Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 163


__ADS_3

Chito tersenyum melihat adegan yang baru saja ia saksikan. Entah apa yang terjadi pada malam kemarin sehingga dua orang itu sudah kembali akur.


Meski akting mereka berdua berjalan mulus dan banyak menuai pujian tapi semuanya akan berakhir sebentar lagi. Adegan berikutnya adalah adegan dimana mereka berdua berkelahi, dan tentu saja Chito lebih ahli dalam berkelahi.


Apa lagi melihat postur tubuh kedua orang itu, jelas Chito bukanlah tandingan Ken. Ken sedikit lebih pendek dari Chito dan juga memiliki tubuh yang lebih kurus.


Ia bisa membayangkan bagaimana sakitnya jika tubuh yang kecil seperti itu terkena pukulannya. Sekali saja langsung remuk. Apa lagi mereka bertarung tanpa alat jadi akan mudah baginya melukai Ken dan dirinya sendiri.


Ia akan membuat luka di tubuh ken hingga anak itu ingat bahwa ia tidak lebih baik darinya. Tapi disaat yang bersamaan ia akan melukai dirinya sendiri dan berpura-pura terkena pukulan yang disengajah oleh Ken.


Dengan senyum yang sempurnah Chito menghampiri Ken.


"Mau berlatih dulu sebelum syuting?" Chito bertanya dengan sopan pada Ken.


Adegan berikutnya adalah adegan perkelahian mereka.


"Ken kami sedang sibuk" Keti berbicara dengan sopan dan tersenyum penuh keramahan.


Sibuk apaan! Chico melihat Ken sedang berbaring sambil memejamkan matanya.


Keti mengerti pikiran Chico, tapi ia lebih tidak peduli padanya, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya pada laptopnya kembali.

__ADS_1


...


"Action" Sutradara memberi aba-aba.


Gilang menatap dingin penuh amarah. Di depannya ada seorang lelaki dengan tubuh atletis sedang menunggunya untuk ditaklukan.


Mata hitam pekat menjadi kelam dan uratnya menonjol kemerahan mewakili amarah yang meluap-luap ingin segera di lampiaskan.


Disisi lain Sam dengan segera cemoohnya hanya menikmati amarah yang dilihatnya dari Gilang. Ia adalah pemimpin gang terbesar yang bergerak dibawah tanah mengumpulkan anggota dan membuat kejahatan dimana-mana. Ia memiliki segalanya, termasuk keperkasaan.


"Hei bocah, jangan terlalu marah,," Sebelum Sam bisa menyelesaikan kata-katanya Gilang sudah menyerang dengan brutal.


Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan, semuanya meleset dan Sam hanya menghindar dengan tenang sambil terus mengoceh.


Satu tinju mendarat mulus di dada kirinya.


"Keparat sialan!!" Sam menyudahi permainan kecil itu dnegan berubah dari mode bertahan ke mode menyerang.


Otot-ototnya mengeras dan ia mengertakkan giginya sambil membalas setiap pukulan pada Gilang. Darah menetes sedikit demi sedikit hingga Gilang akhirnya tersungkur di tanah.


"Hei bocah! Sudah kuperingatkan bukan!" Sam tertawa perlahan.

__ADS_1


"Jangan senang dulu, ini bahkan baru dimulai" Dengan bakal ingatan yang kuat akan gerakan Sam, Gilang mengumpulkan tenaganya dan mengusap kasar darah di pelipis dan bibirnya. Ia menyerang brutal menyentuh setiap titik lemah Sam.


Chici tiba-tiba tersungkur di tanah. "Ahhhggg!"


Semua orang yang melihat adegan penuh ketegangan itu tersadar mendengar jeritan Chico.


"Cut"


Semua kru segera berlari ke arah Chito dengan perasan cemas.


"Perutku!" Chito menahan nafasnya sambil menggertakkan gigi dan mengerutkan keningnya.


"Pindahkan dia" Asisten Tua berkata penuh nada hawatir.


Ken meraih lap yang disediakan keti dan mengusap keringat dan darah buatan di sekujur tubuhnya. Ia kemudian dengan tenang kembali duduk di kursinya.


"Satu kecebong dibereskan, yang satu datang lagi" Keti menggerutu pelan sambil tetap tenang kembali mengerjakan pekerjaannya.


Mia hanya menatapnya dnegan datar, ia mengerti maksud Keti.


"Memar" Asisten tua terpenjat melihat bagaimana adanya memar di perut Chito. Ia pasti kesakitan karena luka itu.

__ADS_1


Semua orang terkejut melihat bagaimana memar itu sangat besar dan semakin membiru. Beberapa bahkan tak mau melihatnya karena terlalu takut dan hanya menghindar mencari tempat aman untuk menenangkan diri dari adegan mengerikan itu.


__ADS_2