Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 233


__ADS_3

"Tidak apa, menangislah jika itu terasa sakit" Suaranya menenangkan dan halus terdengar.


Deon terus terdiam sepanjang waktu menunggu gadis itu menjadi tenang. ia tahu gadis itu menangis bukan karena merindukannya, tapi mengenai perbuatannya pada malam sebelum ia meninggalkan kota G.


Hatinya terasa sakit untuk Keti, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam menguatkan gadis itu.


"Aku mengalami hari yang buruk! Dan ini salahmu karena meninggalkanku!" Keti berkata sambil terus terisak. Namun gadis itu masih setia memeluk erat Deon.


Mendengar suara yang terisak dari Keti, Deon merasa semakin sakit dan dunianya seperti runtuh. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya dan mengatupkan bibirnya hingga otot-ototnya menonjol dari dalam kulit akibat menahan diri. Ia tahu ini salahnya, ia yang telah bersalah! "Maaf, maafkan aku!"


Ia tidak menyangkah kalimat itu bukannya menenangkan Keti malah gadis itu menangis semakin keras sambil terisak mengeluh "Kau salah! Kau meninggalkanku, aku seperti mayat hidup dalam satu minggu dan kau malah pergi dan tidak menghiburku! Ini semua salahmu! Salahmu!" Keti memukul dada bidang yang berotot itu. Ia menjadi semakin histeris dan tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Maaf, maaf, aku janji tidak akan terjadi lagi dilain waktu" Deon berusaha menenangkan Keti dan memeluk semakin erat sehingga tidak memberi ruang bagi Keti untuk bergerak.

__ADS_1


"Ini semua salahmu!" Keti terus terisak dan menyalahkan Deon sepanjang waktu.


Baginya semua ini adalah kesalahan lelaki itu karena meninggalkannya di waktu yang tidak tepat. Mengapa Deon harus pergi ketika ia sedang dalam keadaan terburuknya?


Sampai beberapa saat Keti akhirnya berhenti menangis karena kehabisan tenaga. Ia terkulai lemas di pelukan Deon namun tetap memaksakan tenaganya untuk berpegangan erat pada pria itu.


Ada kenyamanan yang tidak bisa ia katakan, dan kepuasan merasuk pada sekujur dirinya.


Dengan menopang tubuh Keti yang lemas ia mendekati ranjang dan membaringkan Keti di atas ranjang besar itu. "Kau harus beristirahat agar tenagamu pulih, apa kau butuh sesuatu yang lain?"


Redupnya malam membuat pandangan mereka tidak terlalu jelas. Namun begitu, Keti terus menggenggam erat tangan pria itu, ia seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan ibunya pada saat suasana hatinya sedang memburuk.


Deon tetap duduk terdiam di samping Keti dan membiarkan gadis itu terus menggenggam tangannya. Pikirannya terlalu kalut untuk menghibur gadis itu. Lagi pula apa yang terjadi ialah murni kesalahan yang ia sengaja. Benar-benar dirinya adalah seorang brengsek!

__ADS_1


"Aku lapar." Imbuh Keti memecahkan keheningan.


"Apa yang ingin kamu makan?" Deon meletakkan tangannya yang lain di atas genggaman mereka berdua.


"Apa pun yang kau buat, tapi aku ingin melihatmu memasaknya" Keti mulai bangkit dan duduk sambil terus menggenggam tangan pria itu.


Ada dorongan dalam dirinya untuk terus melengket memeluk Deon, tapi ia merasa itu hanyalah sebuah perasan rindu akan sahabatnya yang baru saja kembali bertemu. Ia tidak terlalu memikirkan perasaannya, tapi ia tidak mau melepaskan pria itu. Ia merasa tenang bila ia terus melengket, ia ingin terus berdekatan dengan pria itu!


" Baiklah, ayo ke dapur." Deon menepuk lembut kepala Keti sebelum mereka terus begandengan tangan menuju dapur.


Keti duduk di meja dapur memperhatikan lelaki itu memasak sambil sesekali mereka akan bertukar pandang dengan senyum menghiasi wajah.


Keti tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan Deon sesungguhnya. Senyum terpaksa yang terlihat tulus itu...

__ADS_1


__ADS_2