya"
"Aku mendapat saran dari Mia supaya kita pindah rumah"
"Huh"
"Katanya ada temannya yang mengalami hal yang sama dengan kita dan mereka memiliki anak ketika pindah rumah, kau tahu faktor lingkungan juga berpengaruh"
"Kita akan lihat nanti"
"Kenapa"
"Sayang, kamu masih muda dan aku takut kebebasanmu akan hilang, lagi pula aku takut kamu akan menderita"
"Tapi sayang semua orang mengharapkan kita segera memiliki anak"
"Cucu kakekmu bukan cuma kamu, jangan terlalu membebani pikiranmu"
"Tapi hanya aku yang menikah"
"Sayang dengarkan aku, apa kamu sudah siap untuk mengandung, kalau kamu mengandung kamu tidak akan bebas mengurus perusahaan dan juga kamu masih sekolah hingga kamu akan terlalu lelah nantinya"
"Ya kau benar, tapi bagaimana dengan kakek?
__ADS_1
"Aku yang akan bicara dengannya, jangan terlalu memikirkannya"
"Aku percaya padamu"
Mia meningalkan Carri sendiri di rumahnya, ia tidak tega namun karena Carri memaksanya ia menuruti Carri dan kemudian ia berangkat untuk kerja paruh waktunya.
Saat tiba di tempat kerjanya itu seornag Nenek telah menunggunya.
Ia menghindari tatapan Nenek itu dan melangakh ke belkanag untuk mendapatkan atributnya.
"Lho Mia Nenek disana menunggumu dari tadi, kenapa kamu malah kemari?
"Lho aku harus bekerja"
"Tidak-tidak,, kau harus menemuinya"
"Memangnya kenapa, aku juga tidak mengenalnya"
"Tapi ia adalah Nenek dari pemilik tempat ini, kita harus mengikuti perintahnya"
Mia terkejut menganga, Nenek itu seornag kaya raya, lalu mengapa ia dulu menjadi pengemis. Mia hanya menolongnya karena rasa iba, ia bahkan membawanya ke tempat tinggalnya karena tidak tega membiarkannya tidur di halte dalam keadaan hujan deras.
"Mia, kok melamun sih cepat sana"
"Oh,,ok"
Mia segera kesana dan menemui Nenek itu.
"Nenek"
"Duduklah"
Mia merasa canggung untuk duduk satu meja dengan orang terhormat didepannya, apa lagi suasana begitu menyeramkan dengan 4 pengawal mengelilingi mereka.
"Nek, kenapa mencariku?
"Nenek merindukanmu"
Dalam sekejap Mia menganga melotot mendengar kalimat itu. Mungkin saja orang tua ini adalah lesbian, dan telah jatih cinta pada dirinya.
"Kau baik-baik saja Nak?
"Eh, eh ya"
"Tapi Nek aku harus bekerja sekarang, kalu tidak gajiku akan dipotong"
"Kami tidak perlu hawatir, Nenek akan mengurus semuanya"
__ADS_1