
Merisa duduk sendirian di ruang tengah Rumah Besar, ia sedang gelisah menunggu seseorang.
Selama 1 minggu ini semua orang di rumah tidak pernah keluar dari kamarnya. Mereka hanya keluar ketika ada keperluan mendadak atau untuk sekedar makan saja.
Ia menjadi satu-satunya masih sanggup berkeliaran di rumah besar itu dari satu pintu ke pintu lain. Mengunjungi setiap kamar untuk memastika semua orang baik-baik saja.
Tapi menantunya adalah yang paling tertutup dan tidak mau membuka pintu kamarnya.
Ia sudah berkali-kali mengetok pintu kamar menantunya tapi tetap tidak penah ada jawaban.
Mia hanya akan mengijinkan pelayan datang membawa makanan untuknya. Itu pun makanannya tidak pernah habis dan hanya sedikit yang disentuh olehnya.
Merisa sudah sangat cemas Mia akan mati kelaparan atau jatuh sakit karena tidak makan dengan benar bahkan gadis itu tidak tidur dengan benar. Ia sering mendengar Mia menangis di malam hari, ia bahkan mendengarnya beberapa kali ketika siang hari.
__ADS_1
Tapi ia tidak bisa berbuat banyak selain membiarkannya. Ia tidak memaksa Mia apa lagi sampai membuat keributan untuk menantunya itu.
Sebuah mobil sport putih tiba di depan rumah. Para pelayan segera membuka pintu untuk sepasang suami istri yang melangkah masuk kedalam rumah.
"Kalian sudah datang?" Merisa dengan cepat berdiri menyambut Geri dan istrinya.
Perut Carri sudah semakin besar hingga ia terlihat agak kesusahan ketika berjalan. Apa lagi dengan tubuh mungilnya menopang perutnya.
Ia melakukan pengawalan yang ketat pada istrinya dan setia mengawasinya dari kantor. Bahkan ketika istrinya sedang tidur disampingnya ia terkadang bangun dengan cemas hanya untuk sekedar memastikan Carri baik-baik saja.
Cukup sekali ia hampir mati ketakutan ketika melihat Carri hampir keguguran hanya karena kelelahan. Sejak saat itu ia berubah psesif dan tidak membiarkan Mia melakukan apa pun sendirian.
"Ya Bu. Bagaimana kabarmu?" Carri tersenyum bahagia, setelah sekian lama ia akhirnya bisa memanggil seseorang dengan sebutan ibu.
__ADS_1
"Baik Nak, apa calon cucuku baik-baik saja?" Merisa tersenyum sambil memandang ke arah perut Carri yang buncit. Disana ada seorang bayi mungil yang menggemaskan.
"Baik Bu, tapi ayahnya yang selalu gelisah memikirkannya, terus mengawasiku ketika tidur." Carri tersenyum sambil duduk di sofa.
"Para lelaki memang seperti itu, mereka terlalu hawatir, itu karena mereka sangat menyayangi anak dan istrinya" Merisa melihat ke arah Geri sambil tersenyum penuh makna.
"Tapi dia terlalu berlebihan Bu, aku sampai tidak diijinkan untuk berdiri kalau dia ada di rumah" Carri dnegan kesal mengadukan perbuatannya pada Merisa. Seharusnya hal seperti itu ia ungkapkan ke ibu kandungnya, tapi kini ia malah mengungkapnya pada orang yang tak memiliki hubungan darah dengannya.
"Kalau begitu tinggallah disini dan lihat apakah dia masih berani melarangmu berdiri" Merisa tersenyum menggoda ke arah Carri.
"Terima kasih Bu, bagaimana keadaan Mia?" Carri sangat cemas akan sahabatnya itu. Ia sudah lama ingin datang untuk menjenguknya sejak ia mendengar berita buruk yang menimpanya. Tapi ia baru bisa setelah seuaminya memiliki waktu luang untuknya.
Ia selalu merasa kesal dengan Geri yang menjaganya seperti kaca yang rapuh seakan terbentur sedikit saja ia kan hancur berkeping- keping.
__ADS_1