
Setelah memperhatikan Carri yang hanya diam dan ada dua penjaga yang siap menuruti keinginannnya maka Meri merasa menang, ia berpikir bahwa dengan itu ia bisa membalas dendam pada Sari.
Senyum kemenangan terukir di wajahnya, Itu adalah kesalahan Sari yang datang ke tempatnya menjumpai kematiannya sendiri.
"Kau pikir kau bisa menang dengan situasi seperti ini? Meri tertawa bangga dengan dirinya sendiri lalu menyuruh kedua penjaga disana untuk mengikat Carri.
Carri berusaha memberontak, namun tentu saja tenaganya tidak sebanding dengan dua orang laki-laki.
Pada akhirnya Carri hanya pasrah dengan kedua tangannya diikat ke belakang.
Meri menyuruh kedua penjaga itu keluar dari ruangan, karena ia yakin bahwa Carri sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima semua perlakuan darinya.
Meri tertawa bahagia menikmati pemandangan di depannya, dan dengan tatapan kemenangan ia menampar Carri.
Itu tamparan yang tidak terlalu keras namun disana terselip dendam dan cemooh yang semakin membuat Meri tertawa penuh bahagia.
Tak puas dengan sebuah tamparan, kemudian ia menarik rambut Carri ke belakang dan memberi 2 tamparan lagi.
__ADS_1
Carri hanya diam tak bersuara dan ia menahan setiap pukulan yang diterimanya, meski ia tidak mengerti mengapa Meri bersikap seperti itu tapi ia adalah wanita yang tidak pandai berdebat.
Meri merasa heran dengan tingkah gadis di depannya, ia memandangi Carri dengan meneliti semua bagian tubuh dan terutama wajah Carri.
Sempat di benaknya bahwa ia salah orang, namun dengan wajah dan tubuh di depannya itu adalah Sari, tidak ada sedikit pun orang lain selain Sari disana.
Meski riasan pad wajah Carri terlihat lebih baik dari ketiak ia masih mengenal Sari dnegan baik namun ia berpikir mungkin Sari mengubah penampilannya.
Merasa geram karena Carri tidak melakukan apa oun selain tertunduk, Meri meraih dagu Carri dan melihat mata Carri yang melihat ke arah lain.
Dengan itu Meri semakin mendidih karena kemarahan yang terpendam sekian lama kemudian pergi meninggalkan Carri pada ruangan itu sendirian.
Harapannya sekarang hanya Geri, karena ia tahu bahwa Meri kemungkinan adalah pemilik tempat itu jadi semua orang disana pastilah patu dengannya.
Dengan memeras otaknya Carri hanya mondar-mandir di ruangan itu dengan gelisah. Apa yang akan terjadi padanya jika Meri kembali lagi.
Rasa takut itu semakin mencuat dan berbagai kemungkinan buruk menjalar di pikirannya hingga ia rasanya ingin meledak.
__ADS_1
Air matanya kini mengalir tumpah ruah di pipi mulusnya membuat ia merasa perih karena bersatu dengan rasa panas bekas tamparan Meri.
Menit demi menit berlalu semakin memperburuk pikiran Carri yang kini hanya bisa tersungkur di pojokan ruangan itu sambil menangis dan berdoa Geri akan segera tiba.
Suara menyedihkan itu memperparah keheningan di ruangan itu membuat ruangan yang tadinya kosong memberikan aura baru dengan kesedihan dan ratapan seorang gadis menunggu sang penyelamatnya.
Jantung Carri seolah melompat dari tempatnya ketika suara putaran kunci terdengar begitu menakutkan, tatapannya yang buram diakibatkan air mata yang memenuhi kelopak matanya kini semakin menyedihkan.
Pintu akhirnya terbuka dan Meri melangkah ke ruangan itu diikuti seorang laki-laki bertubuh tegap dan memiliki otot yang kekar
Tatapan tak senonoh lelaki itu menyapu bersih gadis yang tersungkur di pojokan ruangan. Gairahnya semakin mencuat melihat kulit mulus Carri yang terawat seperti menantang untuk di cumbuh dengan basah dan kasar
Meri tersenyum bahagia meninggalkan Carri dengan lelaki itu.
Carri menjadi semakin takut hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat, tatapannya bahkan semkin buram karena air matanya yang semakin mengalir deras dari sarangnya.
Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Carri dengan tatapan penuh nafsu dan gairah yang kini semakin berkumpul tak bisa dikendalikan.
__ADS_1
Melihat gadis yang lugu yang sedang meringkuk ke arah tembok dengan wajah dan tubuh yang indah didepannya semkin membuat ia bersemangat untuk mencicipi setiap inchi tubuh Carri.
Tangannya yang kasar meraih dagu Carri lalu mengamati wajah polos didepannya, dengan jari jempolnya ia menghapus air mata Carri dan membisikkan kata-kata kotor di telinga Carri.