
Dengan pasrah perawat itu meletakkan kembali keranjang bayinya di tempat semula sebelum berbalik "Nyonya, anda harus menyusui bayinya"
Geri dengan hati-hati meletakkan sang bayi mungil itu di pelukan istrinya ketika ia berbalik menatap suster itu "Berapa lama ia harus disusui?"
"Selama sepuluh sampai lima belas menit. Anda harus memastikan ia mendapat suplai asi setiap dua sampai tiga jam atau delapan sampai dua belas kali dalam sehari..." Suster itu menjelaskan dengan akurat.
"Apa?" Geri berkata penuh rasa terkejut. Ia diliputi perasaan cemas, takut dan penyesalan.
Ia menyesal bahwa bayi yang mereka dambakan akan sangat menyakiti istrinya!
Semua orang dalam ruangan itu menoleh dengan heran ke arah Geri. Hal seperti itu biasa bagi bayi, tapi mengapa orang ini sangat terkejut dan sangat putus asa mendengarnya?
__ADS_1
Suster di ruangan itu tidak bisa menahan rasa takutnya ketika melihat ke arah mata Geri yang sudah memiliki aurah aneh. "Apakah ada masalah Tuan?" Ia bertanya dengan nada pasrah ketika keringat dingin mulai meluncur di punggungnya.
Ia tidak mengerti dimana letak kesalahannya tapi menilai pandangan dan tingkah laku Geri ia bisa mengerti bahwa orang itu sedang berada dalam suasana hati yang sangat-sangat buruk.
Carri menyadari dengan jelas tatapan suaminya. Ia menggelengkan kepalanya dengan pasrah ketika melihat reaksi suaminya itu.
Geri dengan dingin melotot ke arah suster yang terpaku diam itu "Kau bilang ia harus menyusuinya selama lima belas menit dan kemudian dilakukan setiap tiga jam sebanyak dua belas kali dalam sehari? Kau pikir kau istriku adalah sapi perah? Kau ingin tanggung jawab jika istriku kelelahan karena kurang istirahat...."
Geri menggelapkan pandangannya ke arah Carri ketika ia dengan tidak sabaran berkata "Kau ingin menuruti perkataan suster itu hingga ia menggagu waktu kita bersama? Kau pikir utangmu selama mengandung bisa dibalas hanya dalam waktu 3 jam?...."
Carri segera menutup mulut tidak tahu diri milik suaminya dengan tangan lembutnya. Tidak adakah pria ini memiliki sedikit rasa malu untuk membahas semua itu di depan orang asing?
__ADS_1
Wajah Carri memerah ketika ia berbalik lagi mengisyaratkan suster itu untuk keluar saja.
Wixel yang tidak tahan juga ikut melanggkah pergi. Setelah pintu tertutup terdengar suara ketawa samar-samar dari luar. Jelas pria itu tidak dapat menahan tawanya hingga ia menyelinap keluar dengan cepat untuk melampiaskannya.
Sebelum keduanya tersadar si bayi sudah menangis menyadarkan sepasang suami istri yang masih menatap pintu itu.
Carri dengan cepat menenangkan bayinya "Biarkan aku menyusinya" Geri menatap istrinya dengan sedih, ia tidak bisa membayangkan bahwa istrinya akan kelelahan untuk waktu yang lama. Bukan hanya hitungan menit, bahkan ini hitungan bulan bahkan tahun!
Tapi ia juga tidak bisa melakukan apa pun anaknnya juga butuh asi milik ibunya, jadi Geri tidak bisa melarang Carri untuk bertindak.
Diam-diam dalam hatinya ia menyesali telah membuat Carri hamil hingga mengalami penderitaan seperti ini. Ia pikir sudah cukup bahwa istrinya harus mengalami mual dan kesulitan makan serta sulit berjalan ketika ia hamil. Ia pikir penderitaan istrinya akan berakhir setelah bayi mereka lahir. Tapi apa yang terjadi bahwa istrinya masih harus menahan lelah setelah melahirkan.
__ADS_1