
Mia menatap dalam wajah pria di depannya Ia tidak mengerti apa maksud Wixel mendekat ke arahnya. Ketika pria itu semakin mencondongkan wajahnya ia menjadi panik hingga wajahnya memerah.
"Wajahmu merah," Wixel berkata pelan sambil terus menatap dalam mata Mia. Ia sudah menemani wanita itu selama seharian dan hubungan mereka semakin dekat. Tapi sampai akhirnya ia diusir secara halus dari kamar itu.
Sialan! Ia sengaja melakukannya!
Mia segera memalingkan wajahnya dengan cepat. Jantungnya berdetak kencang seperti ingin keluar dari tempatnya. Bagaimana pun ini adalah kali pertamanya menjadi sedekat itu dengan seorang pria.
Wixel tersenyum puas melihat reaksi Mia dimana wajahnya menjadi lebih merah sampai pada bagian telinganya.
"Mari menikah," Wixel menarik tubuhnya dan menjaga jarak dari Mia. Tapi kata-kata yang ia ucapkan tetap stabil dan penuh ketulusan.
Mendengar penuturan Wixel Mia semakin merasa panas dan ia tidak bisa menahan emosinya. Ia ingin berteriak dan memaki Wixel agar meninggalkan tempat itu. Tapi sungguh bahwa ia tidak sopan jika melakukannya. Lagi pula orang itu sudah menjaganya selama ia masuk rumah sakit. Bahkan Wixel juga yang telah menyelamatkannya dari preman yang hampir membunuhnya.
__ADS_1
Sebelum ia bisa mengatakan apa pun Wixel sudah berjalan ke arah pintu sambil berbicara pelan "Kau punya waktu 1 minggu untuk memikirkannya." Segera pintu tertutup dengan pelan.
Mia berada di posisinya tetap berdiri sambil melihat ke arah pintu. Pangeran impiannya telah datang, orang itu benar-benar seperti lelaki yang menjadi idamannya sejak ia masih kecil. Hangat, manis dan lembut.
Mia menggelengkan kepalanya karena sadar sudah memikirkan kemungkinan aneh seperti itu. Lagi pula jantungnya masih berdetak dengan normal. Ini menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak memiliki perasaan pada pria itu.
Bahkan ketika pria itu melamarnya barusan ia malah marah dan ingin melemparkan pria itu ke laut hingga bisa menjadi makanan ikan.
"Ini aku," Suara hangat seorang pria mengagetkannya. Ia segera menghapus jejak air matanya dan berbalik dan mendapati Wixel sedang berdiri di depannya dengan senyum yang begitu memukau.
"Kau sedang menungguku? Baru setengah hari saja dan kau sudah rindu?" Wixel berjalan ke arah Mia membungkus wanita itu dengan jaket yang ia tenteng. " Jangan berada di sini, anginnya tidak bagus untuk kesehatanmu"
Hangat, manis dan lembut.
__ADS_1
Ketiganya memang cocok untuk Wixel. Mia tersenyum dan berjalan mengikuti arahan pria itu.
Ketika tiba di tempat tidurnya Mia melepaskan Jaket pria itu dan mengembalikannya. Ada begitu banyak hutang yang ia miliki pada pria ini. Bagaimana ia akan membalasnya?
"Terima kasih, tapi kamu sungguh tak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk menungguiku, aku...."
"Tidak, jangan berkata begitu, bahkan hidupku akan ku korbankan untukmu, i
seperti itulah cintaku untukmu" Wixel tersenyum hangat.
Mia tidak pernah diperlakukan seperti itu, ia merasa malu dan juga tidak pantas menjadi wanita yang diidamkan seseorang seperti Wixel. Dengan cepat ia merubah topik pembicaraan.
Hingga larut malam ia sudah tidak bisa menahan kantuknya dan tidak lagi dapat menggunakan tenaganya untuk terus mengusir Wixel hingga ia membiarkan pria itu melakukan apa pun yang ia sukai.
__ADS_1