Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 199


__ADS_3

Deon merasakan keringat dingin di punggungnya sudah membentuk aliran sungai.


Siapa yang begitu bodoh membuka kenangan menyakitkan seseorang ketika orang itu baru saja pulih dari kesedihannya.


"Deon cepat katakan atau kau mau tulangmu kupatahkan!" Mia sudah tidak tahan melihat Deon yang bersikuku memalingkan wajahnya tidak mau menatap Mia.


Deon tidak bisa tidak tertarik dengan ucapan Mia. Bagaimana bisa ia tidak merasa takut pad perempuan di depannya.


Setelah Andra pergi ia menjadi cermian Andra. Suka dingin dan terlalu susah di tebak.


Deon tidak punya pilihan selain beelutut memohon ampun "Maafkan aku Nona" Dengan kata lain ia tidak bisa membuka mulutnya.


Mia merasa kepalanya akan pecah baru saja ia akan memaki Deon ketika Keti sudah lebih dulu berteriak.


"Hei kacung! Bagaimana bisa kau tidak mengatakannya hingga aku harus mengamatinya sampai waktu yang lama baru menyadarinya!" Keti adalah merasa sangat teetekan.


Meski pun wajhanya tidak seperti Andra, dan lebih sikanya berbanding terbalik dari Andra. Tapi siapa pun yang melihatnya pasti mengatakan kalau mereka orang yang sama.


Dan bagaimana bisa ia memaki Mia yang lebih terpukul dengan kenyataan itu. Ia hanya bisa memaki dan menyalahkan Deon.


Deon tidak bisa menghadapi kedua gadis itu ketika mereka telah mnegamuk. Lagi pula ia berada di kandang sinag dengan jalan keluarnya berada di belakang kedua singa betina yang sedang mengamuk.


Deon langsung bersujud di lantai. Ia tidak berani menatap mereka "Nona, mereka memang terlihat mirip dari mana pun.Tapi kalain tahu kan kalau aku hanya pernah melihatnya dari sebuah foto" Deon tidak bisa merangkai dengan baik kata-katanya jadi ia hanya menjawab sembarang. Yang terpenting ia tidak membongkar penyamarannya.


"Kau bilang tidak pernah melihatnya secara langsung?" Mia memastikan kata-kata Deon.


"Ya nona" Deon masih menyembunyikan wajahnya di bawah lantai. Siapa yang peduli dengan harga dirinya ketika nyawanya lebih penting!


"Kau bilang kau tidak mengenalnya" Mia dengan cepat kembali bertanya.


"Ya Nona" Deon bergetar merasa dirinya mendekati ujung tanduk untuk mengungkap semua rahasianya.


Di tempatnya Keti tidak mengerti mengapa Mia menanyakan pertanyaan yang sudah jelas pada Deon.


Ia tidak berani lagi membuka mulutnya jadi ia hanya keheranan memperhatikan kedua orang itu.

__ADS_1


Yang satu bagai detektif berpengalaman melakukan interogasi dan yang lainnya bagai tersangkah utama yang sedang menyembunyikan kesalahannya.


Ia tidak mengerti mengapa Deon bersikap seperti itu, tapi ia lebih merasa bingung dengan pertanyaan Mia.


"Ku tidak pernah melihatnya secara langsung, kau tidak mengenalnya. Tapi mengapa kau lebih cepat mengenali dan menyadari Wixel mirip sepeti Andra dibanding kami? Mengapa pula kau begitu terkejut sampai lupa diri ketika menyadari hal tersebut?" Mia penuh dengan keyakinan yang mengarah pada Deon.


Deon segera bergerak memeluk kaki Mia. Ia akan hancur saat ini juga. Ia akan segera dibuang!


Mengapa ajalnya tiba begitu awal. "Nona, maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak mengenal Andra. Aku hanya merasa kaget kalau Andra benar-benar hidup kembali, Nona, aku berkata jujur apa adanya"


Keti baru saja bisa menelaah apa yang terjadi. "Kacung! Beraninya kau merahasiakan sesuatu! Katakan apa yang terjadi!"


"Nona, kumohon, aku benar-benar tidak melakukan apa pun" Deon memeluk erat kaki Mia.


"Ayo Pergi" Mia menarik kakinya dan menghempaskan Deon ke lantai.


Ia kemudian hendak membuka pintu ketika Deon kemali memegang kakinya." Nona tunggu! Tunggu! Aku kan mengatakannya" Deon tidak bisa melakukan ini, tapi ini adalah pilihan terakhirnya.


Mia dan Keti kembali berbalik dan menatap Deon. "Kembali duduk"


Deon dan Keti kembali ke ruang tengah.


"Akhirnya kau keluar juga, aku sudah lama menunggu" Wixel tersneyum ramah semakin menambah pesonanya.


Mia memandang Wixel dengan seksama. Matanya lebih hangat dan tidak mirip sesikit pun dengan mata milik Andra.


Mia memperhatikan kulit wajah Wixel, dan itu benar-benar asli dengan pori-pori kecil yang halus menunjukkan laki-laki di depannya sangat memperhatikan kulitnya. Tidak telihat adanya topeng atau kepalsuan pada wajahnya. "Maafkan aku, tapi aku ada sedikit masalah pribadi jadi aku tidak ada..."


Sebelum Mia bisa menyelesaikan kata-katanya Wixel sudah menyela "Baiklah, selesaikan dulu" Ia tersenyum sebelum beranjak menjauh dari Mia.


Mungkin mereka sudah menyadarinya. Wixel tersenyum sambil berjalan menjauhi Mia. Ia perlu memberi waktu bagi Mia untuk memikirkannya dan mengubah pandangannya pada dirinya.


Dengan begitu mereka bisa semakin dekat dan tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk sepenuhnya memiliki kucing kecilnya itu.


Hati Mia akan tertempa dengan tulus untuknya, dan tidak ada paksaan sama sekali.

__ADS_1


Mia memperhatikan punggung lelaki itu. Terlihat sangat mirip dengan Andra.


Mungkinkah itu dia?


Mia menyimpan pertanyaannya dalam hati dan kembali masuk ke apartemen. Ia memiliki masalah yang peelu diselesaikan dengan Deon.


Di ruang tamu dua orang duduk berhadapan dengan Deon yang tertunduk menyanggah kepalanya.


Keti dusuk di depan Deon sambil memperhatikan lelaki di depannya.


Mungkin saja selama ini mereka sudah salah menilai Deon hingga mereka harus tertipu pada pria yang tampak polos itu.


Keti tidak bisa menghilangkan ingatannya bagaimana Deon menjadi kaku dan mengalami kekosongan setelah menyadari Wixel benar-benar mirip dengan Andra.


Siapa yang bisa mempengaruhi seseorang sampai sehebat itu selain mereka memiliki hubungan yang dekat. Hubungan yang sudah di pupuk dalam waktu yang panjang.


Mia melihat Deon dan duduk di samping Keti. "Jadi kita bisa menyelesaikannya sekarang"


Suara dingin Mia meraung-raung pada gendang telinganya memaksa mengacaukan semua rencana yang ia susun.


Tentu saja ia memilih untuk berkata akan mengakuinya di depan kedua orang itu. Ia hanya perlu beberapa menit untuk menenangkan diri dan mengatur rencana lain.


Semuanya berhasil sampai ia mendnegar suara dingin Mia membuat dunianya serasa berputar merusak semua rencana yang ia susun.


Deon mengangkat kepalanya dengan perlahan dan melihat ke arah dua orang yang ada di depannya. Tatapan penuh selidik kedua orang itu seperti panah tajam yang diarahkan padanya.


Lidahnya sudah kaku hingga tidak bisa mengatakan apa pun.


Beberapa saat ia kemudian membuka mulutnya dengan perlahan "Biarkan aku mendapatkan minum dulu"


Mia mengerti kegugupan Deon. Ia tidak seharunya bersikap terlalu tegas padanya. Lagi pula pria itu tidak pernah mengecewakan mereka setelah beberapa bulan bersama.


Semua rahasia mereka di ketahui olehnya, dan tidak pernah ada yang bocor pada siapa pun.


Mia menganggukkan kepalanya dan melihat Deon sudah berlalu ke arah dapur.

__ADS_1


Punggung pria itu sedikit membungkuk menunjukkan adanya beban berat yang di pikulnya.


Ia lebih kuat dari dugaan Mia.


__ADS_2