Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 113


__ADS_3

Asisten Min membuka paksa pintu milik Mia dengan kunci serep karena sudah hampir tengah hari dan mereka harus kembali tapi Mia belum juga keluar dari kamarnya. Lagi pula ketika ia mencoba membuka pintu ia mendengar suara pecahan dari dalam tapi tidak ada yang menyahut ketika ia mencoba mencari tahu.


Ketiak ia melangkah masuk Mia masih berbaring diatas ranjang dengan wajah yang pucat dan bibir pecah, suhu badannya sangat tinggi namun Mia menggigil seperti kedinginan.


Asisten Min segera menambah selimut untuk Mia dan menelpon seorang dokter untuk memeriksanya.


Setelah diperiksa dan diberi infus Mia dipindahkan ke mobil dan dibawa kembali ke kota G.


Keti yang mendengar kabar bahwa Mia sedang sakit segera mendatangi Mia di rumahnya. Mia masih di infus dan tidak ada tanda-tanda akan bangun, dirinya masih tetap lelap dalam tidurnya.


Merisa ada disana juga menjaga Mia mereka berdua menunggu hingga Mia bangun dan menyadari situasi dengan cepat "Bu".

__ADS_1


Merisa merasa lega karena Mia sudah bangun dan masih mengenali mereka dengan cepat "jangan bicara dulu, kamu masih lemah" Merisa segera bangkit meraih air putih dan membantu Mia untuk minum. Mia makan bubur yang telah disediakan dan kembali tidur.


Ketika melihat Mia sudah tidur kembali Merisa mengajak Keti untuk segera pulang. Tentu saja Keti tidak mau meninggalkan Mia bersama Si kutub utara yang sedang bekerja di ruang kerjanya tapi ia tidak punya pilihan lain karena Merisa tidak mengijinkannya tinggal dan menganggu Mia beristirahat.


Ketika Mia bangun di pagi hari, ia merasa lebih baik. Keti ada disana dan membantunya membersihkan diri, makan dan mereka bercerita sepanjang hari.


Saat malam tiba Andra kembali ke rumah dengan dengan tatapan membunuh, ia langsung menuju kamar dan mendapati Mia bersama Keti sedang asik bercerita dan tertawa bersama.


Keti bahkan mengigil melihat mata kakaknya yang kini melihat ke arahnya mengancam dalam diam. Ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memili dan hanya mengikuti Asisten Min turun kebawa dan pulang kembali ke rumah. Ia merasa sangat cemas meningalkan Mia tapi ia juga tidak punya pilihan, lagi pula ia akan semakin membuat Mia berada dalam masalah jika tetap tinggal.


Kembali ke kamar besar dimana Mia masih ada diatas ranjang dengan gugup tak berani menadnag ke arah Andra.

__ADS_1


Andra mengetahui bahwa wanita di depannya sangat takut dan dengan senyum mencibir ia melangkah ke arah ranjang duduk dihadapan Mia. "Senang sekarang karena aku akan tinggal di sini bersamamu? Rencana yang bagus, bagaimana kau menyusun rencana ini dan mengadu ke Nenek?


Mia merasa gugup dan tak berani berucap sepata kata pun, ia sendiri tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Andra, lagi pula ia hanya diam dan tak pernah berhubungan dengan siapa pun kecuali Keti. Keti juga tidak mungkin mengatakan apa pun pada Nenek karena ia tahu Mia akan berada dalam masalah besar jika mulutnya terbuka walau hanya sedikit pun.


"Kau tak bisa menjawab? Bagus sekali semua sandiwaramu, kalau kau memang ingin memilikiku maka aku bisa mengabulkan permintaanmu" Tanpa aba-aba Andra menekan Mia ke bawah ranjang dan menatap mata indah yang selalu menghantuinya itu. Mata yang membuatnya semakin benci pada Mia hingga ia merasa jijik untuk menghirup udara yang sama dengan perempuan itu.


"A,, apa yang,," belum sempat juga Mia mengucapkan kalimatnya ia sudah dibungkam dengan paksa oleh bibir yang tak tahu diri hingga melawan pun tak ada gunanya.


Andra tersenyum puas bisa membuat wanita disampingnya menderita. Dengan tubuh telanjangnya ia berjalan dengan santai le arah kamar mandi dan membersihkan diri.


Mia sendiri masih berada dalam selimut membungkus diri, selesai sudah masa depannya. Apa lagi yang tersisa darinya, ia terikat oleh seorang ******** yang behati dingin dan kini ia sudah tak memiliki kegadisannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2