
Pagi-pagi sekali Ken dan Keti sudah berada di lokasi syuting. Belum ada aktor atau pun aktris yang datang, hanya ada para kru ynag sudah mempersiapkan segala perlengkapan mereka.
Kali ini mereka tidak hanya berdua, ada pula Deon dengan penyamarannya berada disana.
Ken tertidur di bangku malasnya sementara Keti selalu bergelut dengan komputernya.
"Nona, beri aku sedikit pekerjaan" Deon merasa kesal bila harus menghabiskan waktunya untuk hanya duduk dan tidak melakukan apa pun. Ia sudah gelisah selama setengah jam menunggu kedua Nonanya memberi sebuah perintah.
Keti sangat terganggu dengan suara kecil Deon. Ia ingin fokus mengerjakan tugas kuliahnya tapi kacung itu tidak memberinya waktu yang tenang. "Pergilah ke toilet dan bersihkan lantainya!"
Bah! Apakah dia seorang cleaning service disini? Keti benar-benar kejam!
Deon meratapi nasibnya. Ia hanya bisa duduk diam dan memainkan HPnya. Masih banyak waktu sebelum syutingnya di mulai hingga ia akan sangat bosan sepanjang waktu itu.
__ADS_1
Sementara ia melakukan scroll pada beranda medsosnya sebuah notifikasi melayang masuk. Pesan dari Asisten Min.
Secara refleks ia menoleh ke arah dua nonanya di seberangnya. Ia harus menjaga agar mereka tidak melihatnya.
Penyamarannya tidak boleh ketahuan, bahkan jika harus menyamar selama hidupnya, ia harus bersikap profesional demi Tuannya.
Asisten Min: Laporan!
Arron: Kami di lokasi syuting dengan Nyonya sedang tidur di kursi santai dan Keti sedang sibuk bersama komputernya. Hari ini Nyonya tidak banyak bicara, kondisi hatinya sedang buruk!
Mungkin saat ini Tuannya sedang berpikir kacau. Ia tidak pernah melihat Tuannya bekerja dan menyempatkan diri mengurusi hal yang lain. Ia tahu bahwa keberangkatan mereka masih tersisia 15 menit sebelum mereka naik pesawat. Tapi Tuannya itu masih menyempatkan waktu mencari kabar tentang Nyonyanya. Tentu saja ini adalah pembuktian bahwa Tuannya telah benar-benar jatuh cinta pada Nyonya.
Deon merasa merinding membayangkan hal paling buruk yang akan terjadi bila perjalan Tuannya ini gagal. Paling buruk ialah kehilangan nyawa dan perediksi terbaik ialah pulang dalam kondisi cacat.
__ADS_1
Ia tidak pernah meremehkan kemampuan Tuannya dalam menangani masalah, tapi kali ini Tuannya sedang berurusan dengan Mafia Internasional. Hai itu berhubungan dengan pasar mereka yang di rebut hingga mau tidak mau Andra harus turun tangan langsung untuk menyelamatkan semua karyawan dibawah perusahaannya.
Meski Tuannya itu orang yang dingin dan kaku tapi ia adalah orang yang selalu memperhatikan kenyamanan pengikutnya. Ia akan ikut menderita jika bawahannya menderita dan selalu berpegang pada prinsip kejujuran.
Keadaan sudah mulai ramai dan Ken sudah sedikit terganggu dengan adanya suara berisik dari beberapa orang yang duduk saling becakap.
Ia mengerutkan keningnya dan bangun membuka matanya. Ia menyapu semua ruangan dengan tatapan dinginnya sebelum bangkit meraih naskahnya. Ia sudha cukup lelah denngan beban pikirannya karena Andra. Moodnya sangat buruk dan ia terlalu takut akan mempengaruhi daya kerjanya pada hari ini. "Sion, aku ingin kopi"
Deon segera berdiri mencari kopi untuk Ken. Begitu ia berada di dapur ia membuat 3 gelas, tapi kemudian beberapa oranh masuk dan tidak mengenalinya mulai bercerita.
"Ia sangat bermuka tebal. Ia masih bisa datang dengan sikap angkuh setelah melukai sala satu pemain kita"
"Kau benar, aku cukup menyukainya karena ia terlalu tampan dan menarik dari segi pesonanya, tapi aku tidak penah menyukai lelaki yang memakai kekerasan. Chito hanya berbaik hati untuk berbicara padanya beberapa kali, tapi ia membalasnya dengan begitu kejam"
__ADS_1
"Aku rasa ia bukan pria impian yang perlu kita kagumi"