Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 223


__ADS_3

Geri memperhatikan istrinya dengan sangat teliti ketika Carri sedang menyusui anaknya.


Ia tidak bisa menghentikan ketegangan yang terpancar dari wajahnya. Di tangannya terpasang stopwatch.


Detik demi detik berlalu dan terasa begitu lambat ketika Geri sudah merasa terlalu sering melihat ke arah benda keras di tangannya.


Carri yang menjadi bingung karena suaminya tidak lagi berkata-kata menoleh ke arah Geri untuk memeriksa apa yang sedang dilakukan oleh orang itu. Ia memberikan tatapan heran ketika melihat suaminya terus memperhatikan stopwatch di tangannya. "Apa yang kau lakukan?"


Stopwatch itu masih menunjukkan sepuluh menit sebelum waktu habis. Sebelumnya ia telah mengatur agar istrinya hanya menyusui anaknya selama dua belas menit.


Geri menoleh ke arah istrinya ketika ia berkata dengan lesu "Aku sedang menghitung waktu menyusuimu, aku pikir akan terlalu lama jika kau menyusuinya selama lima belas menit sehingga aku mengaturnya untuk waktu dua belas menit saja. Akan lebih baik kalau cukup sepuluh menit dan bayi nakal itu sudah berhenti"


Carri ternganga ketika ia mendengar apa yang dikatakan suaminya.

__ADS_1


Namun wajah Carri yang seperti itu malah membuat Geri ingin menyantapnya dan menjadikannya satu dengan dirinya. Ia menunduk perlahan mencuri sebuah ciuman besar ketika ia kembali bergumam "Aku akan mengatur alaramnya untuk tiga jam sebelum kau kembali menyusui bayi kita. Pada waktu itu kau hanya perlu tidur dan beristirahat"


Carri kembali tersadar oleh ciuman dari suaminya. Ia melotot mendengar apa yang direncanakan suaminya ketika ia dengan kesal memalingkan wajah dan menatap bayi kecilnya yang sedang menyusu. "Aku tidak akan tidur, aku tidak lelah sama sekali" Ia masih ingin mengendong bayi mungilnya lebih lama.


"Kau tidak lelah?"


"Ya"


"Kau merasa sehat?"


"Ya"


"Ya"

__ADS_1


"Kalau begitu ada sesuatu yang lain yang perlu kau lakukan selama tiga jam itu"


"Apa itu?" Carri menatap suaminya dengan penasaran.


Geri tersenyum nakal ketika merangkul istrinya kedalam pelukannya sambil membelai kepala bayi kecil mereka "Membayar utangmu yang tertunda selama delapan bulan dua puluh tiga hari sebelas jam tiga puluh lima menit"


Carri merasa mengesampingkan rasa malunya dan menatap suaminya dengan tegas "Kau menghitungnya seperti itu?"


"Tentu saja! Aku sangat menderita bahwa tidak bisa meledak dalam dirimu selama waktu itu. Adalah keajaiban kalau aku masih bisa menahannya lebih lama saat tidak ada halangan lagi. Dan ku pikir saatnya telah tiba karena bayi nakal ini sudah lahir dan terpisah darimu. Tapi mengingat ia masih terus menganggumu untuk lebih banyak waktu kedepan, haruskah kita membawanya ke penitipan anak saja?" Geri berpikir bahwa ide itu ada baiknya. Istrinya tidak harus mengalami kelelahan yang berlebihan.


Disisi lain Carri merasa sangat murka. Bagaimana bisa suaminya menjadi tidak tahu malu seperti ini? Ia menyalahkan bayi mereka karena tidak bisa memuaskan dirinya. Lebih parah bahwa suaminya berpikir menyingkirkan anak mereka demi kesenangannya sendiri.


"Kau! Jangan berharap apa yang kau katakan menjadi kenyataan! Tunggu dan puasamu akan berlangsung selamanya mulai dari sekarang!" Carri bengkit berdiri ketika suaminya terkekeh dan menarik istrinya untuk kembali duduk di pangkaunnya.

__ADS_1


Carri belum selesai dengan amarahnya ketika Geri menyandarkan kepala istrinya dengan paksa ke dadanya. "Jangan berpikir berlebihan, bagaimana aku tega membiarkan anakku di asuh oleh orang asing? Aku hanya bercanda, lagi pula aku terlalu kewatir kau akan kelelahan. Aku terlalu takut kau akan jatuh sakit lagi seperti ketika kita pertama kali bertemu. Semua itu terus teebayang di pikiranku setiap kali melihatmu melakukan sesuatu yang berat" Mata Geri dipenuhi kepedihan saat mengingat kondisi istrinya ketika jatuh sakit.


__ADS_2