
Carri keluar dari kamar mandi dibantu oleh suaminya ketika terdengar bunyi ketukan pintu. "Itu pasti Mia" Carri berseru dengan senang ketika ia tidak memperdulikan suaminya dan berlari ke arah pintu.
Tangan Geri melayang di udara ketika ia tidak menyangka istrinya akan terlalu bersemangat berlari seperti itu. Ia terdiam menatap punggung istrinya dengan mata kelam.
"Mia" Wajah ceria Carri mengiringi suara bahagia yang terdengar di kedua pasang telinga laki-laki yang ada disana.
Wixel memandang dengan heran ke arah Carri. Seketika ia mengerti bagaimana hubungan antara kedua gadis itu. Sebuah rencana terlintas di pikirannya ketika ia mengembangkan senyum palsunya yang hangat. "Maaf membuatmu kecewa" Wixel berkata penuh rasa penyesalan.
Carri langsung muram namun ia tetap memaksakan senyumannya dan mempersilahkan orang itu masuk. Ketika ia berbalik menatap suaminya yang masih mematung ia akhirnya sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar.
Dengan senyum polosnya ia berjalan ke arah suaminya dan merangkul lengan Geri dengan erat. "Kakiku terasa pegal" raut wajahnya menambah kesempurnaan aktingnya.
__ADS_1
Geri menatap Mia dengan dalam ketika ia tidak bisa marah dan malah merangkul gadis itu menuju ranjang pasien dan membantunya berbaring.
Wixel yang tadinya ingin melangkah menuju sofa menghentikan langkahnya ketika melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Mereka benar-benar diperbudak oleh cinta!
Geri menunduk ke telinga istrinya ketika ia membisikkan satu buah kalimat "Apa kau sudah tidak sabar mendapat hukuman cintaku?"
Carri menatap Wixel dengan wajah memerah. Melihat Wixel mengerti dengan arah pembicaraan mereka ia memukul dada bidang suamniya dan berbalik menutupi wajahnya yang memerah panas.
Disisi lain Wixel tertawa dengan keras ketika melihat kedua pasang sejoli yang sedang mabuk asmara itu. "Aku seorang lajang yang menyedihkan!"
Wixel segera melemparkan buket bunga yang ia pegang ke arah Geri.
__ADS_1
"Kau pemilih bunga yang tepat" Geri meletakkan bunga itu di atas meja dan bergabung bersama Wixel untuk mengobrol.
"Dimana bayinya?" Wixel melihat sekeliling ruangan yang tidak memiliki keranjang bayi dimana pun.
"Bayiku sedang menjalani pemeriksaan. Ia terus menangis selama 1 jam" Geri tertunduk lesu ketika ia melanjutkan " Kami tidak diperbolehkan melihatnya, katanya emosi orang tua akan terpengaruh ketika melihat pemeriksaannya berjalan. Terutama istriku baru saja mengalami masa-masa sulit setelah melahirkan."
Wixel tidka pernah mengerti dengan hal-hal medis sehingga ia hanya mengangguk kecil ketika kegelisahan mulai merasuk kedalam jiwanya. Ia baru ingat bahwa gadis yang bersamanya di lift belum muncul pada waktu yang selama itu.
Tentunya Geri dapat membaca gerakan orang di depannya. Itu terlalu jelas untuk orang pintar seperti mereka. Dia tertawa senang ketika mengetahui bahwa Wixel seorang raja bisnis yang kejam di luar negeri dapat terganggu juga. "Apa yang membuatmu begitu gelisah?"
Keterkejutan terpancar di wajah Wixel ketika ia menatap pria yang ada di depannya. Ini pertama kalinya seseorang dapat membaca ekspresinya. Bahkan ia menjadi bahan olokan Geri karena seorang wanita saja!
__ADS_1
Ia menatap Geri dengan gusar. Seberapa besar pengaruh wanita itu padanya hingga ia menjadi begitu lemah?
Geri semakin keras tertawa ketika melihat Wixel tidak dapat berkata-kata, lebih lagi bahwa mata pria itu menjadi semakin kelam. "Apakah wanita?"