
"Asisten Min? Mia tercengang ketika menyadari orang yang berjalan kearahnya adalah asisten Min, jika asisten Min ada disini tentu saja kutub utara juga ada disini. Jika kutub utara ada disini maka mungkin saja teman-temannya juga disini.
"Nyonya, pakai. Mantel ini" Asisten Min memayungi Mia sambil menyodorkan mantel tebal ditangannya.
Mia sudah kembali sadar ia menggigil "Te,, terima kasih" Mia memakai mantel pemberian asisten Min dan kemudian mengikuti langkah Asisten Min menjauh dari tempat itu.
"Tunggu, Bu Miranti masih terjebak,," sebelum ia dapat menyelesaikan pembicaraannya Asisten Min sudah memotongnya.
"Ia sudah aman"
Mia merasa lega setelah menyadari bahwa Miranti sudah aman sehingga ia hanya perlu mengkhawatirkan dirinya kali nini. Kutub utara sudah pasti akan menghukumnya, lalu bagaimana jika kejadian yang lalu kembali terulang. Sepintas bayangan ketika ia hampir di perkosa didepan suaminya membuatnya merinding dan spontan memeluk dirinya sendiri sabil terus melangkah mengikuti Asisten Min.
Ia bertekad untuk tetap bergabung bersama rekan-rekannya hingga tidak ada jalan bagi Andra untuk memperlakukannya sembarangan. Dengan menguatkan hatinya ia akan berusaha menghindar dari kutub utara dan tidak akan memberi sedikit pun cela pada ******** itu untuk memperlakukannya dengan buruk. Bagaimana pun ia masih memiliki masa depan yang panjang dan ia tidak mau terikat pada seorang lelaki yang sama sekali tidak menganggapnya.
Segera setelah tiba di penginapan ia berniat melarikan diri dari Asisten Min, "Pak Min, saya akan kembali ke kamar saja, Bu Miranti pasti sudah cemas menunggu"
__ADS_1
"Tidak usah hawatir, kami sudah memberi tahu semua ornag bahwa Nyonya sudah kembali lebih dulu, silahkan ikut saya. Asisten Min berjalan di depan Mia.
Tidak ada pilihan lain baginya, ia jelas tidak boleh membuat kesalahan yang bisa menyulut kemarahan suaminya hingga ia bisa mendapat hukuman yang lebih mengerikan.
Dengan kaki gemetaran dan kegugupannya ia mengikuti Asisten Min, ia masih trauma untuk bertemu Kutub Utara tapi ia jelas tak punya pilihan lain.
Segera mereka tiba di kamar yang mewah dan Mia mendapat sambutan dari beberapa pelayan yang siap mengikuti setiap perintahnya. Mia mengabaikan mereka dan berlalu dibalik kamar mandi.
Ketika ia keluar para pelayan masih berdiri di dengan rapi di depan kamar mandi menunggunya untuk dilayani. "Kalian keluarlah, aku akan beristirahat"
"Keluar!!!!!!!! Mia berteriak dan membuat para ppelayan itu ketakutan meninggalkan kamarnya. Ia segera mengunci pintu dan meletakkan sebuah gelas pada gagang pintu supaya dapat mengetahui jika ada orang yang masuk secara pakasa ke kamarnya.
Ia menuju kamar mandi dna segera mandi air hangat dengan tubuh telanjangnya ia memeluk dirinya sendiri menciptakan spekulasi bahwa hari esok akan jauh lebih baik.
Setelah berganti baju ia berbaring di ranjang dan mendapati HPnya sudah diletakkan di meja samping tempat tidur. Ia meraihnya namun batreinya juga telah habis hingga ia hanya kembali meletakkannya dan berbaring membungkus diri dalam selimut.
__ADS_1
Ia bahkan tidak berani mematikan lampu supaya ketika ada penyusup ia bisa dengan cepat mengetahui rupa orang itu dan dengan mudah merai botol yang sengaja ia letakkan di meja samping tempat tidur untuk berjaga-jaga.
Di tengah malam ia merasa lapar dan juga sedikit panas, tenggorokannya kering dan juga merasa pusing. Ia bangkit dengan pelan dari tempat tidur dan beranjak keluar mncari makanan. Ketika Mia membuka pintu para pelayan yang tadi diusirnya masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada yang bisa kami bantu Nyonya?
"Aku lapar dan butuh obat demam" Mia mengatakannya dan segera kembali masuk ke kamarnya.
Segera dengan cepat pelayan itu datang dan memberi semua kebutuhan Mia.
"Keluarlah" Mia berjalan mengikuti para pelayan itu dan hendak menutup pintunya ketika semua orang sudah ada diluar, tapi seketika pintunya tertahan oleh sebuah tangan besar. Ia kembali membuaka pintu itu dan ternyata Asisten Min yang sedang menahan pintunya. "Ada apa?
"Saya hanya memastikan bahwa anda baik-baik saja" Asisten Min memperhatikan Mia dengan seksama memindai wanita itu untuk membuat laporan pada tuannya.
"Aku baik saja, dan tidak perlu hawatir sampai seperti itu, sekarang pergilah dan biarkan aku istirahat" Mia segera membanting pintunya dengan keras, ia merasa geram dengan Andra yang terus saja mengawasi apa pun yang ia lakukan. Suaminya itu seperti mengawasinya dengan hati-jhati tapi sebenarnya sedang menikmati penderitaannya. Dasar maunia kejam yang tak beradab.
__ADS_1