Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 218


__ADS_3

Pagi harinya di apartemen ketika Mia bangun, ia memeriksa ponselnya. Keningnya mengerut ketika ia melihat ada panggilan yang terlewatkan. Panggilan itu berasal dari Carri dan waktu panggilannya pada pukul 12 malam.


Dengan segera ia melakukan panggilan lagi. "Mia, apa kau disana?" Suara laki-laki terdengar dari seberang telpon. Jelas terdengar bahwa laki-laki itu sedang dalam suasana hati yang baik.


"Ya, ada apa?" Mia bertanya dengan tenang ketika menyadari perasaan penelponnya. Akan ada kabar baik yang akan ia dapat kali ini.


"Dapatkah kau ke rumah sakit? Bayinya sudah datang! Oh! Bayinya menangis, cepatlah kemari!"Telponnya tertutup diiringi suara manis seorang bayi kecil yang sedang merengek.


Mia bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari suara Geri.


Ponakan. Mia terperanjat bahagia dan membayangkan seorang anak kecil yang mungil. Suasana hatinya menjadi terlalu baik ketika ia berlari ke kamar mandi untuk bersiap ke rumah sakit.


Pikirannya di penuhi kesenangan akan kehadiran ponakan baru sehingga ia tidak terlalu mengalihkan pikirannya ke tempat lain. Apa lagi membuang waktu untuk memberi tahu Keti. Ia hanya tahu bahwa ia harus segera tiba di rumah sakit dan melihat ponakan kecilnya yang manis dan imut.

__ADS_1


Sambil bersenandung ria ia berlari kecil menuju pintu dan membukanya dengan cepat. Karena terlalu bersemangat ia tidak berpikir akan ada orang yang datang juga dari arah lorong koridor hingga ia menabrak dada bidang orang itu.


Ia tersentak dan secara refleks mundur dua langkah lalu menunduk minta maaf pada siapa pun yang di depannya.


Tanpa menunggu respon orang itu ia segera berlari dengan suasana hati yang tetap bahagia ke arah lift.


"Tunggu!" Suara pira itu mengejutkannya hingga ia menghentikan langkahnya sejenak.


Sedetik kemudian senyumnya perlahan memudar ketika ia mendapati Wixel sedang berdiri di depan pintu apartemennya.


Mia memandang mengharapkan orang itu dengan cepat membiarkannya pergi. Ia tidak terlalu menyukai fakta bahwa Wixel selalu berada di sekitarnya dan terus mengitarinya.


Wixel sedikit menyesal ketika ia melihat perubahan ketika gadis itu berbalik. Tapi ia tetap mempertahankan senyum hangatnya "Kau mau kemana? Ku lihat kau begitu bahagia"

__ADS_1


Mia tidak ingin berlama-lama dengan orang itu hingga ia berpikir sesaat sebelum memutuskan untuk menjawab singkat "Aku buru-buru, maaf saya harus pergi" Ia kemudian berbalik dan berlari kecil ke arah lift. Seketika suasana hatinya kembali menjadi lebih baik.


Tanpa ia sadari Wixel yang ia tingalkan menggelapkan pandangannya hingga hantu pun akan lari ketika mereka melihat manusia itu.


Mia segera menekan tombol tutup pada lift. Ia tidak sabar menunggu pintu itu segera tertutup dan membawanya ke lobi.


Tinggal sedikit lagi dan pintunya akan tertutup. Tapi kemudian Mia menghela nafasnya dengan kasar ketika tiba-tiba sebuah tangan kekar menghentikan pintu liftnya.


Mia mengerutkan keningnya dan melihat Wixel sedang berdiri di depannya lalu melangkah masuk dan berdiri di sebelah Mia.


Seketika suasana dalam lift itu membuatnya merasa sesak. Akan menyebalkan kalau orang yang dihadapannya menawarkan diri untuk mengantarnya.


Katika ia masih bergumul cara untuk menghindar dari pria itu ponselnya kembali berbunyi. Itu adalah sebuah pesan singkat dari Carri mengenai lokasi rumah sakitnya.

__ADS_1


__ADS_2