
"Apa yang akan kau masak dengan semua bahan ini" Keti memandangi meja dapur yang penuh dengan bahan masakan. yang telah di atur Mia dengan baik.
"Seseorang ingin diajari cara memasak" Mia berkata lesu sambil meninggalkan dapur untuk menunggu Wixel datang.
Kesialannya benar-benar tak berujung. Mengapa ia harus berjanji mengajari orang itu. Ia sudah cukup susah menahan diri ketika melihatnya, ini semua salah Wixel yang memiliki postur tubuh sangat mirip dengan Andra.
Ia tidak bisa berhenti memikirkan Andra ketika bersama dengan Wixel. Bisa-bisa ia akan gila kalau terus bertemu Wixel setiap hari.
"Siapa yang akan kau ajari?" Keti penasaran dengan orang itu.
Siapa Mia?
Hah dia adalah gadis yang tidak akan menghabiskan waktunya untuk hal konyol seperti itu. Ada banyak juru masak yang bisa di sewa untuk kursus memasak. Mengapa Mia harus repot-repot membuang waktunya demi orang itu.
"Wixel" Mia menjawab acuh.
Wixel?
Keti menganga kaget mendengar nama itu. Apa sekarang Mia sudah terpikat dengan Wixel hingga ia mau merepotkan dirinya?
Lalu mengapa pula orang kaya seperti Wixel mau belajar dari Mia. Bukankah hal kecil baginya untuk menyewa seorang juru masak terkenal?
Keti tidak bisa berpikir jernih. Ada kekacauan dalam masalah ini.
"Apa kau mulai tertarik dengan Wixel karena ia mirip Andra?" Keti bertanya dengan nada tidak percaya.
"Mengapa aku harus tertarik? Dia bukanlah suamiku" Kata Mia dengan ekspresi meremehkan Wixel.
Keti bernafas lega.
Huh!
Bukan suamiku.
Artinya Mia sama sekali tidak akan tertarik pada orang selain Andra. Itu memberinya ketenangan. Ia tidak terima jika Wixel memangkan hati Mia.
Mereka baru saja mengenal Wixel, dan tidak menutup kemungkinan orang itu bukanlah orang baik. Sangat berbahaya berurusan dengan orang kaya. Mereka banyak memiliki trik kotor demi mengalahkan musuhnya. Apa lagi dengan orang yang sudah berpengalaman seperti Wixel
"Kalau begitu, kau tidak akan tertarik pada siapa pun kecuali Andra kan?" Keti memastikan lagi apa yang ia pikirkan benar-benar kenyataan.
Anak bodoh ini, mengapa ia bertanya pada hal yang sudah pasti. Mia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan menjadi janda seumur hidupku" Mia meyakinkan Keti. Memang susah memiliki saudara yang sedikit bodoh.
"Oh baiklah" Keti bernafas lega.
Kalau Mia menjadi janda seumur hidup maka ia akan menjadi perawan tua juga.
Persetan dengan laki-laki! Mereka semua sulit mengerti perempuan. Mereka juga menyayangi dengan cara menyakiti!
...
Mia melirik jam tangannya. Sudah satu jam ia menunggu dan Wixel belum datang juga.
Akhirnya di tengah kekesalannya ponselnya berbunyi. Tertanda Tuan Wixel sedang memanggil.
Mia segera mengangkat telpon itu "Halo"
"Mengapa kau belum datang juga kemari, apa kau lupa janjimu?" Suara dari seberang telpon terdengar sedikit kesal.
Hah! Memang dia pikir dirinya sulit sehingga Mia harus kesana ketika yang minta tolong ialah dia?
Mia menghembuskan nafasnya dengan kasar agar emosinya tidak meluap untuk orang itu. Terlalu sulit menghadap Wixel karena ia memiliki peran penting demi menyokong perusahaannya.
"Aku rasa tidak baik jika kita hanya berdua saja, jadi sebaiknya belajar memasaknya di apartemenku saja" Mia menjelaskan dengan tenang.
Ia akan mengiyakan permintaan Mia. Lagi pula cepat atau lambat Mia sendirilah yang akan meminta mereka berduaan saja.
Ia mengakhiri telponnya dan bergegas ke rumah Mia.
...
Deon dan Keti duduk di ruang tengah memperhatikan kedua orang itu memasak.
Deonlah yang paling kesal diantara mereka. Ia tidak tahan melihat istri tuannya sedang berduaan bersama seorang lelaki asing.
Kalau saja bisa ia akan melenyapkan laki-laki itu hingga tidak dapat lagi mendekati Nyonya walau hanya memandang dari kejauhan.
Deon menelan kekelaman di matanya, ia tidak bisa bertindak sebarangan. Apa lagi Nonyanya sendiri yang membiarkan pria itu masuk kedalam rumahnya dengan suka rela.
"Aku ingin menebas leher seseorang!" Keti berbicara sambil memberikan tatapan membunuh pada Wixel.
Deon segera melirik Keti "Apa kau punya rencana?"
__ADS_1
Pandangan mereka bertemu dengan masing-masing ide gilanya.
"Ayo lakukan itu" Akhirnya mereka sepakat dengan sebuah rencana untuk menyingkirkan Wixel.
"Ketika akan memasak, hal pertama yang dilakukan ialah memakai celemek" Mia meraih sala satu celemek dan memperlihatkan cara memakainya pada Wixel.
Kemudian ia meraih lagi yang baru dan memberikannya pada Wixel "Cobalah"
Beberapa saat celemek itu melayang di udara. Tangan Wixel tidak kunjung meraihnya.
Sialan!!!
Lelaki ini menyuruhku memakaikannya juga? Mia merasa kesal. Ia tidak mungkin mau melakukannya.
Mia menarik kembali tangannya dan mengembalikan celemek itu ke tempatnya.
Wixel meraih celemek itu kembali "Kenapa kau mengembalikannya?" Wixel merasa kesal bahwa wanita itu tidak mau memakaikan celemek padanya. Bahkan dia mengembalikannya ke tempatnya dan mengakhiri pelajaran memasak mereka sebelum itu dimulai.
Mia memandang sinis pada pemuda itu, lagi pula ia tidak memiliki hak untuk terlalu hormat padanya. Ini bukanlah masa kerja jadi ia merasa lebih baik untuk bersikap apa pun pada lelaki di depannya. "Kau sendiri yang tidak mau memakainya. Jadi aku tidak akan memaksamu"
Wixel mengerutkan keningnya "Aku mau di pakaikan"
Mia melotot melihat pria itu berterus terang mengatakannya. "Aku disini adalah gurumu, jadi kau tidak bisa memerintahku... Cepat pakai celekmu!"
Wixel tidak pernah sekali pun di bentak karena semua orang menghormatinya meski pun ia masih muda. Tapi gadis di depannya ini dengan mudah membentak bahkan memerintahnya dengan kasar.
Tapi dititik mana ia seharusnya marah dan melenyapkan orang itu, ia tidak melakukannya. Wixel malah tersenyum dan dengan patuh memakai celemeknya sesuai instruksi yang diberikan Mia.
"Tidak usah tersenyum!" Mia melototi Wixel dan berbalik mencuci tangannya. "Kebersihan adalah yang paling penting dalam memasak. Kalau tangan yang mengerjakannya kotor maka makanan akan ikut terkontaminasi sehingga bukannya menjadi makanan sehat tapi malah menjadi sumber penyakit bagi yang mengkonsumsi"
Wixel memandang Mia dan berusaha mendekat sehingga dadanya tidak sengaja menabrak punggung Mia.
Sialan! Orang ini benar-benar mencari kesempatan. Mia tidak tahan lagi dan berbalik memaki Wixel. "Jangan mencari kesempatan untuk menyentuhku! Sekali lagi kau melakukannya pelajaran kita selesai di situ!"
Wixel hanya tersenyum pada Mia. Kucing kecilnya mulai belajar menggigit.
Orang ini terlalu gila! Bagaimana bisa ia tersenyum ketika Mia sedang marah. Jelas itu sangat di sengaja! Bahkan pria itu tidak berusaha minta maaf.
"Jangan tersenyum dan jangan menatapku!" Mia segera berpindah dan memberi ruang bagi Wixel untuk mencuci tangannya.
Deon dan Keti yang menyaksikannya hanya bisa ternganga melihatnya. Rencana mereka tidak usah dilaksanakan karena Mia sudah menyelesaikannya di pertemuan pertamanya dengan Wixel.
__ADS_1
Kehawatiran mereka pun adalah kesia-siaan yang tidak berarti untuk mereka pikirkan.