
Mobil Geri berlalu dari rumah besar digantikan datangnya sebuah mobil hitam mewah milik Andra.
Asisten Min turun dari bangku depan dengan sebuah amplop di tangannya. "Slamat sore Nyonya Besar"
Merisa mengalihkan pandangannya dari mobil mewah milik Andra "Asisten Min, masuklah"
Di ruang keluarga.
"Saya kemari atas perintah Tuan Andra, ia ingin surat ini sampai ke tangan Nyonya Mia" Asisten Min memberikan amplop kecil pada Merisa.
Merisa memandang sekilas amplop itu, kepedihan dalam hatinya kembali muncul. Ia berusaha mengabaikannya dan menandang kembali Asisten Min "Bagaimana aku akan memberikannya? Sampai saat ini ia tidak mau berhubungan dengan siapa pun"
Asisten Min mengangguk mengerti. Mungkin saja surat yang sebelumnya ia berikan pada Mia belum terbaca. Sepertinya Mia terlalu takut untuk membukanya.
"Biar saya yang mengantarnya" Asisten Min meraih kembali amplop kecil itu dan berlulu ke arah pintu kamar Mia.
Suara musik yang keras masih terdengar dari dalam kamar itu. Asisten Min menatap pintu kayu sebentar sebelum membuka amplop ditangannya lalu mengulurkannya ke dalam kamar melalui lubang kecil dibawah pintu.
Ia kemudian berbalik meningalkan Kamar Mia .
__ADS_1
Merisa yang tinggal dibawah riang keluarga melihat Asisten Min turun langsung mendekatinya "Bgaimana?"
"Ia akan membacanya nanti. Saya masih ada urusna penting jadi saya pemisi" Asisten Min berjalan ke arah pintu luar menaiki sebuah mobil putih biasa.
...
Mia mengelesaikan acara mennagisnya setelah ia sudah merasa lebih tenang. Ditariknya laci meja rias dan menatap amplop dari Andra yang belum pernah ia buka.
Untuk membuka surat seperti otu Mia harus mengumpulkan keberaniannya selama berhari-hari. Tapi ketika ia membaca lagi tulisan di depan suratnya Mia kehilangan semua keberaniannya.
Pada akhirnya surat itu hanya kembali ke tempatnya dan Mia menatap dirinya sendiri pada pantulan cermin meja rias.
Beberapa saat tawanya meledak ia kembali murung dan berjalan mematikan musik yang ia putar. Setelah musik ini ia matikan ia berjanji tidak akan menangis lagi!
Mia menoleh ke arah gagang pintu. Entah kapan ia bisa meraih gagang pintunya dan keluar melihat dunia yang sedang menunggunya.
Dibawah lantai sebuah surat yang penuh tulisan terbentang menarik perhatiannya. Ia berjalan perlahan meraih surat itu.
'Ini adalah surat keduaku untukmu. Kamu akan menerimanya dari asisten Min setelah
__ADS_1
1 minggu kepulangannya'
Mia menitikkan air matanya membaca setiap kalimat. Ada begitu banyak kata di kertas itu dan semuanya menceritakan perasaan Andra.
Perasaan lelaki dingin itu ketika ia pertama kali menyadari perasaannya yang dingin sudah berubah hangat karena Mia.
Mia kembali ke meja rias dan mendapatkan surat pertama Andra. Selembar surat itu menceritakan bagaimana perasan Andra ketika mereka menikah sampai ketika ia merebut kesucian Mia.
Pada akhir paragraf kalimat penyemangat Andra tercantum dengan indah. Ia disuruh terus melanjutkan hidupnya dengan baik dan mendapatkan kebahagiannya sendiri.
Kebahagiaan apanya! Kebahagiannya sudah hilang bersama kepergian Andra. Mia menangis keras tak bisa menerima bagaimana suaminya itu memberinya mandat yang tak bisa ia lakukan.
Dimana ia akan mendapat kebahagiaan selain dari Andra. Hidupnya kini telah berputar entah bagaimana sehingga ia pun tak sanggup menghadapinya lagi.
Setelah pergumulannya yang panjang dan beberapa kali ia membaca surat itu ia akhinya memberanikan diri berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu secara perlahan.
Ia akan melakukan apa yang dikatakan Andra, melanjutkan hidupnya dengan baik. Sebaik yang ia bisa! Tapi mendapat kebahagiaannya, itu tidak mudah. Perlu waktu yang panjang! Bahkan seumur hidupnya!
Readers yang baik, jangan lupa mengetuk tombol 👍 dan memberi vote ⭐⭐⭐⭐⭐.
__ADS_1
Saran dan kritik yang di tingalkan pada kolom komentar akan sangat membantu author dalam menyempurnakan cerita di penulisan berikutnya.