Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 193


__ADS_3

"Bagaimana keadaan anda Tuan Wixel?" Mia berbicara melalui sambungan telpon.


"Saya sedang merawat lukanya, sepertinya perlu penanganan yang lebih kanjut. Saya berusaha menghubungi dokter tapi dia menghentikan saya" Asisten Min menjawab.


"Baik" Mia mematikan sambungan telponnya.


Ia melihat Keti yang sudah lelap di atas tempat tidur. Deon berada di sisi jendela kamar sedang menatap ke luar.


"Jagalah dia, aku akan melihat Tuan Wixel" Mia meletakkan ponselnya dan berjalan ke luar apartemen.


Apartemen Wixel.


"Nyonya" Asisten Min menyapa Mia.


"Aku sudah baik-baik saja, anda tidak perlu menghawatirkan saya" Wixel berkata sambil terus memejamkan matanya.


Mia memperhatikan Wixel. Jelas kondisinya kurang baik. Ia bisa mengalami demam karena luka yang parah di bagian kepalanya. "Tidak masalah, sepertinya anda perlu seseorang untuk..."


"Tidka, saya tidak butuh" Wixel langsung memotong kata-kata Mia.


Mia mengerutkan keningnya "Anda bisa mengalami demam di malam hari karena luka di kepala anda, apa lagi lukanya tidak mendapat penanganan yang tepat dari pihak rumah sakit"


Wixel membuka matanya dan menatap ke arah Mia. "Saya memiliki trauma dengan rumah sakit, apa lagi harus berhubungan dengan orang dari rumah sakit. Kalau boleh bisakah anda yang menjaga saya malam ini?"

__ADS_1


Mia tertegun mendengar kata-kata Wixel. Tidak baik untuk seorang wanita lajang dan seorang pria lajang untuk tinggal bersama. Lagi pula Keti sedang ada di apartemennya dengan kondisi kurang baik.


Ia tidak mungkin meninggalkan Keti, tapi juga Tuan Wixel. Keduanya sama-sama membutuhkannya. "Asisten saya akan menjaga Anda disini"


"Saya tidak bisa" Wixel berkata dengan anda tegas.


Tidak bisa?


Mia kebingungan. Ia kehabisan ide.


"Saya tidak terlalu menyukai laki-laki, akan buruk untuk kesehatan saya nanti" Wixel menjawab kebingungan Mia


"Maaf Tua Wixel, tapi saya juga tidak bisa menemani anda disini" Mia menjawab dengan tegas.


"Kalau begitu anda bisa kemari setelah pagi hari saja" Wixel memberi putusan.


Akhirnya Mia meningalkan apartemen Wixel.


"Nyonya, saya rasa Tuan Wixel sengaja membuat anda untuk terjebak bersamanya" Asisten Min berbicara setelah mereka tiba di apartemen Mia.


"Dengan melukai dirinya sendiri? Aku rasa dia memiliki trauma" Mia meningalkan asisten Min dan berlalu ke kamarnya.


Deon masih berdiri di posisi yang sama ketika Mia meningalkannya.

__ADS_1


"Nona" Deon segera berbalik ketika menyadari Mia sudah kembali.


"Kau bisa pulang, aku akan menjaganya" Mia berjalan ke arah Keti.


Gadis bodoh! Bagaimana bisa ia berpikir bodoh. Mia memperbaiki rambut Keti yang berantakan.


"Asisten Min" Deon menyapa Asisten Min.


Asisten Min hanya melirik ke arah Deon sebelum mereka keluar bersama.


"Bagaimana kabar tentang Tuan" Deon akhirnya bisa kembali ke dirinya sendiri.


"Tidka ada kabar. Mungkin memang sudah tiada" Asisten Min menjawab dengan dingin. Ada kesedihan disetiap kata-katnya.


"Kau bilang terakhir kali melihatnya ia masih hidup bukan?" Deon tidak bisa percaya kalau Tuannya benar-benar telah pergi.


Asisten Min mengingat kejadian terakhir saat itu "Aku melihatnya, lalu kemudian sebuah tembakan menembus kepalanya. Aku tidak berani lagi melihatnya setelah ia jatuh ke tanah. Darah itu..."


"Darah? Kau bilang ia masih hidup?" Deon tidak mengerti.


"Ya aku melihatnya masih hidup. Tapi setelah peluru itu menembus kepalanya membuat cipratan darah, aku langsung memalingkan wajah dan tak berani melihat Tuan dalam kondisi lain" Asisten Min menahan emosi.


"Jadi Tuan benar-benar tiada?" Deon mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Bagiku ia masih ada" Asisten Min meninggalkan Deon yang masih terpaku.


Ia masih ingat bagimana suara tembakan itu. Bagaimana peluruh menembus kepala tuannya dan bagaimana cipratan darah yang segar keluar dari kepala tuannya sebelum ia memalingkan wajah tidak mampu melihat tuannya rubuh ke tanah.


__ADS_2