
Ia menjadi semakin takut, badannya gemetaran dan kakinya lemas seperti kehilangan kekuatannya. Tangan yang ia gunakan untuk menahan cekikan dilehernya kini dirampas oleh orang itu dan diletakkan dipinggangnya.
Cengkraman yang kuat itu melukai tangannya memberi jejak lebam yang mengerikan, rasa sakit dari cengkraman dan cekikan yang ia rasakan membuatnya mengertakkan gigi berusaha menahan suaranya.
Ia takut jika bersuara orang itu akan semakin memperlakukannya dengan buruk.
Kakinya merontah sembarang arah namun usaha itu sia-sia, bahkan ia hanya menyentuh udara.
Tidak ada yang bisa menolongnya, kegelapan dan keheningan yang menyeramkan menemani ia dalam ketakutannya.
Keringatnya meluncur deras dari dahi dan lehernya, bahkan bajunya menjadi basah oleh keringatnya sendiri.
Nafasnya semakin memburuh dna air matanya sudah banyak terbuang. Namun ornag yang mencekiknya tidak mau berhenti, perlahan ia kehilangan semua tenaganya dan emnjadi lemas.
Tapi sebelum ia jatuh ia sudah melayang di udara, waktu yang sangat singkat sebelum ia mendarat dan terpental di sebuah ranjang yang besar.
Perlahan ia mngumpulkan tenaganya kembali lalu memberanikan diri menjauh dari tempat itu, namun belum sempat ia berpindah satu langkah, kakinya ditarik kembali dan ia tertindih oleh beban berat membuatnya tak kesulitan bernafas.
Ia menggerakkan tangannya berharap menyentuh sebuah benda yang akan ia gunakan sebagai senjata, namun nihil tidak ada apa-apa.
Dengan pasrah ia menyerahkan tubuhnya pada orang itu dan hanya menelan keputusasaannya.
Indha terbangun dari mimpi buruknya dan kini bajunya telah basah oleh keringat.
Ia berjalan ke kamar mandi dan berendam air hangat sampai airnya menjadi dingin.
Setelah selesai ia menggunakan pakaiannya lagi, ini masih tengah malam namun ia tidak ingin lagi tidur.
Ia memandang ke jendela yang tertutup pintu yang terkunci, apakah ia benar-benar aman?
Perlahan ia kembali ke tempat tidur dan terus terjaga sampai pagi, ia takut seseorang akan menerobos masuk ke kamarnya dan menyakitinya.
__ADS_1
Pagi hari ia berangkat ke sekolah dengan langkah kaki berat, ia masih mengantuk dan kantung matanya terlihat hitam dan bengkak.
Begitu tiba di ruang kelas ia menjadi lebih aman karena ada banyak anak-anak disana.
Karena itu masih pagi ia memanfaatkannya untuk tidur dengan menyembunyikan wajahnya diatas meja.
Tak lama kemudian jam pertama dimulai, ia benar-benar tidak fokus hingga jam ke-2 ia menjadi gugup mngingat kemarin Regan mengatakan ia akan menemuinya.
Ia sangat gelisah sampai saat jam istirahat ia sudah tidak lagi mengantuk tapi sekarang kegelisahan meliputinya.
Sepanjang jam istirahat tangannya tidak berhenti mengeluarkan keringat dingin, bahkan ia beberapa kali ke toilet karena mulas yang tidak jelas.
Tapi pada akhirnya sampai jam istirahat berlalu Regan tidak pernah datang juga, ia menjadi kecewa, ia pikir Regan akan berubah padanya setelah kemarin ia datang menemuinya.
Sepulang sekolah ia kembali kerumah dengan lesu, karena ia berjalan kaki, maka ia sampai lebih lambat, ia malas naik angkutan umum karena moodnya lagi tidak beres.
Setelah sampai di rumah ia tidak memperdulikan apa pun dan berjalan masuk ke rumah dengan wajah tertunduk.
Indah kaget, selama ini tidak ada seornag pun yang dia ajak ke rumah, knp ada temannya?
Indah berjalan kembali ke ruang tamu dan kaget melihat Regan sudah duduk disana sambil tersenyum bangga padanya.
'Jadi ini yang dimaksud menemui aku hari ini?
Dalam hati Indah merasa bersalah kerena telah berprasangka buruk pada Regan, bahkan ia juga menjadi murung tanpa sebab.
"Kenapa kau kemari?
"Lho indah, kok ngomongnya gitu sih,? Kan bagus kalau teman kamu datang, kamu juga belum pernah ngajak satu pun temanmu kemari" Ibu Indah merasa malu dengan tingkah anaknya itu.
"Gak papa kok tante, saya emang sala gak ngasih tau indha lebih dulu"
__ADS_1
"Maafin anak tante ya Nak"
"Iya tante"
"Jadi ada urusan apa kamu ke rumahku? Ganggu waktu saja"
Ibu Indha merasa geram dengan putrinya lalu memukul kepalanya dengan lembut "Kamu ini"
"Jangan dipukul tante, kasian. Saya kesini cuma mau bilang kalau saya minta Indahnya dijagain buat saya, saya menyukai anak Tante"
Geri berbicara dengan penuh keyakinan sembari memberikan senyum hangatnya.
Indah dan ibunya kaget sesaat baru kembali ke pikiran jernihnya lagi.
"Iya Nak Regan nanti tante jagain buat kamu"
"Ih Ma, apa-paan sih, aku tuh gak suka sama dia!!!
"Lah kalo gak suka kenapa ada banyak fotonya kamu pajang dikamarmu?
Seketika wajah Indah menjadi merah padam dan berlari ke kamarnya.
"Kayaknya Ibu sudah sala ngomong deh"
"Ga kok tante, makasih sudah ngasih tau saya, saya boleh gak kejar Indah ke atas"
"Oh ya, kamu harus bisa buat dia tersenyum lagi, soalnya Indah seminggu dia selalu murung sampai udah kurusan"
"Iya makasih tante"
"Iya kamu kejar dia sekarang"
__ADS_1