
Malam hari di rumah besar, Mia, Keti dan Deon merayakan pesta keberhasilan mereka dengan sepotong pizza dan minuman bersoda.
"Nona, jadi kau meretas ponsel milik Asisten Tua dan memberi informasi palsu pada Sari? Hahahhaha, aku sangat terkesan, tapi kau bilang kau menelponnya, bagaimana caranya mengubah suara?" Deon dengan rasa ingin tahu yang tinggi memandang Keti dengan ekspresi seperti seekor anak anjing lucu yang menggemaskan untuk mendapatkan hati tuannya.
"Tentu saja aku jenius, dan lagi, meski aku menjelaskannya padamu, kau tetap tidak akan mengerti!" Keti memandang acuh pada Deon dan beralih melirik Mia, Saudariku yang satu ini memang pandai akting, aku rasa kau harus bemain film agar bisa menguncang dunia" Keti mengedipkan sebelah matanya pada Mia dan menunggu respon Mia.
"Aku mendapat tawaran" Mia menyerahkan selembar kertas yang diberikan Tuan Henry.
__ADS_1
"Alamat? Alamat apa ini?" Keti bertanya penuh rasa ingin tahu, tidak mungkin ini alamat sembarang, dan jika digabungkan dengan kata Mia sebelumnya maka jelas ada sesuatu yang besar disana. Anak ini memang selalu beruntung!
Mia tidak tega merusak suasana saat ini apa lagi ekspresi kedua orang didepannya sungguh seperti dugaannya. "Tuan Henry meminta bertemu"
"Apa!! Oh tidak ini, ini berarti, oh bagaimana ini, aku akan segera jadi makeup artist, oh bagaimana ini" Keti bersorak penuh kegirangan, ia sangat bahagia, ini adalah pertama kalinya ia kan melakukan sebuah pencapaian, selain pencapaian karena keluarganya, ini karena dirinya sendiri, kemampuannya sendiri!
Deon merasa bingung, Mia saja terlihat biasa saja, mengapa orang satu ini yang lebih heboh "Nona, mengapa kau yang terlalu senang, bukankah artisnya jauh lebih baik?"
__ADS_1
"Diam kau kacung! Kau tidak mengenalku lebih dalam, kau hanya milihat gunung es yang muncul diatas permukaan laut saja dan tidak pernah tahu yang dibawah air, jadi jangan mengacaukan kebahagianku dengan memberi pertanyaan dan pernyataan yang konyol" Keti tetap bahagia dan beralih pada Mia sambil mengatur nafasnya "Kak, dengarkan aku, kau harus menerima tawaran itu, kita bisa masuk ke industri hiburan dan menyelidiki Nari, dan terutama membuat Sari kebakar jenggot. Lalu kita masih mendapat untung lain, kita bisa memiliki pekerjaan, dan juga mendapat uang, ini menambah uang jajan bukan? Jangan memikirkan orang lain seperti memikirkan gadis yang jadi lesbian karenamu, saat ini kita hanya perlu bersikap sedikit egois, sekali ini saja ok!!!" Keti meraih tangan Mia dan mengenggamnya memberi dukungan, ia tahu Mia akan menolaknya, tapi ini adalah kesempatan besar dan tugasnya adalah meyakinkan Mia.
Mia tertawa dalam hati mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Keti.
Semua yang dikatakan Keti memang benar dan sangat menggiurkan, tapi tujuannya bukan kesitu. Ia ingin mengatur keuangan dan bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang tinggi sehingga ia bisa menghabiskan gajinya dengan berbelanja seperti membeli kacang goreng. Ia tidak perlu takut kekurangan uang dan tidka usah berpikir untuk berhemat, dan lagi, semua yang ia pakai adalah jeri payahnya sendiri. Itulah hidup yang menjadi impiannya.
Dengan bekerja di perusahan besar, maka ia bisa mempertahankan sikap jujur dan bertanggung jawab, tidak ada jalan kotor di pekerjaan seperti itu.
__ADS_1