
"Kau baik-baik saja?" Chito berbicara dengan tenang berharap Mischa akan percaya kalau ia sedang berusaha membantunya.
Sialan orang ini. Apa ia tidak tahu kalau ia sedang kesal dan berusaha menangkan diri. "Ada apa?"
"Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu" Chito melirik ke arah Ken yang sedang membaca naskahnya, ekpresi kakunya tetap bertahan dan asistennya sedang duduk bermain komputer. "Jangan terlalu memikirkannya, ia memang seperti itu pada semua gadis, tapi apa kau tahu kelemahan pria seperti itu?"
"Aku tidak peduli" Kenapa juga Mischa harus mencari kelemahannya, ia sudah tidak tertarik lagi pada Ken. Seorang lelaki yang memperlakukannya dengan buruk akan menjadi musuhnya selamanya. Selamanya!
"Kau tidak peduli? Yang benar saja, aku memberitahumu secara gratis. Aku hanya ingin melihatnya bersujud dibawah kakimu dan menikmati penderitaannya, kau tahu ini hanya sekedar hiburan saja untukku"
Mischa mengamati Chito dan merasa tertarik dengan idenya. Kalau ia bisa membuat Ken berlutut padanya maka ia bisa membalaskan dendamnya! "Katakan apa itu".
...
Gilang berjalan di sepanjang karpet merah dengan jas putih membungkus tubuhnya. Aurah kehangatan terpancar di bola matanya disertai senyum manis menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Semua gadis terperangah sambil membayangkan dirinya bersanding dengan Gilang. Lebih dari itu mereka ingin membuat Gilang berakhir di ranjangnya.
Di sisi lain Shiren dengan wajah dingin dan kakunya menjadi satu-satunya orang yang cuek dan tidak peduli.
Takdir berkata lain, Gilang berakhir didepan Shiren lengkap dengan senyum manis nan hangat yang dipancarkannya. Wajah tampan yang menawan memikat setiap gadis yang meihatnya.
Shiren yang merasa malas dan hendak berlalu meninggalkan Gilang tanpa sengaja jatuh karena gaun yang terlalu panjang.
Gilang dengan sigap menangkap dan merangkul pinggang Shiren hingga mata mereka bertemu. Mata yang hangat dengan mata dingin yang kaku.
"Cut"
Mischa meringis merasakan sakit, tapi kemudian tubuhnya melayang kembali dengan Ken mengangkatnya dan membawanya ke sofa untuk berbaring. "Maaf, aku tidak tahu kau akan jatuh"
"Sialan! Kau ******** kurang ajar! Bagaimana kau akan bertanggung jawab dengan rasa sakit yang kurasakan? Kau ini juniorku, dan kau memperlakukan aku seperti ini? Cari mati hah!" Kesempatan tidak datang dua kali. Mischa harus sempurna dalam hal ini supaya bia membuat lelaki dingin itu bertekuk lutut di bawahnya.
__ADS_1
"Kau bisa menuntutku" Ken berbalik dengan cepat meningalkan Mischa yang kini menjadi heran dengan lelaki yang tidakbisa di tebak itu.
"Hah, aku sungguh terkejut, bagimana bisa Ken begitu dingin?"
"Mungkin dia punya kelainan, tapi ia terlalu sempurna untuk memiliki penyakit aneh bukan?"
"Diamlah! Kalau kau tahu bahwa Ken sama sekali tidak memiliki informasi apa pun di internet maka kau bisa pastikan bahwa kita tidak boleh sembarang bicara, kita tidak pernah tahu sekuat apa latar belakangnya"
"Apa kau bilang? Tidka ada informasi sedikit pun?"
"Ya, jadi jangan memihak siapa pun, kita hanya bisa jadi penonton"
"Aku tidak peduli, tapi aku akan tetap memihak pangerasn es kita"
"Kau benar, ia sudah melakukan yang semestinya, aku tidak bisa membayangkan bagimana rasanya digendong oleh Ken, atau bahkan merasakan kulitnya saja. Apa aku akan mimisan nanti? Hah, bagaimana ini! Aku memiliki adegan kecil dengannya aaa"
__ADS_1
"Aku bahkan rela dijatuhkan olehnya dari lantai tiga asalkan ia mengendongku kembali ke atas, itu sangat sepadan!"
"Kau benar, kalau begitu bukankah aktris kelas A kita harus bersyukur karena bisa mendapat kesempatan disentuh bahkan digendong oleh Ken?"