
Mia hanya diam mendengarkan semua kata-kata mereka. Ia cukup senang kalau Deon berpikir Andra mencintainya. Semua yang dikatakan Deon masuk akal, dan ia juga berharap itu adalah kenyataannya.
Tapi ketika mendengar semua ucapan Keti, Mia juga merasa semua yang dikatakannya itu benar. Hatinya piluh, ia merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Saat ini ia berharap bahwa Andra benar-benar mencintainya. Ia pun merindukan pria itu, tapi ketika bertemu dengannya Mia merasa ketakutan setengah mati. Ia tidak berani mentaap Andra dan bahkan ia ingin segera lenyap ketika Andra berada di ruangan yang sama dengannya.
"Ya!!! Kacung sialan! beraninya kau bersikap tidak sopan pada nonamu? beraninya kau membantaku hah!" Keti sudah hilang akal, sejak bertemu Si Kacung ia semakin mudah marah. Dengan segenap kekuatannya ia memukuli Deon sambil terus mengomel.
Mia menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa berpikir jernih karena dua orang itu terus bertengkar. "Hei kalian!"
Astaga! Keti melupakan Mia, mereka ada di sini untuk menghibur gadis itu, tapi malah membuat suasana makin kacau. Keti segera memperbaiki posisi duduknya dan menatap penuh rasa bersalah pada Mia. "Maafkan aku Ai, aku terlalu kesal pada Si Kacung"
Deon memperbaiki rambut dan pakaiannya yang berantakan karena ulah Keti lalu menoleh ke arah Keti "Nona tidak boleh menjadikanku sebagai pihak yang bersalah, lihatlah aku, sangat berantakan karena ulahmu!"
__ADS_1
"Kau! Kau mulai tidak sopan lagi hah!" Keti sudah tidak bisa lebih sabar lagi.
Mereka bertengkar lagi! Kapan selesainya kalau dua-duanya tidak mau mengalah. "Kalau kalian masih ingin meneruskan pertengkaran kalian, aku akan pergi"
Kedua orang itu langsung diam dan menatap penuh rasa bersalah pada Mia seakan berpasrah menerima hukuman apa pun dari Mia.
...
"Tuan, semua keperluan sudah saya siapkan, kita akan berangkat besok pagi" Asisten Min melaporkan pekerjaannya pada Andra.
"Dia masih dalam perjalanan" Asisten Min segera meningalkan Andra sendirian. Ia masih harus melakukan banyak pekerjaan untuk keberangkatan mereka besok pagi.
"Kau sudah tiba. Masuklah sekarang" Ucap asisten Min pada Arron yang baru saja tiba.
__ADS_1
"Baik" Arron segera berjalan menghampiri Andra yang masih belum melepaskan pandangannya dari kaca apartemen miliknya itu. "Tuan"
Andra merasa bahagia bercampur takut. "Katakan"
"Hari ini, setelah Nyonya Kembali mengantarkan bekal untuk anda, dia terlihat sabngat buruk, dan tidak bebicara sama sekali. Ia terus menutup matanya di atas mobil. Tapi ketika kami sudah tiba di rumah, suasana hatinya sudah jauh lebih baik."
"Sepertinya Nyonya masih bimbang dengan perasannya pada Tuan, ia terus berpikir dan bertanya kemungkinan yang terjadi, tapi ia tidak mengatakan dengan jelas apa yang ia yakini. Tapi ia tampak hawatir setelah mendengar bahwa Tuan akan meningalkannya"
"Nyonya juga berpikir Tuan akan mencerikannya dan menikahi kekasih Tuan. Saya sudah memberi beberapa penjelasan, tapi Nona Keti bersikeras mendukung supaya Tuan dan Nyonya segera berpisah"
Segera keringat dingin Arron meluncur di punggungnya ketika mengatakan kalimat terakhirnya. Andra memiliki kebiasaan buruk menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya ketika ia dengan merasa kesal.
"Apa saranmu?"
__ADS_1
Arron bernafas lega, ia baru saja lolos dari kematiannya. "Saya rasa Tuan sebaiknya memutuskan sendiri. Saya tidak memiliki hak untuk memberi masukan. Tapi saya kan terus menjaga Nyonya selama hidup saya." Arron berkata seperti itu untuk menghadapi segala keadaan.