
"Nona, apa kau akan ke kampus?" Deon bertanya dari seberang telpon.
"Aku sudah mengubah semua jadwalku ke kuliah online. Aku akan mencari uang saja" Keti memainkan rambutnya merasa kesal.
Deon menyadari sikap Keti "Kalau begitu apa kau perlu bantuan?"
"Ya, kau bisa ke rumahku dan menemani tukang kebun membersihkan taman" Ketus Keti.
"Baik, tunggu aku dalam 30 menit" Deon memutuskan sambungan telponnya.
Begitu deon tiba di rumah besar ia melihat Keti hanya duduk di ruang keluarga dalam pandangan kosong.
"Dia sedang dalam suasana hati yang buruk. Mia akan pindah mulai hari ini" Merisa menyapa dari belakang melihat Deon menghentikan langkahnya.
"Hari ini Bu?" Deon merasa kaget kalau Mia mau pindah dari rumah besar bergitu cepat.
"Iya, dia akan tinggal di apartemen milik Andra, sepertinya ia tidak bisa melupakan suaminya... Hiburlah anak itu" Merisa kemudian berlalu meninggalkan Deon.
Deon berjalan perlahan ke arah Keti. Ia harus menyiapkan diri untuk menghadapi amukan Keti.
"Nona?" Deon menyapa pelan.
__ADS_1
Keti todak bergeming dan hanya menatap kosong ke arah TV yang dimatikan.
Deon hanya pasrah dan duduk di samping Keti sambil memainkan ponselnya.
"Ternyata aku tidak mengenal Ai dengan baik" Keti memecahkan keheningan dengan suara pelan yang mengandung nada kecewa.
Akhirnya patungnya berbicara juga. "Tidak ada yang bisa mengerti orangg lain dengan sempurna" Deon menjawab Keti.
Keti semakin buruk mendengar perkataan Deon "Aku merasa tidak berguna"
Akhirnya setelah Mia selesai dari meditasinya sekarang Keti baru akan memulai. Harus ada pencegahan dini!
"Ayo kita ke apartemen Mia" Deon menarik Keti hingga gadis itu berdiri.
"Tentu!"
Mereka tiba di apartemen Mia setelah 2 jam menembus kemacetan kota.
"Bagimana kau tahu kalau Mia tinggal disini?"Keti memandang ke arah bangunan megah di sana.
"Tentu saja aku tahu" Deon menarik Keti masuk untuk duduk di cafe bawah apartemen.
__ADS_1
"Kenapa kita bisa masuk dengan mudah?" Keti penasaran karena setahunya tempat seperti ini hanya bisa di kunjungi oleh orang yang memiliki kartu akses khusus untuk masuk.
"Nona, tentu saja bisa, mereka hanya menilai dari penampilan saja" Deon berkata dengan enteng.
"Kita hanya perlu menunggu Nona untuk pulang dari kantor, mungkin sebentar lagi" Deon melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Keti terus membisu. Seharusnya dari dulu ia tahu kalau Mia memang benar-benar menyukai Andra. Jadi ia tidak perlu merasa bersalah hingga terus menyumpahi kakaknya agar segera menghilang.
Sekarnag Kakaknya benar-benar menghilang dan Mia memjadi pribadi yang berbeda.
Ia menjadi jarang berkomunikasi dengan Mia karena terlalu takut menatap mata Mia yang menyembunyikan kesedihannya atas kepergian Andra.
Begitu pun Mia juga sudah jarang mendekatinya. Ia hanya pulang ke rumah besar untuk tidur dan bangun pagi untuk berangkat bekerja.
"Apa menurutmu Mia membenciku sekarang?" Keti menatap Deon dengan mata senduhnya.
"Apa maksudmu?" Deon merasa bingung. Bagimana bisa anak ini berpikir terlalu jauh?
"Selama Andra pergi aku merasa kalau Mia sangat jarang berbicara denganku, ia seperti menghindariku" Keti berkata sedih.
"Tenti saja ia jarang lagi berbicara dengan Nona karena kalian sudah punya kesibukan masing-masing." Deon beranjak meningalkan Keti untuk memesan sebuah minuman.
__ADS_1
Setelah itu ia kembali duduk di kursinya "Mia hanya terlalu sibuk dengan urusan kantornya. Kau tahu kan kalau saham perusahaan milik Andra jatuh drastis sejak berita kepergian Andra tersebar. Nona harus bekerja keras untuk mengembalikan kejayaan perusahaan peningalan suaminya"
"Begitukah? Tapi aku masih merasa bersalah" Keti menundukkan kepalanya.