Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 170


__ADS_3

"Nona!" Deon berseru melihat Mia keluar dengan selamat.


Keti tidak mau kalah ia segera berlari menghampiri Mia dengan sejuta pertanyaan. "Bagaimana? Kau baik-baik saja? Apa dia menyentuhmu? Bagaimana dengan bekalnya, dia menolaknya? Apa yang ia katakan?"


"Biarkan aku tenang dulu" Mia menjawab lesu dan masuk ke mobil memejamkan matanya.


"Dia terlihat buruk!" Deon melihat ke arah Mia dengan prihatin.


Keti merasa cemas melihat Mia selalu diam dan tidak melakukan apa pun selama mobil melaju. Ia ingin menghiburnya tapi ia tidak memiliki ide.


"Nona, aku tahu ini terdengar aneh, tapi bolehka kita sarapan dulu?" Deon merasa akan mual karena rasa laparnya yang terlalu menganggu.


"Ide yang bagus! kita akan menonton film!" Keti berseru dengan gembira dan melihat ke arah Mia. Mia sangat menyukai film dan akan menjadi obat setiap kali moodnya sedang buruk.


"Nona, apa yang bagus? kita harusnya mengisi perut dulu lalu..." Deon menghentikan omelannya ketika sebuah pukulan mendarat mulus di kepalanya.


"Jadi kita akan ke bioskop sekarang!" Keti segera meraih ponselnya untuk memesan tiket.

__ADS_1


"Tidak usah, kalian sarapan dulu dan aku akan menunggu di mobil" Mia akhirnya membuka mulutnya namun tetap memejamkan matanya. "Aku ingin sendiri, jadi tingalkan aku di mobil"


"Baik Nona" Deon melajukan mobilnya ke arah restoran cepat saji.


Mia melihat kedua orang itu berjalan ke arah restoran sambil sesekali menoleh ke arahnya.


Ia tahu mereka cemas, tapi ia butuh waktu untuk berpikir sebentar saja sebelum memberutahu kedua orang itu apa yang sedang terjadi.


Seharusnya ia merasa senang karena bisa menjauh dari Andra dan menghirup oksigen bebas. Tapi hatinya melawan logikanya. ia terlalu kacau untuk bisa mengartikan semua yang ia alami hari ini.


Ia terlalu bingung dengan perilaku Andra. Suara Andra terngiang-ngiang di kepalanya sejak ia meningalkan ruangan itu. Suara yang berubah dan kalimat yang aneh.


Jika ia hanya mendengarnya sekali maka ia bisa berasumsi pendengarannya sedang kacau saat itu, tapi ketika kali keduanya orang itu berbicara dengan kalimat yang lebih panjang, ia tidak mungkin salah.


Meski saat itu ia merasa gugup, takut, dan sedang menekan rasa traumanya ia masih bisa berpikir sedikit lebih jelas. Ia masih fokus untuk penasaran apa yang akan dikatakan Andra.


Kemana Andra akan pergi? Megapa ia mengatakan kalau pertemuan mereka tadi adalah pertemuan terakhirnya?

__ADS_1


Mia mendengus kesal tidak bisa menyelesaikan teka-tekinya. Ini terlalu dadakan.


Baru saja ia merasa takut setengah mati karena bertemu Andra dan kali ini ia sudah merasa takut kalau mereka benar-benar tidak akan pernah bertemu lagi.


Ia ingin memaki Andra tapi tidak bisa. Orang itu selalu membuatnya berada di posisi yang salah. Menjauh salah, mendekat salah.


Dalam pikirannya menemukan 2 kemungkinan, yang tidak bisa diterima oleh hatinya.


Andra akan menceraikannya lalu menikahi kekasihnya atau Andra memiliki penyakit kronis yang ia sembunyikan.


Yang pertama tidak mungkin terjadi. Andra tidak mungkin menceraikannya karena Andra masih menghormati nenek. Tapi opsi kedua lebih tidak mungkin lagi, Andra ialah orang yang selalu memperhatikan kesehatannya. Ia memiliki dokter pribadi yang selalu mengatur pola makannya dan segala sesuatu menyangkut kesehatannya.


Mia menepuk kepalanya agar berpikir logis.


*Jangan lupa **dukung author** dengan memberi **like, masukan di kolom komentar dan vote bintang lima**.


__ADS_1


Terima kasih telah setia menunggu kelanjutan cerita **Tatapan Manis untuk CEO Milikku***


__ADS_2